Chapter 47 of 53
Bab 47 — Permainan di Balik Medan
1.2k words
Pintu besi menuju gedung simulasi tertutup perlahan terbuka.
Grrrrrk...
Lima puluh siswa dari kelompok Lucian memasuki ruangan.
Berbeda dari arena sebelumnya, tempat ini tidak memiliki tribun.
Tidak ada penonton.
Tidak ada kristal pengukur.
Hanya sebuah ruangan luas dengan lantai batu dan dinding tinggi.
Di bagian tengah terdapat sebuah meja panjang.
Di atasnya tersusun berbagai benda.
Batu mana.
Bendera kecil.
Potongan kayu.
Beberapa senjata latihan.
Dan sebuah peta.
Profesor Edmund Vale berdiri di depan meja.
Mantan perwira militer itu menatap seluruh peserta dengan ekspresi serius.
“Tes Tactics dimulai sekarang.”
Ia mengangkat sebuah kristal kecil.
Dalam sekejap, seluruh ruangan berubah.
Dinding menghilang.
Lantai berubah menjadi tanah.
Pepohonan muncul.
Bukit terbentuk.
Sebuah sungai membelah medan.
Dalam beberapa detik, mereka berada di tengah sebuah hutan yang terasa nyata.
Beberapa siswa langsung terkejut.
Gideon melihat sekeliling.
“Ilusi?”
Valerine menyentuh tanah.
“Bukan sekadar ilusi.”
Lucian memperhatikan pepohonan.
“Simulasi ruang.”
Edmund mengangguk.
“Benar.”
Ia kemudian menjelaskan aturan.
“Setiap kelompok terdiri dari lima orang.”
Beberapa siswa langsung saling mencari.
“Di hadapan kalian terdapat tiga titik.”
Sebuah peta muncul di udara.
Markas sendiri.
Desa sipil.
Benteng lawan.
“Tujuan kalian bukan menghancurkan benteng.”
Beberapa siswa terlihat bingung.
“Tujuan kalian adalah memastikan desa tetap aman, mempertahankan markas, dan mengambil bendera dari benteng lawan.”
Seorang siswa bertanya,
“Jadi kami harus menyerang sekaligus bertahan?”
“Benar.”
“Berapa banyak lawan?”
Edmund tersenyum tipis.
“Tidak akan kami beri tahu.”
Suasana langsung berubah.
“Dan satu hal lagi.”
Edmund menunjuk desa.
“Jika kalian menghancurkan desa dalam prosesnya, nilai kalian akan turun.”
Lucian langsung memperhatikan peta.
Jadi kekuatan bukan jawaban.
Mereka harus menentukan prioritas.
Edmund melanjutkan.
“Kalian memiliki waktu tiga puluh menit.”
“Setiap kelompok mendapatkan jumlah sumber daya yang sama.”
“Gunakan apa yang tersedia.”
“Dan ingat.”
Tatapannya menyapu seluruh siswa.
“Dalam perang, kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan lawan.”
Kemudian—
DUUM!
Sebuah suara terdengar.
Simulasi dimulai.
---
Lucian berada dalam kelompok yang sama dengan Gideon dan Valerine.
Dua siswa lain berdiri di depan mereka.
Seorang pemuda berambut cokelat bernama Leonard dan seorang gadis berambut pendek bernama Mira.
Mereka langsung melihat peta.
“Serang benteng?”
Leonard menunjuk jalur utara.
“Kalau kita bergerak cepat, kita bisa mengambil bendera sebelum lawan siap.”
Gideon menggeleng.
“Kalau semua pergi, markas kosong.”
“Bukankah kita bisa kembali?”
Valerine menunjuk desa.
“Dan desa?”
Leonard terdiam.
Lucian mengambil batu mana dari meja.
“Jangan bergerak dulu.”
Semua menoleh.
Lucian menunjuk peta.
“Kita belum tahu posisi lawan.”
Gideon mengangguk.
“Jadi?”
“Kita cari informasi.”
Lucian mengambil tiga bendera kecil.
“Gideon.”
“Ya?”
“Jaga markas bersama Mira.”
