Chapter 4 of 53
Bab 4 — Menjelang Upacara
775 words
Pagi di kediaman keluarga Eisenwald berjalan seperti biasanya.
Cahaya matahari menyelinap melalui jendela kamar Lucian, menerangi meja yang dipenuhi buku-buku.
Lucian duduk di sana dengan tenang, membaca sebuah buku tentang teori dasar mana.
Tangannya perlahan membalik halaman.
Sudah menjadi kebiasaan baginya.
Bangun, belajar, membaca, lalu menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Namun beberapa hari terakhir, ada satu hal yang terus muncul dalam pikirannya.
Upacara Kedewasaan Penyihir.
Usianya telah mencapai sepuluh tahun.
Dan sebentar lagi, ia akan mengetahui Affinity yang dimilikinya.
Tok. Tok.
Pintu kamarnya diketuk.
“Kak, sudah bangun?”
Lucian bahkan tidak perlu melihat untuk mengetahui siapa yang berada di balik pintu.
“Sudah.”
Pintu terbuka.
Clara muncul sambil tersenyum.
“Kak, dari tadi baca terus?”
“Ya.”
“Bosan nggak?”
“Belum.”
Clara berjalan mendekati meja dan melihat buku yang sedang dibaca Lucian.
“Mana lagi?”
“Teori dasar.”
Clara menghela napas.
“Kakak kalau bukan buku, pasti sihir.”
Lucian menutup bukunya.
“Bukankah itu hal yang bagus?”
“Bagus sih...”
Clara kemudian menarik tangan Lucian.
“Tapi sekarang keluar dulu.”
Lucian menatap tangannya yang ditarik.
“Aku belum selesai membaca.”
“Bisa dilanjut nanti.”
“Berapa lama?”
“Sebentar.”
Lucian tahu kata sebentar dari Clara biasanya tidak benar-benar sebentar.
Namun pada akhirnya ia tetap berdiri.
“Baiklah.”
Clara langsung tersenyum puas.
“Yeay!”
Saat sarapan, suasana keluarga Eisenwald terasa hangat seperti biasa.
Arthur duduk di ujung meja, sementara Eleanor berada di sisi lainnya.
Clara sibuk dengan makanannya.
Lucian makan dengan tenang.
Sampai akhirnya Arthur membuka pembicaraan.
“Lucian.”
“Ya, Ayah?”
“Upacaranya tinggal beberapa hari lagi.”
Lucian mengangguk.
“Aku tahu.”
Arthur tersenyum.
“Sudah mulai penasaran?”
“Sedikit.”
Clara langsung menyela.
“Bohong.”
Lucian menoleh.
“Kenapa?”
“Karena Kakak kalau penasaran pasti begini.”
Clara menirukan wajah serius Lucian.
Arthur langsung tertawa.
Eleanor ikut tersenyum.
Lucian hanya menghela napas.
“Aku tidak seperti itu.”
Clara menunjuk wajahnya.
“Persis.”
Lucian akhirnya ikut tertawa kecil.
Arthur kemudian berkata,
“Tidak perlu terlalu memikirkan hasilnya. Upacara itu hanya menunjukkan Affinity yang sudah ada di dalam dirimu.”
“Jadi Resonance Crystal hanya membacanya?”
“Kurang lebih begitu.”
Lucian mengangguk pelan.
Ia sudah membaca beberapa hal mengenai ritual tersebut.
Pada usia sepuluh tahun, anak-anak yang memiliki kemampuan menggunakan mana akan menjalani Upacara Kedewasaan Penyihir.
Mereka akan menyentuh sebuah Resonance Crystal.
Kristal tersebut kemudian merespons mana mereka dan memperlihatkan Affinity yang mereka miliki.
Sederhana.
Namun bagi Lucian, hal itu cukup menarik.
Karena ada satu pertanyaan yang belum bisa ia jawab.
Apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya?
Siang harinya, Lucian kembali ke perpustakaan.
Kali ini ia sengaja mencari buku-buku mengenai Affinity.
Satu demi satu ia buka.
Api.
Air.
Angin.
Tanah.
Dan berbagai Affinity lainnya.
Beberapa mudah dipahami.
Beberapa jauh lebih rumit.
Lucian membaca penjelasan mengenai bagaimana setiap Affinity memiliki karakteristik berbeda.
Namun tidak ada satu pun yang bisa memberinya jawaban mengenai Affinity miliknya.
Ia bersandar di kursinya.
“Tidak ada gunanya menebak.”
Lucian menutup buku.
Ia sudah memiliki pengalaman hidup sebagai Aurelius.
Ia tahu bahwa pengetahuan tidak selalu mampu memberikan jawaban sebelum seseorang melihat kenyataannya sendiri.
Jadi kali ini ia memilih menunggu.
Besok atau lusa, ia akan mengetahui jawabannya.
Untuk sementara, ia hanya bisa penasaran.
Menjelang sore, persiapan untuk upacara mulai dilakukan.
Pakaian Lucian telah disiapkan oleh Elise.
Jubah berwarna biru gelap dengan aksen emas tipis.
Detail putih keperakan menghiasi beberapa bagian pakaian.
Tidak terlalu mencolok, tetapi tetap menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga Eisenwald.
Di bagian kerah kanan terdapat lambang kecil keluarga mereka.
Seekor elang dengan mata biru.
Lucian memperhatikan pakaian itu beberapa saat.
“Sudah selesai, Tuan Lucian.”
Elise berdiri di belakangnya.
“Terima kasih.”
“Apakah ada yang ingin Tuan ubah?”
Lucian menggeleng.
“Tidak perlu.”
Dari belakang, Clara tiba-tiba muncul.
“Kak Cian!”
Lucian menoleh.
Clara memandang pakaiannya dari atas sampai bawah.
“Bagus.”
“Terima kasih.”
“Tapi...”
Clara mendekat.
“Kenapa harus pakai warna gelap terus?”
“Karena itu warna keluarga kita.”
“Oh.”
Clara mengangguk seolah baru mengingatnya.
Kemudian ia menunjuk lambang di kerah Lucian.
“Ini juga?”
“Ya.”
Clara tersenyum.
“Bagus.”
Lucian mengangguk kecil.
Malam tiba.
Rumah mulai tenang.
Lucian berada di kamarnya.
Pakaian untuk upacara telah disiapkan.
Perlengkapannya juga sudah lengkap.
Tidak ada lagi yang perlu ia persiapkan.
Ia berdiri di dekat jendela dan memandang langit malam.
Tidak ada jawaban di sana.
Tidak ada tanda mengenai apa yang akan terjadi besok.
Hanya langit yang luas dan bintang-bintang yang bersinar jauh di atas sana.
Lucian terdiam beberapa saat.
Ia kemudian tersenyum tipis.
“Besok...”
Ia menarik napas.
“Aku akan tahu.”
Apa pun yang muncul dari Resonance Crystal nanti, itu akan menjadi bagian dari kehidupan yang sedang ia jalani sekarang.
Lucian tidak tahu seperti apa Affinity yang akan dimilikinya.
Ia juga tidak tahu ke mana jalan itu akan membawanya.
Namun justru itulah yang membuatnya penasaran.
Ia menutup tirai jendela.
Kemudian mematikan lampu kamarnya.
Besok pagi, untuk pertama kalinya dalam hidup keduanya...
Lucian Eisenwald akan berhadapan dengan sebuah jawaban yang belum pernah ia ketahui.
Dan ia siap menemukannya.