Hari terakhir orientasi tiba.
Untuk pertama kalinya sejak mereka diterima di Akademi Orion, Lucian, Gideon, dan Valerine tidak berjalan menuju gedung kelas, laboratorium, atau fasilitas latihan.
Mereka menuju tempat yang akan mereka tinggali setiap hari.
Asrama Orion.
Bangunannya terdiri dari beberapa sayap yang terhubung dengan aula utama.
Tidak terlalu mewah.
Namun cukup besar untuk menampung ratusan siswa.
Dinding batu berwarna krem, jendela-jendela tinggi, dan beberapa tanaman merambat membuat bangunan itu terasa lebih seperti rumah besar daripada fasilitas akademi.
Gideon memandang ke atas.
“Lumayan.”
Valerine mengangguk.
“Setidaknya tidak terlihat seperti penjara.”
Lucian tersenyum.
“Pendapat yang sangat penting.”
---
Pintu utama terbuka.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depan mereka.
Rambutnya sudah dihiasi beberapa helai uban.
Pakainnya sederhana, tetapi sangat rapi.
Dia membawa buku besar di tangannya.
“Selamat datang.”
Tatapannya langsung membuat beberapa siswa berdiri lebih tegak.
“Saya Evelyn Hart. Pengelola asrama.”
Gideon berbisik,
“Kelihatannya galak.”
Evelyn langsung menoleh.
“Aku mendengarnya.”
Gideon membeku.
Lucian menahan tawa.
Evelyn tersenyum kecil.
“Tenang. Aku tidak galak.”
Dia membuka buku besarnya.
“Selama kalian mengikuti aturan.”
Gideon mengangguk cepat.
“Baik.”
“Bagus.”
---
Evelyn membawa mereka melewati aula.
Di sini terdapat papan pengumuman besar.
Jadwal makan.
Jadwal kebersihan.
Aturan jam malam.
Jadwal penggunaan ruang belajar.
Dan berbagai pengumuman kegiatan siswa.
“Setiap penghuni bertanggung jawab menjaga kebersihan area masing-masing.”
Evelyn menunjuk papan.
“Tidak ada pelayan pribadi untuk membersihkan kamar kalian.”
Beberapa siswa bangsawan terlihat sedikit terkejut.
Gideon justru tertawa.
“Bagus.”
Evelyn meliriknya.
“Kau senang?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena berarti semua orang sama.”
Evelyn tersenyum.
“Jawaban yang bagus.”
---
Mereka kemudian masuk ke koridor kamar.
Kamar-kamar siswa tersusun di sepanjang lorong.
Ada kamar untuk dua orang.
Ada kamar untuk empat orang.
Beberapa kamar khusus disediakan untuk kondisi tertentu.
Evelyn menjelaskan bahwa pembagian kamar dilakukan berdasarkan tingkat, jenis kelamin, kebutuhan siswa, dan kapasitas asrama.
Lucian memperhatikan nomor kamar.
“Apakah siswa bebas berpindah kamar?”
“Tidak tanpa izin.”
“Kalau ingin belajar bersama?”
“Ada ruang belajar.”
“Kalau ingin berbicara sampai malam?”
“Ruang bersama.”
“Kalau ingin tidur?”
Evelyn menatapnya.
“Di kamar.”
Gideon tertawa.
Lucian mengangguk serius.
“Masuk akal.”
Valerine tersenyum kecil.
---
Mereka sampai di ruang bersama.
Ada sofa.
Meja.
Rak buku.
Papan tulis.
Bahkan sebuah perapian kecil yang menggunakan kristal mana.
Beberapa siswa sudah duduk di sana.
Ada yang membaca.
Ada yang bermain kartu.
Ada yang mengobrol.
Suasananya jauh lebih santai daripada ruang kelas.
Evelyn berkata,
“Ini salah satu tempat yang paling sering digunakan siswa.”
Gideon langsung duduk di sofa.
“Nyaman.”
Evelyn menatapnya.
“Belum selesai.”
Gideon berdiri lagi.
“Maaf.”
Lucian tertawa.
---
Di salah satu sudut terdapat ruang belajar kecil.
Mejanya dipisahkan satu sama lain.
Lampu kristal berada di atas setiap meja.
Lucian melihatnya cukup lama.
“Bisa digunakan sampai malam?”
“Selama tidak mengganggu penghuni lain.”
Mata Lucian sedikit berbinar.
Gideon melihatnya.
“Jangan.”
“Apa?”
“Aku tahu tatapan itu.”
Lucian tersenyum.
“Aku hanya berpikir.”
“Kau akan tinggal di sana.”
“Mungkin.”
Valerine menambahkan,
“Bukan mungkin.”
---
Setelah itu, Evelyn membawa mereka ke area balkon.
Dari sana terlihat halaman asrama.
Beberapa siswa sedang bermain.
Sebagian duduk di bawah pohon.
