Arena luar Akademi Orion dipenuhi lima ratus siswa.
Tidak seperti tes Power yang hanya membutuhkan satu serangan, Mobility Test memiliki lintasan yang panjang dan penuh jebakan.
Di sepanjang lintasan terdapat beberapa bagian berbeda.
Jalur tanah.
Dinding vertikal.
Platform bergerak.
Lorong sempit.
Dan beberapa zona yang mengubah gravitasi.
Profesor Eveline Ashcroft berdiri di depan garis awal.
“Kecepatan bukan satu-satunya yang kami ukur.”
Ia menunjuk lintasan.
“Kalian akan dinilai berdasarkan kemampuan bergerak, mengubah arah, mempertahankan keseimbangan, dan beradaptasi terhadap perubahan medan.”
Gideon mengangkat tangan.
“Kalau jatuh?”
“Bangun dan lanjutkan.”
“Kalau patah tulang?”
“Ke klinik.”
Gideon menurunkan tangannya.
“Jawaban yang sangat Orion.”
Lucian tertawa kecil.
Valerine hanya menggeleng.
Para peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
Bukan perlombaan langsung.
Setiap peserta mendapatkan waktu masing-masing agar hasilnya dapat diukur secara individual.
---
Kelompok pertama dimulai.
Seorang siswa langsung menggunakan Wind Magic untuk meningkatkan kecepatannya.
Ia melesat melewati lintasan pertama.
Namun ketika memasuki zona gravitasi terbalik—
WHAM!
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh ke jaring pengaman.
“Gagal di bagian adaptasi.”
Catatan penguji langsung ditulis.
Peserta berikutnya mencoba menggunakan kekuatan fisik.
Ada yang memanjat dinding.
Ada yang melompat dari satu platform ke platform lain.
Ada yang menggunakan sihir untuk mempercepat gerakan.
Setiap orang mempunyai cara sendiri.
Lucian memperhatikan semuanya.
Bukan untuk meniru.
Melainkan untuk memahami pola lintasan.
Platform ketiga bergerak setiap empat detik.
Zona gravitasi berlangsung sekitar enam detik.
Dinding kedua memiliki rune pengurang gesekan.
Lorong terakhir terlalu sempit untuk menggunakan gerakan besar.
Informasi tersebut tersimpan di kepalanya.
Gideon melihatnya.
“Lu dari tadi ngeliatin apa?”
“Lintasannya.”
“Bukannya tinggal lari?”
Lucian menoleh.
“Kalau kau hanya berlari, kau akan mengikuti lintasan.”
Ia menunjuk beberapa bagian.
“Kalau kau memahami lintasan, kau bisa memilih bagaimana melewatinya.”
Gideon terdiam.
“...Kadang gua lupa kalau otak lu juga senjata.”
Valerine tersenyum kecil.
“Bukan hanya kadang.”
---
“Gideon Cross.”
Gideon maju.
Begitu sinyal diberikan—
BOOM!
Ia melesat.
Bukan dengan kecepatan luar biasa.
Namun setiap langkahnya kuat dan stabil.
Dinding pertama dilewati dengan lompatan.
Platform bergerak dihantam dengan satu langkah.
Ketika memasuki zona gravitasi berat, Gideon menyalurkan Gravity Magic ke tubuhnya sendiri.
Bukan untuk membuat dirinya lebih berat.
Justru sebaliknya.
Ia mengurangi efek gravitasi terhadap tubuhnya.
Gerakannya menjadi lebih ringan.
Beberapa siswa bersorak.
Gideon akhirnya melewati garis akhir.
Waktu dicatat.
Grade: A.
Gideon tersenyum puas.
“Lumayan.”
Lucian mengangguk.
“Cocok dengan gaya bertarungmu.”
---
“Valerine de Courcey.”
Valerine memasuki lintasan.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Tidak ada ledakan.
Mirage muncul di sekitar tubuhnya.
Bukan untuk menciptakan klon yang sekadar mengecoh penguji.
Valerine menggunakannya untuk membaca jarak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tubuhnya berpindah.
Kemudian sebuah platform bergerak mendekat.
Valerine menunggu.
Tidak terburu-buru.
Saat platform berada pada posisi yang tepat—
ia melompat.
Tubuhnya mendarat sempurna.
Salah satu penguji mencatat sesuatu.
“Dia tidak bergerak cepat.”
Penguji lain menjawab,
“Tapi dia hampir tidak pernah melakukan gerakan yang sia-sia.”
Valerine menyelesaikan lintasan.
Grade: A.
Ia kembali ke tempat semula.
Gideon menatapnya.
“Gua mulai curiga kalian berdua punya kebiasaan yang sama.”
Lucian bertanya,
“Apa?”
“Sama-sama mikir terlalu banyak.”
Valerine menjawab tenang,
“Dan kau terlalu sedikit.”
“HEI.”
Lucian tertawa kecil.
---
Kemudian terdengar suara dari pengeras suara.
