Chapter 49 of 53

Bab 49 — Kelas yang Baru

880 words

Pagi datang lebih cepat dari yang Lucian harapkan. Halaman utama Akademi Orion dipenuhi lima ratus siswa baru. Tidak ada lagi suasana santai seperti beberapa hari sebelumnya. Semua orang menunggu satu hal. Hasil Placement Test. Di depan gedung utama berdiri sebuah papan kristal raksasa. Namanya akan muncul satu per satu. Bersama enam hasil tes. Dan kelas yang akan menjadi tempat mereka belajar selama semester pertama. Gideon berdiri di samping Lucian sambil menatap papan itu. “Gua mulai deg-degan.” Lucian menoleh. “Kemarin kau bilang lebih takut kertas daripada perang.” “Benar.” “Sekarang?” “Sekarang gua takut keduanya.” Valerine berdiri di sisi lain. “Kau terlalu banyak bicara.” “Gua sedang mengurangi stres.” “Caranya?” “Berbicara.” Lucian tersenyum kecil. Lalu suara lonceng terdengar. TING— Seluruh halaman mendadak sunyi. Profesor Celestine berdiri di balkon gedung utama. “Lima hari lalu, kalian memasuki Placement Test sebagai lima ratus siswa baru.” “Enam tes telah dilaksanakan.” “Control.” “Power.” “Mobility.” “Casting Speed.” “Tactics.” “Written.” “Tidak ada satu pun hasil yang berdiri sendiri.” Papan kristal di belakangnya menyala. “Penempatan kelas mempertimbangkan keseluruhan kemampuan kalian.” Beberapa siswa menelan ludah. Celestine mengangkat tangan. “Daftar akan muncul berdasarkan kelas.” Papan berubah. Tujuh lambang muncul. Dragon. Behemoth. Hydra. Manticore. Gargoyle. Harpy. Goblin. “Pertama.” Celestine menatap seluruh siswa. “Dragon.” Papan mulai menampilkan nama. Satu. Dua. Tiga. Beberapa siswa bersorak ketika melihat nama mereka. Namun Lucian tidak langsung mencari namanya. Ia memperhatikan nama-nama yang muncul. Bukan hanya hasil. Ia ingin mengetahui siapa saja yang ditempatkan bersamanya. Nama-nama terus bertambah. Kemudian— Acheron Caelum Ravenhart. Beberapa siswa langsung berbisik. “Ravenhart?” “Mahkota Malam?” “Dia masuk Dragon?” Acheron berdiri tidak jauh dari kelompok siswa. Ekspresinya tidak berubah. Seekor gagak bertengger di pagar batu di belakangnya. Ia hanya melihat papan. “Begitu ya.” Nama berikutnya muncul. Lady Rosalind von Eisenach. Kali ini reaksi lebih besar. “Eisenach juga?” “Dua keluarga bangsawan besar di Dragon?” Rosalind berdiri tegak. Tidak tersenyum. Tatapannya hanya tertuju pada papan. Lalu— nama lain muncul. Lucian Fountayne Eisenwald. Halaman menjadi sedikit lebih ramai. “Eisenwald!” “Permata Biru masuk Dragon.” Gideon menatap papan. Kemudian melihat Lucian. “Lu masuk Dragon.” Lucian hanya mengangguk. Tidak terlihat terlalu terkejut. Namun tepat setelah itu— nama berikutnya muncul. Lord Gideon Cross. Gideon membeku. “...” Lucian menoleh. “Selamat.” Gideon menunjuk papan. “Gua masuk Dragon?” Valerine tersenyum tipis. “Sepertinya begitu.” Gideon langsung mengepalkan tangan. “YES!” Beberapa siswa menoleh karena teriakannya. Gideon buru-buru menurunkan tangannya. “Maaf.” Lucian tertawa kecil. Kemudian daftar berlanjut. Lady Valerine de Courcey. Valerine mengangguk pelan. “Dragon.” Lucian menatapnya. “Sepertinya kita bertiga satu kelas.” “Sepertinya.” Gideon menyeringai. “Berarti kita benar-benar satu tim sekarang.” Lucian menatapnya. “Akademi tidak pernah mengatakan kelompok ujian akan tetap bersama.” “Gua tahu.” Gideon menepuk bahu Lucian. “Tapi kita bisa tetap berteman.” Lucian