Hari keenam orientasi dimulai dengan satu hal yang langsung membuat Gideon bersemangat.
Kantin.
Begitu mendengar tujuan mereka, langkah Gideon berubah jauh lebih cepat.
“Kenapa dari semua fasilitas, justru kantin yang paling cepat kau datangi?” tanya Valerine.
“Karena ini fasilitas paling penting.”
Lucian menoleh.
“Lebih penting dari perpustakaan?”
“Untuk manusia normal, iya.”
Lucian mengangguk pelan.
“Pendapat yang cukup masuk akal.”
Valerine menghela napas.
Mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan besar yang terhubung dengan beberapa taman terbuka.
Suara percakapan terdengar bahkan dari luar.
Begitu pintunya dibuka—
ramai.
Sangat ramai.
Siswa dari berbagai tingkat duduk di meja panjang.
Beberapa makan sambil berdiskusi.
Sebagian membawa buku.
Ada yang membicarakan latihan arena.
Ada yang membahas tugas.
Dan beberapa hanya tertawa bersama teman-temannya.
Untuk pertama kalinya selama orientasi, Lucian melihat hampir seluruh sisi kehidupan siswa Orion berkumpul dalam satu tempat.
---
“Selamat datang di kantin.”
Seorang pria besar dengan celemek berdiri di depan mereka.
Rambutnya sedikit berantakan, tetapi kumisnya tertata rapi.
Dia memegang sendok kayu seperti seorang ksatria memegang pedang.
“Gareth Bellamy.”
Dia memperkenalkan diri.
“Head Chef Orion.”
Gideon langsung terlihat tertarik.
“Jadi Anda yang memasak semua makanan di sini?”
“Tidak sendirian.”
Gareth menunjuk ke dapur.
“Kalau aku memasak semuanya sendirian, kalian baru bisa makan tiga hari sekali.”
Beberapa siswa tertawa.
Gareth tersenyum.
“Di belakang ada tim dapur.”
Dari dalam muncul seorang perempuan kecil dengan tubuh mungil.
“Mara Whitlock!”
Dia melambaikan tangan.
“Bagian roti dan makanan ringan.”
Kemudian seorang pemuda membawa ember air.
“Tobin Reed.”
Dia mengangkat tangan.
“Asisten dapur.”
Gareth menepuk bahunya.
“Anak ini suatu hari ingin menggantikanku.”
Tobin langsung tersipu.
“Belum tentu menggantikan, Chef.”
“Bagus. Berarti kau punya ambisi.”
---
Mereka kemudian diperlihatkan dapur.
Di sinilah Lucian melihat sesuatu yang cukup menarik.
Api di tungku tidak berasal dari kayu.
Api tersebut berasal dari lingkaran sihir kecil yang terhubung ke kristal mana.
Gareth menjelaskan.
“Magic Cooking.”
Dia mengangkat tangan.
Api membesar sedikit.
“Bukan hanya untuk menyalakan kompor.”
Dia menunjuk beberapa alat.
“Pengatur suhu.”
Kemudian alat lain.
“Pengawet makanan.”
Lalu sebuah mesin kecil.
“Penggiling.”
Lucian memperhatikan semuanya.
“Jadi sihir juga digunakan untuk mempercepat proses memasak.”
“Benar.”
Gareth tersenyum.
“Tapi jangan salah.”
Dia mengangkat sendok kayunya.
“Magic tidak bisa menggantikan rasa.”
Gideon mengangguk serius.
“Kalimat yang bagus.”
Valerine menatapnya.
“Kau hanya ingin makan.”
“Benar.”
---
Gareth kemudian membawa mereka ke ruang makan.
“Orion menyediakan makanan untuk siswa dari berbagai latar belakang.”
Di meja terdapat beberapa jenis makanan.
Ada makanan sederhana.
Ada makanan yang lebih mahal.
Bahkan tersedia pilihan khusus untuk beberapa ras.
Gareth menunjuk daftar menu.
“Tidak semua orang punya kebutuhan tubuh yang sama.”
Lucian membaca daftar tersebut.
Elf.
Beastfolk.
Manusia.
Beberapa makanan bahkan diberi tanda khusus.
“Kalau siswa memiliki alergi atau kebutuhan tertentu?”
“Laporkan kepada klinik dan dapur.”
Gareth menunjuk sebuah papan.
“Menu bisa disesuaikan.”
Lucian mengangguk.
Sekali lagi dia melihat bagaimana Orion tidak hanya memikirkan kekuatan siswa.
Mereka memikirkan kehidupan siswa.
---
Gideon tiba-tiba menunjuk sebuah makanan.
“Itu apa?”
Mara menjawab dari belakang.
“Pai daging.”
