Chapter 46 of 53
Bab 46 — Kecepatan Sebuah Mantra
759 words
Hari kedua Placement Test dimulai lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya.
Tidak ada lagi lima ratus siswa yang berkumpul di arena.
Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan diarahkan menuju aula khusus di bagian timur Akademi Orion.
Ruangan itu berbeda dari aula utama.
Tidak ada target.
Tidak ada lintasan.
Hanya puluhan lingkaran sihir yang tersusun rapi di lantai.
Di tengah ruangan berdiri Profesor Eveline Ashcroft.
“Dua tes berikutnya akan menguji sesuatu yang berbeda.”
Ia menunjuk lingkaran di depan para siswa.
“Casting Speed.”
Beberapa siswa langsung memperhatikan.
“Kecepatan kalian dalam mengaktifkan dan melepaskan mantra akan dicatat.”
Seorang siswa mengangkat tangan.
“Apakah kekuatan mantra ikut diperhitungkan?”
“Tidak secara langsung.”
Eveline menjawab tegas.
“Power sudah diuji kemarin.”
Ia menunjuk kristal kecil di atas setiap lingkaran.
“Yang kami ukur adalah waktu sejak kalian menerima instruksi sampai mantra berhasil terbentuk dan dilepaskan.”
Lucian mengangguk.
Jadi bukan seberapa kuat.
Melainkan seberapa cepat seseorang dapat mengubah niat menjadi sihir.
Itu menarik.
---
Tes dimulai.
Peserta pertama mendapatkan instruksi sederhana.
Fireball.
“Mulai.”
Lingkaran menyala.
FWOOSH!
Api terbentuk.
Waktu dicatat.
B.
Peserta berikutnya menggunakan Water Magic.
Kemudian Wind.
Earth.
Lightning.
Satu demi satu.
Ada siswa yang memiliki mantra kuat tetapi membutuhkan waktu lama.
Ada pula yang menghasilkan mantra sederhana dalam waktu sangat singkat.
Hasilnya beragam.
Ketika giliran Gideon tiba, ia berdiri di tengah lingkaran.
Instruksi diberikan.
“Barrier.”
Gideon langsung mengangkat tangannya.
BOOM!
Lapisan gravitasi terbentuk di depannya.
Cepat.
Namun tidak sempurna.
A.
Gideon kembali ke tempatnya.
“Lumayan.”
Lucian mengangguk.
“Cukup cepat.”
“Cukup?”
“Ya.”
Gideon menatapnya.
“Lu tahu nggak kalau suatu hari gua bakal mukul lu?”
“Dengan kecepatan casting seperti tadi?”
“...Jangan menghina.”
Valerine menahan tawa.
---
Giliran Valerine.
Instruksinya berbeda.
“Mirage.”
Valerine tidak mengucapkan mantra.
Ia hanya mengangkat dua jari.
Cahaya tipis muncul.
Dalam waktu sangat singkat, tiga bayangan dirinya muncul di sekitar lingkaran.
S.
Beberapa siswa langsung menoleh.
Valerine kembali ke tempatnya.
Gideon berbisik,
“Dia dapat S.”
Lucian mengangguk.
“Memang cepat.”
Valerine menoleh.
“Tidak perlu terlihat terkejut.”
“Aku tidak terkejut.”
“Kau terlihat seperti itu.”
“Wajahku memang seperti ini.”
Gideon langsung tertawa.
---
Kemudian—
“Lucian Fountayne Eisenwald.”
Lucian maju.
Instruksinya muncul pada kristal.
Solar Genesis — bentuk bebas.
Lucian terdiam.
Ia menatap tulisan tersebut.
Jadi mereka ingin melihat kecepatan casting berdasarkan Affinity masing-masing.
Tidak ada masalah.
Namun ada satu hal yang harus ia pertimbangkan.
Solar Genesis bukan sihir sederhana.
Solar dan Star harus mengalir bersama.
Jika terlalu cepat—
ketidakseimbangan dapat terjadi.
Lucian menarik napas.
Ia mengangkat tangan.
Tidak menggunakan tongkat.
Tidak menggunakan lingkaran besar.
Hanya posisi sederhana.
👉🏻
Cahaya muncul di ujung jarinya.
Kecil.
Padat.
Stabil.
Kemudian—
PSSHT.
Mantra dilepaskan.
Kristal mencatat waktunya.
Ruangan hening.
Salah satu penguji melihat hasil.
“Grade... A.”
Lucian mengangguk.
Tidak terlalu cepat.
Tidak terlalu lambat.
Sesuai dengan batas yang ia tentukan sendiri.
Gideon menatapnya.
“Lu sengaja memperlambat?”
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Kalau terlalu cepat, alirannya bisa tidak stabil.”
Valerine langsung memahami.
“Solar Genesis.”
Lucian mengangguk.
“Ya.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Tidak ada alasan untuk menjelaskan rahasia yang bahkan sebagian besar orang di Orion belum tahu.
---
Tes berlanjut.
Beberapa peserta mendapatkan S.
Sebagian mendapatkan A dan B.
Namun perhatian beberapa penguji justru tertuju pada satu hal.
Lucian memiliki kontrol tinggi, tetapi kecepatan casting-nya tidak berada pada tingkat tertinggi.
Padahal jika seseorang hanya melihat hasil akhirnya, Solar Genesis tampak seperti kemampuan yang membutuhkan persiapan lebih panjang.
Mereka mencatatnya.
Tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
---
Setelah sesi selesai, para siswa diberi waktu istirahat.
Lucian duduk di bawah pohon di halaman samping.
Astra langsung menghampirinya.
Griffin muda itu menjatuhkan diri di samping Lucian.
“Capek?”
Astra menguap.
Lucian tersenyum.
“Kau juga?”
Astra menaruh kepalanya di paha Lucian.
Lucian mengusap bulunya.
Gideon datang membawa dua botol minuman.
“Ini.”
Lucian menerima salah satunya.
“Terima kasih.”
Gideon duduk.
Valerine ikut duduk di sisi lain.
Mereka bertiga menikmati suasana selama beberapa menit.
Tidak ada ujian.
Tidak ada tekanan.
Hanya angin sore.
Lucian memandang Astra.
“Bagaimana Beast Garden?”
Astra mengangkat kepala.
Gideon tertawa.
“Dia nanya ke Griffin.”
“Siapa tahu dia jawab.”
Astra mengeluarkan suara pendek.
Lucian mengangguk serius.
“Begitu rupanya.”
Gideon menatapnya.
“Lu ngerti?”
“Tidak.”
“...”
Valerine akhirnya tertawa kecil.
---
Bel berikutnya berbunyi.
Waktu istirahat selesai.
Para siswa diarahkan menuju gedung lain.
Lucian berdiri.
Namun sebelum pergi, ia menatap langit sejenak.
Besok adalah tes terakhir.
Tetapi hari ini masih ada satu ujian lagi.
Tactics.
Dan berbeda dari tes sebelumnya—
kali ini tidak akan ada kristal yang bisa mengukur semuanya.
Mereka akan ditempatkan dalam sebuah medan simulasi.
Tidak ada yang diberitahu bentuk ujiannya.
Tidak ada yang tahu lawannya.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dinilai.
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Di belakangnya, Astra mengepakkan sayap.
Dan mereka berjalan menuju gedung simulasi.
Tes kelima akan dimulai.