Chapter 43 of 53
Bab 43 — Hari Pertama yang Sebenarnya
927 words
Pagi pertama sebagai siswa resmi Akademi Orion terasa berbeda.
Bukan karena gedung-gedungnya berubah.
Bukan pula karena langit di atas akademi tiba-tiba menjadi lebih cerah.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Lucian Fountayne Eisenwald berjalan melewati gerbang utama dengan status yang berbeda.
Bukan lagi peserta ujian.
Bukan lagi seseorang yang hanya memiliki tiket untuk mencoba masuk.
Kini ia adalah siswa Akademi Orion.
Lucian berjalan santai melewati halaman utama dengan seragam akademi berwarna gelap yang baru diterimanya sehari sebelumnya. Lambang Orion terpasang di bagian dada.
Di sampingnya, Gideon berjalan sambil menguap.
“Gua masih belum terbiasa bangun sepagi ini.”
Lucian meliriknya.
“Bukankah kita memang sudah bangun pagi selama ujian?”
“Itu beda.”
“Bedanya?”
“Waktu ujian, kita bangun karena takut mati.”
Lucian terdiam beberapa detik.
“...Alasan yang cukup masuk akal.”
Gideon tertawa kecil.
Di belakang mereka, Valerine berjalan dengan langkah tenang.
“Jika kalian sudah selesai membahas kebiasaan tidur, sebaiknya kalian melihat ke depan.”
Lucian mengikuti arah pandang Valerine.
Di depan gedung utama, ratusan siswa baru berkumpul.
Hari ini adalah hari pertama Placement Test.
Bukan ujian masuk.
Bukan pula penentuan apakah mereka diterima atau tidak.
Semua yang berdiri di halaman itu sudah menjadi siswa Orion.
Yang akan ditentukan sekarang adalah bagaimana mereka memulai kehidupan akademik mereka.
Lucian mengamati papan besar di depan aula.
Enam kategori tertulis di sana.
CONTROL
POWER
MOBILITY
CASTING SPEED
TACTICS
WRITTEN
Di bawahnya terdapat tujuh tingkatan nilai.
F — E — D — C — B — A — S
Gideon membaca semuanya lalu menghela napas.
“Enam tes.”
Valerine mengangguk.
“Dan kemungkinan besar setiap tes memiliki metode berbeda.”
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Sebuah suara kecil terdengar dari belakang.
“Lucian!”
Lucian menoleh.
Seekor makhluk berbulu berdiri di dekat pagar halaman.
Tubuhnya masih relatif kecil untuk ukuran Griffin dewasa. Bulu tubuhnya didominasi warna terang dengan bagian sayap yang lebih gelap. Kepalanya menyerupai perpaduan antara elang dan singa muda.
Astra.
Lucian tersenyum.
“Kau sudah datang.”
Astra mengepakkan sayap kecilnya dan berjalan mendekat.
Gideon menatapnya beberapa detik.
“Jadi ini Astra?”
“Ya.”
Gideon berjongkok.
“Halo.”
Astra memiringkan kepalanya.
Gideon mengulurkan tangan.
Astra mencium tangannya.
Lalu—
Hap.
Astra menggigit ringan sarung tangan Gideon.
“WOI!”
Valerine menutup mulutnya, menahan tawa.
Lucian hanya menghela napas.
“Dia masih belajar membedakan benda yang boleh dimakan.”
“Gua bukan makanan!”
Astra melepaskan sarung tangan itu dan duduk dengan ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa.
Lucian mengusap kepalanya.
“Kau tetap di sini, ya. Setelah tes selesai kita bertemu lagi.”
Astra mengeluarkan suara kecil.
Ia memang tidak bisa mengikuti Lucian ke semua tempat.
Sebagai Magic Beast yang telah memiliki kontrak, Astra diperbolehkan berada di area tertentu akademi, tetapi ruang ujian tetap memiliki batasan.
Sebelum Lucian pergi, Astra menyentuhkan kepalanya sebentar ke tangan Lucian.
Kemudian ia mundur.
“Jaga diri.”
Astra mengepakkan sayapnya dan pergi bersama pengawas khusus menuju area Beast Garden.
Lucian memandangnya sesaat.
Kemudian kembali berjalan.
---
Aula utama Orion jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.