Gideon mengangguk.
“Valerine, kau ikut denganku.”
Leonard terlihat bingung.
“Lalu gua?”
Lucian menunjuk jalur menuju desa.
“Kau ke desa.”
Leonard mengerutkan kening.
“Sendirian?”
“Bawa dua batu mana.”
“Untuk apa?”
“Kalau ada serangan, gunakan sebagai sinyal.”
Leonard masih ragu.
Namun akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Kelompok itu bergerak.
---
Lucian dan Valerine berjalan menuju bukit.
Mereka tidak langsung menuju benteng.
Sebaliknya, Lucian memilih posisi tinggi.
Dari sana seluruh medan terlihat.
Sungai.
Desa.
Benteng.
Markas.
Dan—
sebuah gerakan.
Valerine menyipitkan mata.
“Di sana.”
Tiga bayangan bergerak di antara pepohonan.
Lucian mengangguk.
“Lima orang.”
“Lima?”
“Dua lainnya berada di belakang.”
Valerine menggunakan Mirage.
Sebuah pantulan tipis muncul di udara.
“Enam.”
Lucian tersenyum kecil.
“Menarik.”
Valerine menatapnya.
“Kenapa?”
“Mereka sengaja memperlihatkan tiga orang.”
Lucian menunjuk sungai.
“Yang lain sedang memutar.”
Valerine langsung memahami.
“Target mereka markas.”
“Ya.”
Mereka tidak mengejar.
Lucian justru mengambil salah satu batu mana.
Kemudian meletakkannya di tanah.
Valerine bertanya,
“Apa itu?”
“Penanda.”
Ia membuat sebuah rune kecil.
Tidak cukup kuat untuk menyerang.
Hanya mendeteksi pergerakan.
“Kalau mereka melewati sini, kita akan tahu.”
Valerine mengangguk.
“Kau tidak berniat menyerang?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Lucian memandang medan.
“Karena kita belum tahu seluruh pola mereka.”
---
Sementara itu, di markas—
Gideon mendengar suara.
Crack.
Sebuah batu kecil di tanah menyala.
Gideon langsung berdiri.
“Datang.”
Mira melihat ke arah hutan.
“Ada berapa?”
Gideon menggenggam gauntlet-nya.
“Belum tahu.”
Ia tersenyum.
“Tapi kalau mereka mau datang...”
Gravity mulai berdenyut di sekeliling tubuhnya.
“...mereka harus melewati gua dulu.”
---
Pertempuran pertama pecah.
Bukan di benteng.
Bukan di desa.
Tetapi di antara pepohonan menuju markas.
Gideon menghadapi tiga siswa sekaligus.
BOOM!
Satu serangan gravitasi menghantam tanah.
Dua lawan terpental.
Mira memasang penghalang.
Namun tiga orang itu bukan tujuan sebenarnya.
Dua lainnya muncul dari sisi lain.
Gideon menyadarinya terlambat.
“Dua lagi!”
Salah satu lawan berlari melewati mereka.
Menuju markas.
Tetapi tepat ketika ia hendak melewati garis—
TING.
Sebuah rune menyala.
Lucian dan Valerine telah menandainya.
“Sekarang.”
Valerine mengangkat tangan.
Mirage memenuhi jalur.
Tiga jalan palsu muncul.
Lawan berhenti.
“Yang mana?!”
Dalam sepersekian detik kebingungan itu—
Gideon muncul.
BOOM!
Satu pukulan menghentikan mereka.
---
Namun Lucian tidak langsung merasa lega.
Ia melihat benteng lawan.
Bendera masih berdiri.
Tidak ada yang menjaga.
Terlalu mudah.
“Valerine.”
“Ya?”
“Serangan ke markas tadi hanya pengalih.”
Valerine memahami.
“Mereka ingin kita mengira pertahanan mereka terbuka.”
Lucian mengangguk.
Kemudian terdengar suara dari arah desa.
BOOM!
Lucian langsung menoleh.
Asap muncul di kejauhan.
Desa diserang.
“Leonard!”
Mereka berdua berlari.