“Lucian Fountayne Eisenwald.”
Lucian berjalan ke garis awal.
Astra terlihat dari kejauhan.
Ia berada di area khusus di luar arena bersama beberapa penjaga dan pengawas Beast Garden.
Griffin muda itu mengamati Lucian.
Lucian menoleh sebentar.
Kemudian mengangkat dua jari.
Sebuah isyarat kecil.
Aku baik-baik saja.
Astra mengepakkan sayapnya.
Lucian kembali menghadap lintasan.
BEEP!
Ia bergerak.
Langkah pertama biasa saja.
Langkah kedua sedikit lebih cepat.
Ketika mendekati dinding—
Lucian tidak melompat langsung.
Ia menginjak sisi dinding.
Memanfaatkan dorongan kecil dari mana.
Tubuhnya terangkat.
Tangannya menyentuh bagian atas.
Kemudian ia mendarat.
Tidak ada sihir besar.
Hanya efisiensi.
Platform bergerak mendekat.
Lucian tidak menunggu platform berhenti.
Ia menghitung waktunya.
Tiga.
Dua.
Satu.
Melompat.
Mendarat.
Berputar.
Lanjut.
Ketika memasuki zona gravitasi berat, langkah Lucian melambat.
Tubuhnya memang bukan yang terkuat.
Mana Lektatik Syndrome juga membuat penggunaan mana harus diperhitungkan.
Ia tidak memaksa.
Sebaliknya—
ia menunggu.
Gravitasi berubah.
Pada saat efeknya berkurang sedikit, Lucian bergerak.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Kemudian melewati zona tersebut.
Beberapa siswa mulai memperhatikan.
Lucian bukan yang tercepat.
Namun ia tidak melakukan kesalahan.
Tidak ada gerakan yang terbuang.
Tidak ada mana yang dikeluarkan tanpa alasan.
Sampai akhirnya—
lorong sempit terakhir.
Lebarnya hanya cukup untuk satu orang.
Lucian melihat dinding di kedua sisinya.
Ia tersenyum tipis.
“Menarik.”
Ia menurunkan tubuh.
Kemudian menggunakan kedua sisi lorong sebagai pijakan.
Kaki kiri.
Kaki kanan.
Dorongan.
Berpindah.
Dorongan.
Berpindah.
Dalam beberapa detik, tubuhnya melesat keluar dari lorong.
Dan—
melewati garis akhir.
Waktu tercatat.
Para penguji melihat hasil.
Kemudian salah satu dari mereka membacakan.
“Grade: A.”
Gideon mengangkat alis.
“Lu bahkan nggak dapat S?”
Lucian menggeleng.
“Tidak perlu.”
Valerine memperhatikan Lucian.
“Kau sengaja tidak menggunakan Solar Genesis.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Lucian melihat telapak tangannya.
“Karena kemampuan bergerak bukan tentang seberapa besar kekuatan yang bisa kau gunakan.”
Ia menatap arena.
“Kalau setiap masalah harus diselesaikan dengan kekuatan terbesar, maka tubuhmu sendiri akan menjadi kelemahan.”
Valerine terdiam.
Gideon tersenyum.
“Masuk akal.”
Dari sisi arena, seorang pemuda yang sejak tadi berdiri cukup jauh memperhatikan percakapan mereka.
Acheron.
Seekor gagak hinggap di bahunya.
Tatapannya tetap dingin.
“Dia benar-benar tidak menggunakan kekuatannya untuk mengejar nilai.”
Acheron mengusap kepala gagak itu.
“Begitu ya.”
---
Menjelang sore, tiga tes pertama akhirnya selesai.
Control.
Power.
Mobility.
Lucian mendapatkan:
A — A — A.
Gideon:
B — A — A.
Valerine:
A — B — A.
Namun mereka belum mengetahui hasil peserta lain secara lengkap.
Dan belum ada yang tahu bagaimana keenam atribut itu akan digabungkan.
Mereka masih memiliki tiga tes.
Casting Speed.
Tactics.
Dan terakhir—
Written Test.
Ketika para siswa meninggalkan arena, Astra berlari kecil menghampiri Lucian.
Griffin muda itu langsung menyenggol kaki Lucian dengan kepalanya.
Lucian tersenyum.
“Sudah menunggu?”
Astra mengeluarkan suara kecil.
Gideon menatapnya.
“Dia lebih cepat nyari lu daripada gua nyari makanan.”
Valerine menjawab,
“Itu karena dia tidak tahu kantin.”
Gideon terdiam.
“...Kita harus mengajarinya.”
Lucian tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak masuk Orion—
hari akademik terasa seperti kehidupan biasa.
Namun tiga ujian berikutnya menunggu.
Dan di antara keenam tes itu, Tactics mungkin akan menjadi ujian yang paling menarik.
Karena kali ini—
bukan kekuatan Lucian yang akan diuji.
Melainkan cara berpikirnya.