Ada yang membaca.
Ada yang berbicara dengan teman.
Seorang Beastfolk bahkan terlihat tidur di bawah sinar matahari.
Gideon menunjuk.
“Dia tidak takut dimarahi?”
Evelyn menjawab,
“Selama dia tidak mengganggu siapa pun, tidak.”
Gideon mengangguk.
“Bagus.”
Lucian memandang suasana tersebut.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada ujian.
Tidak ada profesor yang mengawasi.
Hanya kehidupan sehari-hari.
Dan anehnya...
justru suasana sederhana seperti ini yang membuat Orion terasa semakin nyata baginya.
---
Kemudian Evelyn membawa mereka menuju ruang makan kecil khusus asrama.
Tidak sebesar kantin utama.
Namun tersedia untuk siswa yang ingin makan di luar jam makan.
Di sudut ruangan terdapat beberapa alat memasak sederhana.
“Kalau kalian lapar di malam hari,” jelas Evelyn, “kalian bisa menggunakan fasilitas ini.”
Gideon langsung melihat ke arah dapur.
“Boleh masak sendiri?”
“Boleh.”
“Kalau gagal?”
Evelyn tersenyum.
“Kalian membersihkannya sendiri.”
Gideon langsung kehilangan semangat.
Valerine tertawa.
---
Tur terakhir adalah halaman belakang asrama.
Ada lapangan kecil.
Pohon-pohon tua.
Bangku.
Dan sebuah jalan menuju bagian belakang akademi.
Lucian memperhatikan jalan tersebut.
“Jalan itu menuju mana?”
Evelyn melihat ke arah yang ditunjuk.
“Ke taman belakang.”
“Boleh ke sana?”
“Siang hari.”
“Kalau malam?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Evelyn tidak langsung menjawab.
“Karena itu bukan tempat untuk berkeliaran malam-malam.”
Lucian mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Dia sudah belajar bahwa Orion memiliki beberapa tempat yang memang tidak perlu disentuh tanpa alasan.
---
Setelah semua siswa berkumpul kembali di aula, Evelyn menutup buku besarnya.
“Orientasi asrama selesai.”
Dia melihat seluruh siswa.
“Mulai hari ini, kalian bukan tamu.”
Suasana menjadi sedikit hening.
“Kalian adalah penghuni Orion.”
Evelyn tersenyum.
“Jaga tempat ini.”
“Jaga teman kalian.”
“Dan kalau ada masalah, datang kepada kami.”
Tidak ada pidato panjang.
Namun kalimat sederhana itu cukup.
---
Sore harinya, Lucian berdiri di balkon asrama.
Dari tempat itu dia bisa melihat hampir seluruh Akademi Orion.
Perpustakaan.
Arena.
Laboratorium.
Beast Garden.
Workshop.
Klinik.
Kantin.
Gedung Utama.
Semuanya terlihat berbeda ketika dilihat dari tempat tinggalnya.
Gideon berdiri di sampingnya.
“Jadi... besok mulai kelas.”
“Ya.”
Valerine datang membawa jadwal.
“Dan kita sudah mendapatkan jadwal sementara.”
Gideon melihatnya.
“Sebanyak ini?”
Valerine mengangguk.
“Teori Mana. Kontrol. Taktik. Magical Creatures. Rune. Magic Weapon. Dan beberapa mata pelajaran lainnya.”
Gideon menghela napas.
“Jadi kehidupan santai kita sudah berakhir.”
Lucian tertawa kecil.
“Bukankah kita datang ke sini untuk belajar?”
“Benar.”
Gideon menatap langit.
“Tapi aku berharap masih ada waktu untuk makan.”
Valerine menjawab,
“Untuk itu kau tidak perlu khawatir.”
Lucian memandang mereka berdua.
Kemudian kembali melihat Orion.
Selama beberapa hari terakhir, dia telah melihat banyak hal.
Orion bukan sekadar akademi.
Ia memiliki orang-orang yang menjaga tempatnya.
Guru yang mengajarkan ilmu.
Peneliti yang mengembangkan teknologi.
Dokter yang merawat siswa.
Pekerja yang memasak makanan.
Penjaga yang melindungi mereka.
Dan sekarang...
sebuah kamar yang bisa dia sebut sebagai tempat tinggal.
Lucian menarik napas perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak kehidupan keduanya dimulai, dia tidak merasa sedang mengejar sesuatu.
Dia hanya...
menjalani hidup.
Dan mungkin itu adalah sesuatu yang tidak pernah dimiliki Aurelius Vance.
Lucian tersenyum.
“Mulai besok.”
Gideon menoleh.
“Apa?”
Lucian memandang langit sore.
“Babak baru dimulai.”
Di atas Akademi Orion, langit perlahan berubah jingga.
Dan setelah satu minggu orientasi—
kehidupan akademi yang sebenarnya akhirnya dimulai.