“Enak?”
Mara menatapnya.
“Kalau tidak enak, aku tidak akan menjualnya.”
Gideon langsung mengambil satu.
Lucian tertawa.
“Cepat sekali.”
“Aku sedang melakukan penelitian.”
Valerine menatap pai di tangan Gideon.
“Penelitian?”
“Ya.”
Gideon menggigit.
Diam.
Kemudian matanya melebar.
“...Ini enak.”
Mara tersenyum puas.
“Penelitianmu berhasil?”
“Berhasil.”
---
Di sisi lain kantin, Lucian melihat beberapa siswa senior sedang berkumpul.
Ada yang membawa buku.
Ada yang membawa senjata latihan.
Ada yang masih mengenakan pakaian olahraga.
Mereka semua berasal dari kelas dan tingkat berbeda.
Namun di kantin, tidak ada yang terlihat terlalu peduli dengan status.
Seorang siswa bangsawan tertawa bersama siswa biasa.
Seorang Beastfolk duduk bersama dua manusia.
Seorang elf sedang berdiskusi dengan seorang dwarf.
Lucian memperhatikan pemandangan itu.
Menarik.
Bukan karena sesuatu yang luar biasa.
Justru karena semuanya terlihat normal.
Di luar sana, status keluarga mungkin penting.
Namun di sini...
Mereka hanya siswa.
---
Gareth kemudian membawa mereka ke bagian belakang kantin.
Ada sebuah papan besar.
Di sana tertulis:
Jangan membuang makanan.
Gareth langsung berubah serius.
“Ini aturan yang paling sering kulihat dilanggar.”
Dia menatap para siswa.
“Kalau kalian mengambil makanan, habiskan.”
Gideon mengangguk.
“Setuju.”
Gareth menunjuknya.
“Bagus.”
Kemudian menunjuk siswa lain.
“Kalau tidak yakin bisa menghabiskan, ambil sedikit dulu.”
Sederhana.
Namun Lucian menyukai prinsip itu.
Tidak semua sumber daya harus diperlakukan seperti sesuatu yang tidak terbatas.
Makanan.
Mana.
Kristal.
Waktu.
Semuanya memiliki batas.
---
Setelah tur selesai, mereka duduk sebentar di salah satu meja.
Gideon memegang pai keduanya.
Valerine membaca catatannya.
Lucian melihat sekeliling.
Dari tempat mereka duduk, dia bisa melihat dapur.
Siswa senior.
Siswa baru.
Para pekerja.
Beberapa profesor.
Bahkan beberapa penjaga yang sedang makan.
Tidak ada suasana seperti aula bangsawan.
Tidak ada jarak yang terlalu besar.
Hanya sebuah tempat makan.
Namun justru di sinilah Lucian mulai memahami sesuatu.
Akademi bukan hanya tempat mereka belajar.
Akademi adalah tempat mereka hidup.
Dan kehidupan tidak hanya terdiri dari ujian, pertarungan, dan penelitian.
Ada makanan.
Percakapan.
Tawa.
Kelelahan.
Pertemanan.
Bahkan pertengkaran kecil.
Semua itu akan menjadi bagian dari masa muda mereka.
Gideon tiba-tiba menyodorkan pai ke arah Lucian.
“Mau?”
Lucian melihatnya.
“Tidak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Gideon mengambil kembali.
“Bagus. Lebih banyak untukku.”
Valerine menggeleng.
“Kalian berdua benar-benar aneh.”
Lucian tersenyum.
“Sepertinya kita cocok.”
Valerine terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum kecil.
“Mungkin.”
---
Ketika mereka meninggalkan kantin, matahari sudah mulai condong.
Darius berjalan di depan.
“Besok adalah hari terakhir orientasi.”
Gideon mengangkat alis.
“Masih ada?”
“Ada.”
“Ke mana?”
Darius tidak langsung menjawab.
Dia hanya menunjuk ke arah bangunan besar di belakang asrama.
Gedung itu jauh lebih tenang dibanding fasilitas lainnya.
Namun dari kejauhan terlihat banyak jendela.
Beberapa balkon.
Dan deretan kamar.
Dormitory.
Darius berkata,
“Besok kalian akan melihat tempat tinggal kalian.”
Gideon langsung tersenyum.
“Ah.”
Valerine menutup bukunya.
“Jadi akhirnya kita melihat asrama.”
Lucian memandang bangunan itu.
Tempat yang akan mereka tempati setiap hari.
Tempat mereka akan bangun.
Belajar.
Pulang.
Dan mungkin...
membuat banyak kenangan.
Lucian tersenyum tipis.
Orientasi hampir selesai.
Namun kehidupan mereka di Orion baru saja dimulai.