terdiam sebentar. Kemudian tersenyum. “Ya.” --- Setelah daftar Dragon selesai, daftar Behemoth muncul. Kemudian Hydra. Manticore. Gargoyle. Harpy. Goblin. Siswa yang tidak mendapatkan kelas tinggi tidak otomatis dianggap gagal. Tidak ada ejekan. Setidaknya tidak secara resmi. Profesor Celestine bahkan menegaskan sebelum daftar terakhir selesai. “Jangan menganggap kelas sebagai batas kemampuan kalian.” “Placement Test hanya menggambarkan kemampuan kalian saat ini.” “Orion tidak menerima kalian agar kalian tetap sama.” Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih tenang. Lucian menyukai cara akademi menyampaikannya. Tidak ada janji kosong. Tidak ada juga anggapan bahwa seseorang sudah menentukan masa depannya hanya dari satu ujian. --- Setelah pengumuman selesai, para siswa Dragon diarahkan menuju gedung kelas masing-masing. Kelas mereka berada di lantai tiga gedung akademik. Pintu kayu besar terbuka. Di atasnya terdapat lambang naga. Lucian masuk bersama Gideon dan Valerine. Ruangan itu luas. Meja tersusun dalam beberapa baris. Di bagian depan terdapat papan kristal. Jendela besar menghadap halaman akademi. Dan di samping jendela— ada tiga kursi kosong. Gideon langsung mengambil salah satunya. “Gua duduk sini.” Valerine memilih tempat di sisi lain. Lucian mengambil kursi dekat jendela. Ia bisa melihat Beast Garden dari sana. Dan di antara pepohonan— seekor Griffin kecil terlihat sedang berjalan. Astra. Begitu melihat Lucian, Astra berhenti. Lucian tersenyum. Ia mengangkat tangan dari balik jendela. Astra mengepakkan sayapnya. Gideon melihat keluar. “Dia bisa lihat lu dari sini?” “Sepertinya.” “Hebat juga.” Valerine memperhatikan Astra. “Dia mulai terbiasa dengan Orion.” Lucian mengangguk. “Ya.” Bel masuk berbunyi. TING— Pintu kelas terbuka. Seorang pria besar dengan rambut mulai memutih masuk. Wajahnya serius. Langkahnya berat. Seluruh kelas langsung diam. Lucian mengenalinya. Professor Magnus Arkwright. Instruktur Combat. Magnus berdiri di depan kelas. “Selamat datang di Dragon.” Tidak ada senyum. “Kalau kalian mengira kelas ini berarti kalian sudah hebat...” Ia meletakkan sebuah buku tebal di meja. DUK. “...kalian salah.” Beberapa siswa menelan ludah. Magnus menatap seluruh ruangan. “Di sini tidak ada yang peduli kalian berasal dari keluarga mana.” Tatapannya berhenti sesaat pada beberapa siswa bangsawan. “Tidak ada yang peduli siapa orang tua kalian.” Kemudian ia melihat seluruh kelas lagi. “Yang kami pedulikan adalah apa yang kalian lakukan dengan kemampuan yang kalian miliki.” Lucian memperhatikan dengan tenang. Gideon menyeringai kecil. Valerine membuka buku catatannya. Magnus mengangkat tangan. “Pelajaran pertama kita sederhana.” Ia menunjuk papan kristal. CONTROL. “Kalian akan belajar bagaimana mengendalikan kekuatan sebelum mencoba memperbesarnya.” Beberapa siswa mengeluh pelan. Magnus langsung menatap mereka. “Dan bagi yang merasa sudah cukup hebat...” Gravitasi di seluruh ruangan tiba-tiba meningkat. BOOM. Beberapa siswa langsung terduduk. Gideon menahan meja. “W-Woi!” Lucian tetap duduk, meskipun tubuhnya ikut merasakan tekanan. Magnus berkata datar, “Selamat datang di Akademi Orion.” Di luar jendela, Astra mengepakkan sayapnya. Hari pertama kelas resmi dimulai. Dan untuk Lucian— kehidupan akademi yang sebenarnya akhirnya dimulai.

End of Chapter 49