Lima ratus siswa memenuhi ruangan.
Di depan mereka berdiri Profesor Celestine Virell.
Di belakangnya terdapat enam kristal besar yang masing-masing terhubung dengan rangkaian rune.
“Placement Test bukanlah kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling kuat.”
Suara Celestine terdengar jelas ke seluruh aula.
“Setiap orang memiliki kemampuan berbeda.”
Ia menunjuk enam kristal.
“Karena itu, kami tidak hanya mengukur kekuatan.”
“Kontrol.”
“Power.”
“Mobilitas.”
“Kecepatan casting.”
“Taktik.”
“Dan kemampuan tertulis.”
Beberapa siswa mulai berbisik.
Celestine melanjutkan.
“Hasil kalian akan menentukan penempatan kelas.”
Di belakangnya muncul tujuh lambang.
Seekor naga.
Behemoth.
Hydra.
Manticore.
Gargoyle.
Harpy.
Goblin.
“Jangan salah memahami sistem ini.”
Nada suara Celestine menjadi lebih serius.
“Kelas bukanlah gelar kehormatan.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kelas adalah lingkungan belajar. Kalian akan ditempatkan bersama siswa yang memiliki kebutuhan pembelajaran yang kurang lebih serupa.”
Lucian memperhatikan lambang-lambang itu.
Bukan soal siapa yang lebih hebat.
Setidaknya secara resmi.
Namun ia tahu sesuatu.
Dalam sebuah akademi seperti Orion, angka tetap memiliki pengaruh.
Dan ia ingin melihat seberapa jauh tubuh barunya mampu membawa pengetahuan dari kehidupan sebelumnya.
Terutama dengan satu masalah yang selalu mengikutinya.
Mana Lektatik Syndrome.
Dua kali konsumsi mana.
Itu berarti dalam tes yang mengukur jumlah output, tubuhnya mungkin berada pada posisi yang tidak menguntungkan.
Lucian menatap tangannya.
“Kalau begitu...”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku harus menggunakan apa yang kupunya seefisien mungkin.”
---
Tes pertama adalah Control.
Para siswa dipanggil satu per satu menuju lingkaran rune.
Tugasnya sederhana.
Mengalirkan mana melalui tiga kristal tanpa merusak kestabilannya.
Semakin stabil aliran mana, semakin tinggi hasilnya.
Satu per satu siswa maju.
Beberapa mendapatkan C.
Sebagian B.
Ada pula yang memperoleh A.
Kemudian nama Lucian terdengar.
“Lucian Fountayne Eisenwald.”
Beberapa kepala langsung menoleh.
Nama Eisenwald sudah cukup dikenal.
Lucian berjalan ke tengah lingkaran.
Ia meletakkan tangan di atas kristal.
Tarik napas.
Mana mengalir.
Perlahan.
Tidak terburu-buru.
Kristal pertama menyala.
Rune kedua aktif.
Kristal ketiga—
bergetar.
Lucian langsung menyesuaikan alirannya.
Bukan dengan meningkatkan kekuatan.
Justru dengan mengurangi mana.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Getaran berhenti.
Para penguji memperhatikan.
Celestine mengangkat alis.
Lucian melanjutkan.
Aliran mana berpindah dari satu kristal ke kristal lain dengan ketepatan hampir sempurna.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada cahaya berlebihan.
Tidak ada gerakan spektakuler.
Hanya aliran mana yang sangat stabil.
Beberapa detik kemudian, seluruh kristal menyala bersamaan.
Hasil: A.
Lucian membuka mata.
Ia mundur.
Gideon tersenyum.
“Lumayan.”
Valerine mengangguk.
“Kontrolmu sangat bagus.”
Lucian hanya tersenyum tipis.
“Belum selesai.”
Karena ia tahu—
Control hanyalah permulaan.
Di luar aula, seekor Griffin muda berdiri di atas dahan pohon.
Astra mengamati gedung tempat Lucian berada.
Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan manusia di dalam sana.
Tetapi ia tahu satu hal.
Pemilik kontraknya ada di sana.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—
Astra memiliki tempat baru untuk tumbuh bersama Lucian.
Sementara di dalam aula, kristal berikutnya mulai menyala.
Tes kedua akan segera dimulai.
Power.