Chapter 40 of 53

Bab 40 — Arena Para Penyihir

962 words

Suara ledakan terdengar bahkan sebelum mereka mendekati bangunan itu. BOOM! Beberapa burung di pepohonan sekitar akademi langsung terbang. Gideon berhenti. “Kalau suara seperti itu berasal dari tempat latihan, aku mulai penasaran seperti apa ujian sebenarnya.” Valerine menatapnya. “Kau seharusnya khawatir.” “Kenapa?” “Karena kau akan ikut latihan juga.” Gideon terdiam. Lucian tertawa kecil. Di depan mereka berdiri sebuah bangunan besar berbentuk oval. Dindingnya terbuat dari batu tebal dengan beberapa lapisan rune yang mengelilinginya. Di bagian atas terdapat menara-menara kecil. Di antara menara itu, kristal besar memancarkan cahaya biru. Training Arena Orion. --- Captain Darius membuka pintu utama. Begitu mereka masuk, suara benturan langsung terdengar lebih jelas. Clang! BOOM! Whoosh! Arena bagian dalam jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Di tengah terdapat lapangan luas dengan permukaan batu khusus. Beberapa bagian lantai dapat berubah. Ada bagian yang menyerupai tanah. Ada bagian berbatu. Bahkan terdapat platform yang dapat naik dan turun. Di sekeliling arena terdapat tribun. Namun yang paling menarik perhatian Lucian adalah dinding transparan yang mengelilingi arena. “Barrier?” Valerine bertanya. Darius mengangguk. “Beberapa lapis.” “Untuk menahan serangan?” “Bukan hanya itu.” Darius menunjuk kristal di atas. “Barrier ini juga dapat menyerap sebagian energi dari serangan dan menyebarkannya ke sistem pengaman.” Lucian memperhatikan susunan rune. “Kalau serangannya terlalu kuat?” “Barrier akan memberi peringatan.” “Dan kalau tetap dilanjutkan?” Darius menatapnya. “Latihan dihentikan.” Jawabannya sederhana. Tidak ada pengecualian. --- Seorang pria besar berjalan dari sisi arena. Tubuhnya tegap. Rambut hitam pendek. Wajahnya memiliki beberapa bekas luka lama. “Victor Ashbourne.” Darius memperkenalkannya. “Kepala fasilitas arena dan latihan tempur.” Victor menatap siswa baru. “Selamat datang.” Kemudian dia melihat ke arah arena. “Jangan terlalu kagum.” Gideon bertanya, “Kenapa?” Victor menunjuk sebuah bagian dinding. Ada bekas retakan panjang. “Semua yang kalian lihat di sini pernah rusak.” Gideon langsung tertawa. “Serius?” “Serius.” Victor menunjuk lantai. “Lantai itu sudah diganti empat kali.” Kemudian dinding. “Barrier diperkuat tujuh kali.” Kemudian tribun. “Kursi penonton diganti entah berapa kali.” Gideon menelan ludah. “Siapa yang merusaknya?” Victor menatap para siswa. “Mahasiswa.” Gideon langsung diam. Lucian tersenyum. --- Di salah satu sisi arena, beberapa siswa senior sedang berlatih. Seorang penyihir mengangkat tangan. Api membentuk lingkaran. Penyihir lain menghindar. Kemudian sebuah tombak tanah muncul dari lantai. Lawan melompat. Sebuah penghalang air muncul di depannya. Pertarungan berlangsung cepat. Namun terlihat jelas bahwa mereka tidak berusaha menghancurkan lawan. Gerakan mereka terkontrol. Victor menjelaskan. “Latihan bukan pertarungan sungguhan.” Dia menunjuk salah satu siswa. “Tujuannya menguji teknik.” Kemudian menunjuk siswa lain. “Bukan menghancurkan lawan.” Lucian mengangguk. Hal itu mengingatkannya pada perkataan Mirelle. Sihir tidak boleh menjadi alasan untuk menghancurkan tubuh sendiri. --- Victor membawa mereka ke sebuah ruangan kecil di samping arena. Di sana terdapat papan besar. Tertulis beberapa aturan. 1. Dilarang menggunakan sihir mematikan tanpa izin. 2. Dilarang menyerang di luar batas arena. 3. Hentikan pertarungan ketika instruktur memberikan perintah. 4. Dilarang menggunakan artefak yang belum disetujui. 