Chapter 48 of 53
Bab 48 — Ujian Terakhir
882 words
Pagi berikutnya, Akademi Orion terasa lebih sunyi.
Tidak ada arena.
Tidak ada simulasi.
Tidak ada suara benturan sihir.
Lima ratus siswa duduk di ruang ujian yang telah disiapkan khusus untuk Written Test.
Di atas setiap meja hanya terdapat pena, beberapa lembar kertas kosong, dan sebuah kristal kecil untuk menjaga integritas ujian.
Lucian duduk di tempatnya.
Di sebelahnya, Gideon menatap lembar soal yang masih tertutup.
Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dibandingkan ketika menghadapi puluhan siswa dalam simulasi kemarin.
“Lucian.”
“Hmm?”
“Kalau gua gagal karena soal ini, jangan bilang siapa-siapa.”
Lucian menoleh.
“Bukankah hasilnya akan diumumkan?”
“Justru itu masalahnya.”
Valerine yang duduk di belakang mereka menghela napas.
“Gideon, kau belum melihat soalnya.”
“Justru karena belum lihat gua takut.”
Lucian tersenyum kecil.
“Setidaknya kau jujur.”
Sebelum percakapan berlanjut, pintu ruangan terbuka.
Profesor Celestine masuk bersama beberapa pengawas.
Ia berdiri di depan kelas.
“Written Test adalah bagian terakhir dari Placement Test.”
Semua siswa langsung diam.
“Materi tidak hanya berasal dari teori dasar sihir.”
Beberapa siswa saling pandang.
“Ujian mencakup struktur mana, Affinity, sejarah sihir, Magic Beast, Magic Monster, Tamer, Magic Weapon, artefak, dasar-dasar rune, serta pengetahuan umum mengenai dunia sihir.”
Gideon menelan ludah.
“...Mati gua.”
Lucian menahan tawa.
Celestine melanjutkan.
“Waktu kalian dua jam.”
Ia mengangkat tangannya.
“Mulai.”
Kristal di setiap meja menyala.
Lembar soal dibuka.
Ruangan langsung sunyi.
---
Lucian membaca soal pertama.
Jelaskan hubungan antara Mana, Affinity, dan tubuh seorang penyihir.
Ia berhenti sejenak.
Pertanyaan sederhana.
Namun jawabannya tidak cukup hanya dengan definisi.
Ia menulis.
Mana adalah energi yang mengalir dalam tubuh dan menjadi medium bagi Affinity. Affinity menentukan bentuk dan karakteristik mana yang dapat digunakan oleh seseorang. Tubuh menjadi wadah yang memungkinkan mana dan Affinity berinteraksi secara stabil.
Lucian berhenti.
Benar.
Ia lanjut ke soal berikutnya.
Apa perbedaan utama antara Magic Beast dan Magic Monster?
Ia menulis tanpa kesulitan.
Magic Beast dapat membentuk kontrak dengan manusia atau ras tertentu, memiliki kemungkinan berevolusi, dan dapat membangun hubungan dengan pemiliknya. Magic Monster merupakan makhluk liar yang tidak berada dalam sistem kontrak dan memiliki perilaku serta tingkat kecerdasan yang beragam.
Lucian melanjutkan.
Pertanyaan ketiga tentang Tamer.
Keempat tentang Mana Circle.
Kelima tentang Magic Weapon.
Keenam tentang rune.
Semuanya masih berada dalam wilayah yang ia pahami.
Namun kemudian—
Lucian menemukan soal yang membuatnya berhenti.
Mengapa Affinity Unique tidak dapat memiliki Secondary Affinity? Jelaskan berdasarkan mekanisme mana.
Lucian membaca sekali.
Kemudian sekali lagi.
Ia tersenyum tipis.
Pertanyaan yang bagus.
Ia mulai menulis.
---
Di sisi lain ruangan, Gideon menatap soal nomor tujuh.
“...”
Ia memegang pena.
Kemudian melihat soal.
Melihat langit-langit.
Kembali melihat soal.
“Kenapa gravitasi bukan termasuk elemen?”
Pengawas menoleh.
“Dilarang berbicara.”
Gideon langsung menutup mulut.
