Chapter 44 of 53

Bab 44 — Seberapa Besar Kekuatanmu?

751 words

Kristal-kristal penguji di aula perlahan meredup setelah tes pertama selesai. Satu per satu hasil dicatat oleh para penguji. Beberapa siswa terlihat lega. Sebagian lainnya justru tampak kecewa. Namun tidak ada banyak waktu untuk memikirkan hasil masing-masing. Profesor Celestine mengangkat tangannya. “Tes kedua.” Enam kristal besar di belakangnya berubah warna. Rune yang sebelumnya digunakan untuk mengukur kestabilan mana kini berubah menjadi rangkaian baru. Di tengah aula, sebuah kristal transparan setinggi hampir dua meter muncul dari lantai. Celestine menjelaskan, “Power Test.” Beberapa siswa langsung terlihat lebih serius. “Tes ini mengukur besarnya energi magis yang dapat kalian keluarkan dalam satu serangan terkendali.” Gideon menyeringai. “Nah, ini baru bagian gua.” Lucian menoleh. “Bukankah tadi kau mengeluh?” “Itu sebelum tahu ada tes kekuatan.” Valerine menghela napas. “Setidaknya jangan menghancurkan gedung.” “Gua tahu.” Lucian tersenyum kecil. “Justru aku khawatir kau tidak tahu.” “...” Gideon terdiam. “Lucian, kau makin lama makin mirip adikku.” “Berarti adikmu cukup masuk akal.” “Dia justru sering bikin masalah.” “Begitu.” Valerine menahan senyum. --- Para peserta mulai dipanggil. Metodenya sederhana. Setiap siswa berdiri di depan kristal dan melepaskan satu serangan menggunakan kemampuan terbaik mereka tanpa bantuan artefak eksternal. Kristal kemudian mengukur energi yang diterima. Seorang siswa menggunakan api. C. Siswa berikutnya menggunakan angin. B. Kemudian seorang pemuda maju dan menghantam kristal dengan lapisan tanah padat. Kristal bergetar cukup keras. A. Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa sudut. Lalu— “Gideon Cross.” Gideon berjalan maju. Ia melepas sarung tangan kanannya. Gauntlet yang menjadi senjata andalannya memperlihatkan beberapa garis rune. Ia menarik napas. Gravity mengalir. Tanah di bawah kakinya retak tipis. BOOM! Tinju Gideon menghantam kristal. Gelombang tekanan menyebar. Kristal bergetar hebat. Beberapa siswa mundur refleks. Namun tidak pecah. Rune pengukur menyala. A. Gideon mengangkat alis. “Cuma A?” Profesor Celestine menatapnya datar. “Kristalnya masih utuh. Itu sudah cukup baik.” Beberapa siswa tertawa. Gideon kembali ke tempatnya. “Gua merasa diremehkan.” Lucian menepuk bahunya. “Setidaknya gedungnya masih berdiri.” --- Beberapa peserta kemudian menunjukkan hasil yang lebih tinggi. Ada yang mencapai S. Ketika nilai itu muncul, beberapa siswa langsung berbisik. “S?” “Sudah ada yang dapat S?” “Siapa dia?” Lucian hanya memperhatikan. Ia tidak tertarik mengejar reaksi orang lain. Namun kemudian namanya kembali terdengar. “Lucian Fountayne Eisenwald.” Aula kembali sedikit lebih sunyi. Lucian berjalan ke depan. Ia berdiri di hadapan kristal. Tidak ada tongkat. Tidak ada artefak. Hanya dirinya. Dan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Solar Genesis. Namun ia tidak mungkin mengeluarkan kekuatan penuh. Mana Lektatik Syndrome membuat konsumsi mana miliknya dua kali lipat. Selain itu, Solar Genesis memiliki risiko yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya pahami. Jika aliran Solar dan Star tidak seimbang— Supernova Risk. Lucian menatap kristal. Tidak perlu menggunakan kekuatan terbesar. Ia mengangkat satu tangan. Telunjuk dan ibu jarinya membentuk posisi sederhana. 👉🏻 Cahaya muncul. Bukan bola energi besar. Bukan ledakan. Hanya titik cahaya kecil di ujung jarinya. Beberapa siswa mulai bingung. “Cuma itu?” Lucian menarik napas. Kemudian— FWOOM. Titik cahaya tersebut ditembakkan. DUUM! Kristal bergetar keras. Gelombang tekanan menghantam seluruh aula. Beberapa rambut siswa bergerak tertiup energi. Rune pengaman menyala. Kristal berhenti bergetar. Hasil muncul. A. Tidak ada suara. Lucian menatap hasil tersebut. Kemudian mengangguk. Cukup. Ia memang bisa memaksa output lebih tinggi. Namun itu hanya akan membuang mana. Dan ia tidak datang ke Orion untuk membuktikan bahwa dirinya mampu menghancurkan sesuatu. Ia datang untuk belajar. Saat Lucian kembali ke tempatnya, Gideon berbisik, “Lu sengaja menahan diri?” Lucian tidak langsung menjawab. “Menurutmu?” Gideon menyipitkan mata. “Gua kenal ekspresi itu.” Valerine ikut memandang Lucian. “Kau tidak menggunakan seluruh kemampuanmu.” Lucian tersenyum tipis. “Tidak ada alasan untuk melakukannya.” Di sisi lain aula, seseorang memperhatikan Lucian tanpa mengatakan apa-apa. Seorang pemuda berambut hitam dengan tatapan dingin. Acheron Caelum Ravenhart. Beberapa burung gagak bertengger di jendela aula. Acheron menatap kristal yang baru saja diuji Lucian. “Begitu ya.” Ia tidak tersenyum. Tidak pula terlihat kagum. Namun matanya menunjukkan satu hal. Ia sedang menghitung. Bukan seberapa besar kekuatan Lucian. Melainkan— seberapa banyak kekuatan yang sengaja tidak ia tunjukkan. --- Tes berikutnya dimulai. Mobility. Kali ini seluruh peserta dibawa menuju arena luar. Lintasan sepanjang beberapa ratus meter sudah dipenuhi rune. Dinding penghalang berdiri di beberapa bagian. Ada rintangan vertikal. Ada jalur sempit. Ada platform yang bergerak. Dan beberapa area memiliki gravitasi berbeda. Gideon melihat lintasan itu. “...Ini bukan tes lari biasa.” Valerine mengangguk. “Jelas tidak.” Lucian memandang arena. Kemudian ia tersenyum tipis. “Menarik.” Di kejauhan, dari balik pagar arena, Astra tiba-tiba mengepakkan sayapnya. Seolah mengetahui bahwa pemiliknya sedang memasuki ujian berikutnya. Lucian menoleh sebentar. Tatapan mereka bertemu. Astra mengeluarkan suara kecil. Lucian mengangkat tangannya. Lalu berbalik menuju garis start. Tes ketiga akan dimulai.

End of Chapter 44