5. Kerusakan fasilitas menjadi tanggung jawab pengguna sesuai peraturan akademi. Gideon membaca aturan kelima. “Sebentar.” Dia menunjuk tulisan itu. “Kalau kami merusakkan arena... kami harus memperbaikinya?” Victor mengangguk. “Benar.” “Secara fisik?” “Kalau perlu.” Gideon melihat arena. Kemudian melihat gauntlet miliknya. “Aku akan sangat berhati-hati.” Lucian tertawa. --- Mereka kembali ke arena. Victor kemudian menunjukkan sebuah alat berbentuk lingkaran. “Ini digunakan untuk simulasi medan.” Dia menekan kristal kecil. Arena berubah. Tanah naik. Beberapa batu besar muncul. Kemudian bagian lain berubah menjadi permukaan licin seperti es. Beberapa siswa langsung berseru kagum. “Medan dapat disesuaikan berdasarkan latihan.” Victor mematikan alat. “Kalian tidak selalu bertarung di tempat yang kalian inginkan.” Lucian mengangguk. “Jadi lingkungan juga menjadi bagian dari pertarungan.” “Benar.” Victor menatapnya. “Seorang penyihir yang hanya kuat ketika berdiri di tempat ideal akan kesulitan ketika kondisi berubah.” Lucian tersenyum. “Menarik.” Victor menaikkan alis. “Menarik?” Lucian mengangguk. “Konsepnya.” Victor tertawa kecil. “Bagus. Kalau begitu, jangan hanya mempelajari mantra. Pelajari tempat kalian menggunakannya.” --- Di sisi lain arena, seorang siswa senior sedang berlatih menggunakan senjata. Pedang. Tombak. Busur. Gauntlet. Berbagai jenis senjata digunakan. Gideon memperhatikan bagian itu cukup lama. Victor menyadarinya. “Kau pengguna Magic Weapon?” “Ya.” “Gauntlet?” Gideon mengangguk. Victor menunjuk area latihan. “Bagus. Kau akan sering menggunakan tempat ini.” Gideon tersenyum. “Aku mulai menyukai akademi ini.” Valerine langsung berkata, “Lima menit lalu kau mengeluh tentang tur.” “Itu berbeda.” --- Sementara Gideon berbicara dengan Victor, Lucian berjalan sedikit menjauh. Dia berdiri di tepi arena. Memperhatikan lapisan barrier. Rune. Kristal. Permukaan lantai. Jalur aliran energi. Semuanya terhubung. Akademi ini tidak hanya membuat tempat latihan. Mereka membuat sebuah sistem. Sistem yang dapat mengukur. Melindungi. Mengubah lingkungan. Bahkan membatasi kekuatan siswa. Lucian tersenyum. Namun kemudian pandangannya tertuju pada sebuah pintu besi di belakang arena. Pintu itu berbeda dari yang lain. Tidak memiliki papan nama. Tidak memiliki jendela. Hanya ada satu simbol kecil di atasnya. Lucian hendak melihat lebih dekat— “Lucian.” Valerine memanggil. Lucian menoleh. “Apa?” “Kita harus lanjut.” Lucian kembali melihat pintu itu. Beberapa detik. Kemudian dia mengangguk. “Baik.” Dia tidak bertanya. Belum. --- Sebelum meninggalkan arena, Victor berdiri di depan seluruh siswa. “Mulai semester ini, kalian akan menggunakan fasilitas ini.” Dia menatap mereka satu per satu. “Di sini kalian akan belajar mengendalikan kekuatan.” Dia menunjuk arena. “Belajar bertarung.” Kemudian menunjuk kepala mereka. “Dan belajar berpikir.” Victor tersenyum tipis. “Karena penyihir yang hanya memiliki kekuatan adalah senjata.” Dia berhenti. “Penyihir yang mampu mengendalikan kekuatannya adalah manusia.” Tidak ada yang berbicara. Lucian memandang arena sekali lagi. Kalimat itu sederhana. Tetapi dia menyukainya. --- Ketika mereka keluar, Gideon berjalan di samping Lucian. “Menurutmu arena ini bagaimana?” “Bagus.” “Cuma bagus?” Lucian berpikir sebentar. “Fasilitasnya cukup lengkap.” Gideon menunggu. “Dan?” Lucian tersenyum. “Sepertinya kita akan sering berada di sana.” Gideon langsung tersenyum. “Nah, itu baru jawaban.” Di belakang mereka, suara ledakan kembali terdengar. BOOM! Lucian menoleh. Akademi Orion perlahan mulai terasa seperti rumah kedua. Namun orientasi belum selesai. Masih ada beberapa tempat yang belum mereka lihat. Dan salah satunya adalah tempat yang paling ramai setiap hari. Kantin Orion.

End of Chapter 40