Ketika tiba, beberapa siswa lawan sedang bergerak menuju pusat desa.
Leonard mencoba bertahan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.
Lucian melihat situasinya.
Ada dua pilihan.
Mengejar lawan.
Atau melindungi desa.
Ia memilih yang kedua.
Lucian mengangkat tangan.
Solar Genesis muncul.
Namun kali ini ia tidak menembakkannya kepada lawan.
Ia mengarahkannya ke tanah.
Cahaya menyebar.
Sebuah penghalang terbentuk di antara desa dan medan pertempuran.
Para siswa lawan berhenti.
Mereka tidak bisa melewati.
Valerine langsung menggunakan Mirage untuk menciptakan beberapa bayangan di belakang mereka.
Lawan mengira mereka telah dikepung.
Mereka mundur.
Edmund memperhatikan dari ruang pengawas.
Tidak ada ekspresi di wajahnya.
Namun tangannya berhenti menulis.
Lucian tidak mengejar lawan.
Ia memilih mempertahankan objek yang harus dilindungi.
Bukan kemenangan tercepat.
Melainkan kemenangan yang memenuhi tujuan.
---
Waktu tersisa lima menit.
Lucian melihat peta.
“Gideon.”
“Ya?”
“Bisa bertahan?”
Gideon tersenyum.
“Selama mereka datang.”
“Bagus.”
Lucian menatap Valerine.
“Kita ambil benderanya.”
Mereka bergerak.
Bukan melalui jalan utama.
Mereka mengikuti sungai.
Mendaki sisi bukit.
Menghindari patroli.
Kemudian mencapai benteng.
Tidak ada perlawanan.
Lucian mengambil bendera.
Satu menit tersisa.
Mereka berlari kembali.
Ketika sampai di garis markas—
bel berbunyi.
Tes selesai.
Seluruh simulasi menghilang.
Hutan lenyap.
Lantai batu kembali muncul.
Lima puluh siswa berdiri di ruangan dalam keadaan kelelahan.
Profesor Edmund Vale berjalan maju.
“Tidak ada kelompok yang benar-benar menang.”
Beberapa siswa tampak bingung.
“Karena tes ini bukan mencari siapa yang paling kuat.”
Ia melihat ke arah kelompok Lucian.
“Yang kami nilai adalah bagaimana kalian mengambil keputusan ketika informasi tidak lengkap.”
Tatapannya kemudian beralih kepada seluruh peserta.
“Beberapa kelompok mengambil bendera tetapi membiarkan markas mereka kosong.”
“Beberapa mempertahankan markas tetapi mengabaikan desa.”
“Beberapa menyerang lawan tanpa memahami posisi mereka.”
Ia berhenti.
“Dan ada kelompok yang memilih mempertahankan tiga tujuan sekaligus dengan membagi sumber daya.”
Gideon melirik Lucian.
Lucian hanya diam.
Edmund tidak mengumumkan nilai.
Hasil resmi akan diberikan bersama keseluruhan Placement Test.
Namun sebelum para siswa keluar, ia berkata,
“Besok adalah tes terakhir.”
Written Test.
Gideon langsung pucat.
“...Gua lebih takut yang ini.”
Valerine menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena musuhnya kertas.”
Lucian tertawa kecil.
Astra yang menunggu di luar aula mengeluarkan suara keras ketika melihat mereka keluar.
Lucian menghampirinya dan mengusap kepalanya.
“Besok terakhir.”
Astra menatapnya.
Lucian tersenyum.
“Setelah itu kita benar-benar mulai menjadi siswa Orion.”
Di kejauhan, Acheron berjalan melewati halaman.
Seekor gagak bertengger di bahunya.
Ia berhenti sejenak.
Menatap Lucian.
Kemudian berkata pelan—
“Begitu ya.”
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
Placement Test belum selesai.
Namun satu hal mulai jelas bagi sebagian siswa Orion.
Lucian Eisenwald bukan penyihir yang mencari kemenangan dengan kekuatan terbesar.
Ia mencari jalan yang paling tepat untuk mencapai tujuannya.
Dan besok—
kemampuan itu akan diuji melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Selembar kertas.