Gravitasi di dalam kelas perlahan kembali normal.
Beberapa siswa masih berusaha mengatur napas.
Gideon memegang meja dengan kedua tangan.
“Gua baru masuk kelas lima menit.”
Ia menatap Profesor Magnus Arkwright.
“Dan langsung disiksa.”
Magnus menatapnya datar.
“Kalau tekanan seperti itu sudah membuatmu mengeluh, kau perlu lebih banyak latihan.”
Gideon terdiam.
Lucian menahan senyum.
Valerine sudah kembali membuka buku catatannya.
Magnus berjalan ke depan kelas.
“Placement Test selesai. Mulai hari ini, kalian tidak lagi dinilai sebagai peserta ujian.”
Ia mengambil sebuah kristal kecil dari meja.
“Namun itu bukan berarti kalian berhenti diuji.”
Kristal tersebut melayang.
“Setiap pelajaran akan menguji sesuatu.”
Kristal berubah menjadi diagram.
MANA → AFFINITY → CONTROL → APPLICATION
“Banyak penyihir melakukan kesalahan yang sama.”
Magnus menunjuk kata Application.
“Mereka mempelajari mantra sebelum memahami tubuh mereka sendiri.”
Ia menunjuk Control.
“Padahal kekuatan tanpa kendali hanya menghasilkan kerusakan.”
Gideon mengangkat tangan.
Magnus menatapnya.
“Apa?”
“Kalau kekuatan dan kontrol sama-sama penting, kenapa Power Test tetap ada?”
“Karena penyihir dengan kontrol sempurna tetapi tidak memiliki daya cukup juga memiliki keterbatasan.”
Gideon mengangguk.
“Masuk akal.”
Magnus menatap seluruh kelas.
“Seorang penyihir yang baik bukan yang memiliki satu kemampuan luar biasa.”
“Melainkan seseorang yang tahu kapan menggunakan kemampuan tersebut.”
Lucian memperhatikan papan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia menyadari bahwa prinsip tersebut berlaku pada dirinya sendiri.
Solar Genesis.
Mana Lektatik Syndrome.
Dua hal yang membuat kekuatannya berbeda.
Ia tidak bisa bertarung seperti penyihir biasa.
Efisiensi bukan pilihan.
Efisiensi adalah kebutuhan.
---
Magnus mengangkat tangannya.
“Sekarang kita mulai latihan.”
Seluruh siswa berdiri.
Mereka dibawa ke area latihan kecil di belakang kelas.
Tidak ada target.
Tidak ada lawan.
Hanya sebuah kristal kecil untuk setiap siswa.
“Alirkan mana.”
Semua siswa mulai mengaktifkan Affinity masing-masing.
Api muncul.
Angin berputar.
Tanah bergerak.
Cahaya muncul.
Gideon mengalirkan Gravity ke kristalnya.
Kristal langsung bergetar.
“Jangan terlalu banyak.”
Magnus berjalan mendekat.
“Kontrol.”
Gideon mengurangi alirannya.
Getaran kristal perlahan stabil.
“Lebih baik.”
Di sisi lain, Valerine menggunakan Mirage.
Hanya sedikit cahaya.
Kristalnya hampir tidak bergerak.
Magnus mengangguk.
“Presisi bagus.”
Kemudian ia berjalan menuju Lucian.
“Eisenwald.”
Lucian menoleh.
“Ya, Profesor.”
“Solar.”
Lucian mengangkat tangannya.
Ia mulai mengalirkan mana.
Cahaya muncul.
Namun setelah beberapa detik—
Kristalnya bergetar.
Lucian langsung menghentikan aliran.
Magnus memperhatikan.
“Masalah?”
Lucian melihat kristal.
“Tidak.”
Magnus tidak langsung pergi.
“Jawabannya bukan 'tidak' kalau kristalnya bergetar.”
Lucian diam.
Ia tidak ingin menjelaskan Mana Lektatik Syndrome kepada seluruh kelas.
Namun Magnus bukan orang yang mudah dibohongi.
“Coba lagi.”
Lucian mengalirkan mana.
Kali ini lebih perlahan.
Kristal stabil.
Magnus mengangguk.
“Lebih baik.”
Ia kemudian berbalik.
“Tubuhmu membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan aliran mana.”
Lucian sedikit terkejut.
Magnus tidak melanjutkan pertanyaan.
“Kalau begitu, jangan memaksa.”
Lucian menatap punggung profesor itu.
Dia menyadarinya.
Namun Magnus tidak mencoba menggali lebih jauh.
Lucian tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
---
Setelah latihan pertama selesai, Magnus memberikan tugas.
“Selama satu minggu, kalian akan mencatat konsumsi mana setiap kali menggunakan Affinity.”
Beberapa siswa mengeluh.
“Ini latihan atau pekerjaan rumah?”
Magnus menjawab tanpa ekspresi.
“Keduanya.”