Valerine di sisi lain terlihat jauh lebih tenang.
Tangannya terus bergerak.
Ia menyelesaikan satu soal demi satu.
---
Waktu berjalan.
Satu jam.
Satu setengah jam.
Semakin banyak siswa mulai gelisah.
Namun Lucian tetap tenang.
Ia sampai pada bagian terakhir.
Analisis kasus.
Sebuah skenario diberikan.
Seorang penyihir dengan mana terbatas harus mempertahankan sebuah desa dari serangan Magic Monster.
Monster memiliki kekuatan lebih besar.
Tidak ada bantuan dari penyihir lain.
Pertanyaannya:
Bagaimana cara mempertahankan desa tanpa membunuh monster tersebut jika memungkinkan?
Lucian terdiam.
Ia membaca kasus itu beberapa kali.
Kemudian menulis.
Pertama, identifikasi alasan monster menyerang.
Jika serangan dipicu oleh wilayah, makanan, perlindungan anak, atau faktor lingkungan, maka menghilangkan pemicunya lebih baik daripada langsung menyerang.
Jika monster tetap menyerang, gunakan penghalang untuk memisahkan monster dari penduduk.
Gunakan medan untuk mengarahkan pergerakannya.
Serangan hanya menjadi pilihan terakhir jika keselamatan manusia tidak dapat dipertahankan dengan cara lain.
Lucian meletakkan pena sebentar.
Jawaban itu mengingatkannya pada sesuatu.
Makhluk hidup tidak selalu menyerang karena mereka jahat.
Terkadang mereka hanya tidak memiliki pilihan lain.
Ia kembali menulis.
---
Dua jam berlalu.
Kristal berbunyi.
“Waktu habis.”
Seluruh pena berhenti.
Para pengawas mengumpulkan lembar jawaban.
Gideon bersandar di kursinya.
“Gua masih hidup.”
Valerine menatapnya.
“Itu standar yang rendah.”
“Yang penting hidup.”
Lucian tertawa kecil.
Ketika mereka keluar ruangan, Astra sudah menunggu di halaman.
Begitu melihat Lucian, Griffin muda itu langsung berlari.
Lucian berjongkok.
Astra menabrakkan kepalanya ke dada Lucian.
“Sudah selesai.”
Astra mengepakkan sayap.
Gideon melihat mereka.
“Dia kayaknya lebih peduli sama lu daripada hasil ujian.”
Lucian mengusap kepala Astra.
“Tidak ada salahnya.”
Valerine berdiri di samping mereka.
“Sekarang kita hanya perlu menunggu hasil.”
---
Malam itu, para siswa menerima pesan bahwa hasil Placement Test akan diumumkan keesokan paginya.
Lima hari.
Enam tes.
Ratusan peserta.
Dan satu penempatan kelas.
Lucian berdiri di balkon asrama sambil memandang langit malam.
Astra duduk di lantai di sampingnya.
Angin malam melewati rambut Lucian.
Ia memikirkan kembali semua tes.
Control.
Power.
Mobility.
Casting Speed.
Tactics.
Written.
Ia tidak tahu hasil akhirnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Orion—
Lucian menyadari bahwa ia tidak terlalu peduli dengan kelas apa yang akan ia dapatkan.
Yang ia inginkan bukanlah berada di kelas tertinggi.
Ia hanya ingin menemukan tempat yang membuatnya bisa terus berkembang.
Astra mengeluarkan suara kecil.
Lucian menoleh.
“Kenapa?”
Astra menunjuk ke langit dengan kepalanya.
Lucian mengikuti arah pandangnya.
Bintang-bintang memenuhi malam.
Ia terdiam.
Entah kenapa, melihat langit selalu membuat sesuatu di dalam dirinya bergerak.
Sebuah rasa familiar yang tidak bisa dijelaskan.
Lucian tersenyum.
“Selama langit masih ada...”
Ia menatap bintang-bintang.
“...maka aku akan terus punya alasan untuk bertanya tentang apa yang ada.”
Astra duduk di sampingnya.
Malam berlalu.
Dan esok pagi—
lima ratus siswa akan mengetahui tempat mereka di Akademi Orion.
Placement Test akhirnya akan berakhir.