Gideon menghela napas.
“Akademi ini ternyata suka memberi kerja.”
Lucian tertawa kecil.
“Namanya juga akademi.”
Bel istirahat berbunyi.
Para siswa mulai keluar.
Gideon langsung menarik Lucian.
“Ayo makan.”
Valerine mengikuti.
Namun sebelum mereka keluar, Lucian melihat sesuatu di luar jendela.
Astra.
Griffin muda itu sedang berada di halaman Beast Garden.
Ia berjalan bersama seorang Beast Caretaker.
Sesekali Astra menoleh ke arah gedung kelas.
Lucian tersenyum.
“Dia kelihatannya mulai punya kegiatan sendiri.”
Valerine ikut melihat.
“Bagus.”
Gideon menyeringai.
“Berarti lu nggak perlu khawatir dia bosan.”
Lucian mengangguk.
“Ya.”
Mereka berjalan menuju kantin.
---
Di kantin, suasananya jauh lebih ramai.
Siswa dari berbagai kelas duduk bersama.
Ada yang membahas hasil Placement Test.
Ada yang membicarakan guru.
Ada yang sudah mulai mengeluh tentang tugas pertama.
Gideon mengambil makanan dalam jumlah cukup banyak.
Lucian menatap nampannya.
“Kau yakin bisa menghabiskan semuanya?”
“Bisa.”
“Berapa banyak?”
“Jangan meremehkan.”
Valerine duduk di seberang mereka.
“Kalian berdua baru satu hari di kelas dan sudah seperti siswa lama.”
Gideon tersenyum.
“Bukankah itu bagus?”
Lucian mengambil sendok.
“Kurasa iya.”
Mereka menikmati makan siang.
Tidak ada perang.
Tidak ada ujian.
Tidak ada monster.
Hanya tiga orang yang duduk bersama di sebuah kantin akademi.
Lucian sempat berpikir.
Aneh.
Dalam kehidupan pertamanya, hari-hari seperti ini hampir tidak pernah ada.
Ia selalu mengejar sesuatu.
Kekuatan.
Pengetahuan.
Status.
Jawaban.
Kini ia duduk bersama dua orang yang perlahan mulai ia anggap sebagai teman.
Dan untuk sesaat—
ia tidak merasa perlu mencari jawaban apa pun.
---
Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Sebuah suara terdengar dari meja sebelah.
“Eisenwald.”
Lucian menoleh.
Seorang gadis berdiri di sana.
Rambutnya tertata rapi.
Tatapannya tajam.
Seragamnya sempurna tanpa satu lipatan pun terlihat.
Lady Rosalind von Eisenach.
Gideon langsung memperhatikan.
Valerine menutup bukunya.
Rosalind memandang Lucian.
“Aku ingin berbicara mengenai tes kemarin.”
Lucian mengangkat alis.
“Silakan.”
“Aku memperhatikan Power Test-mu.”
Lucian diam.
“Kau mendapatkan A.”
“Benar.”
“Tapi output yang kau gunakan jelas tidak maksimal.”
Gideon menatap Lucian.
Rosalind melanjutkan.
“Kenapa?”
Lucian tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengambil gelasnya.
Meneguk sedikit.
Kemudian berkata,
“Karena aku tidak perlu menggunakan lebih banyak.”
Rosalind menyipitkan mata.
“Jawaban yang sederhana.”
“Memang.”
“Aku tidak menyukainya.”
Lucian menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena penyihir harus mengetahui batas kekuatannya.”
Rosalind melipat tangan.
“Jika kau terus menahan diri, bagaimana kau tahu seberapa jauh batasmu?”
Lucian tersenyum tipis.
“Kalau aku ingin mengetahui batasnya, aku akan mencarinya di tempat yang tepat.”
Rosalind terdiam.
Tatapan mereka bertemu.
Bukan permusuhan.
Belum.
Lebih seperti dua orang yang melihat dunia dengan cara berbeda.
Rosalind akhirnya berbalik.
“Kalau begitu, aku akan menunggu tempat yang tepat itu.”
Ia pergi.
Gideon menatap punggungnya.
“Dia ngajak ribut?”
Valerine menggeleng.
“Belum.”
Lucian tersenyum kecil.
“Dia hanya penasaran.”
“Dan lu?”
Lucian melihat makanan di depannya.
“Menurutku...”
Ia berhenti sebentar.
“Menarik.”
Gideon menghela napas.
“Kalimat andalan lu keluar lagi.”
Lucian tertawa.
Di luar jendela, Astra tiba-tiba mengepakkan sayap.
Hari pertama kelas belum berakhir.
Dan tanpa mereka sadari—
kehidupan akademi Lucian mulai dipenuhi orang-orang yang suatu hari nanti akan mengubah jalannya perjalanan.
Bukan sebagai musuh.
Bukan pula sebagai sekadar teman.
Melainkan sebagai bagian dari perjalanan yang belum selesai.