Keesokan harinya, tujuan orientasi mereka adalah bangunan yang sempat ditunjuk Darius dari Beast Garden.
Academy Clinic.
Bangunannya tidak sebesar Gedung Utama, tetapi cukup luas untuk menampung banyak pasien.
Dindingnya berwarna putih dengan aksen biru tua. Beberapa kristal kecil tertanam di sepanjang lorong dan memancarkan cahaya lembut.
Begitu pintu dibuka, aroma obat langsung terasa.
Gideon mengendus.
“Bau rumah sakit.”
“Memang rumah sakit,” jawab Valerine.
“Aku tahu.”
Lucian tersenyum kecil.
Mereka bertiga mengikuti Darius masuk.
---
Di ruang depan, beberapa siswa senior sedang duduk menunggu.
Ada yang lengannya diperban.
Ada yang kepalanya ditempeli kompres.
Seorang siswa bahkan terlihat tertidur sambil memeluk kantong es.
Gideon melihat keadaan itu.
“Sepertinya siswa Orion sering terluka.”
Darius mengangguk.
“Latihan sihir, eksperimen, olahraga, kecelakaan kecil.”
Dia berhenti.
“Dan kadang keputusan bodoh.”
Gideon langsung pura-pura tidak mendengar.
Valerine meliriknya.
“Kenapa melihatku?”
“Aku tidak melihatmu.”
“Bagus.”
---
Seorang wanita keluar dari ruang pemeriksaan.
Rambutnya diikat rapi. Wajahnya terlihat tenang, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa dia sudah terbiasa menghadapi siswa keras kepala.
“Captain.”
Darius mengangguk.
“Mirelle.”
Kemudian dia memperkenalkannya.
“Ini Mirelle Ardent. Kepala Klinik Orion.”
Mirelle memandang para siswa baru.
“Selamat datang.”
Senyumnya lembut.
“Tapi semoga kalian tidak terlalu sering datang ke sini.”
Gideon tertawa.
“Itu harapan yang bagus.”
Mirelle menatapnya.
“Dan kau terlihat seperti orang yang akan membuat harapan itu sulit tercapai.”
Gideon langsung terdiam.
Lucian menahan tawa.
---
Mirelle membawa mereka ke ruang perawatan.
Di sana terdapat beberapa tempat tidur.
Setiap tempat memiliki kristal kecil di sampingnya.
“Kristal ini membantu membaca kondisi mana dalam tubuh.”
Dia menunjuk salah satunya.
“Ketika seorang penyihir kelelahan karena penggunaan mana berlebihan, aliran mana bisa menjadi tidak stabil.”
Lucian memperhatikan kristal itu.
“Apakah hanya membaca jumlah mana?”
Mirelle menggeleng.
“Tidak.”
Dia mengambil kristal lain.
“Tekanan mana, pola aliran, kondisi Mana Circle, dan beberapa tanda ketegangan Affinity.”
Lucian mengangguk perlahan.
Berguna.
Terutama untuk seseorang seperti dirinya.
Namun dia tidak mengatakan apa-apa.
---
Seorang pria berjas putih datang dari ruangan sebelah.
Rambutnya rapi, membawa beberapa lembar catatan dan sebuah kristal pemeriksa.
“Dr. Elias Verne.”
Mirelle memperkenalkan.
“Spesialis Mana Medicine.”
Elias tersenyum ramah.
“Selamat pagi.”
Dia melihat para siswa.
“Siapa di antara kalian yang pernah mengalami masalah mana?”
Beberapa siswa mengangkat tangan.
Ada yang pernah mengalami pusing setelah latihan.
Ada yang pernah kehabisan mana.
Ada yang pernah kehilangan kendali terhadap mantra.
Elias menjelaskan satu per satu.
“Jangan menganggap kehabisan mana sebagai tanda kalian semakin kuat.”
Dia menatap mereka.
“Tubuh memiliki batas.”
Lucian memperhatikan dengan lebih serius.
Elias melanjutkan.
“Jika kalian terus memaksa diri melewati batas, masalahnya tidak selalu selesai hanya dengan tidur.”
Kalimat itu membuat Lucian diam.
Mirelle meliriknya.
“Lucian?”
Lucian sedikit terkejut.
“Ya?”
“Kau baik-baik saja?”
“Baik.”
Mirelle mengangguk.
“Bagus.”
Dia tidak bertanya lebih jauh.
---
Di ruang berikutnya, seorang wanita sedang memeriksa sebuah alat medis.
“Dr. Helena Marrow.”
Elias memperkenalkan.
“Spesialis kedokteran fisik.”
Helena mengangkat wajah.
“Selamat datang.”
Di atas meja terdapat beberapa alat bedah dan botol obat.
Gideon tampak sedikit pucat.
“Apakah semua itu benar-benar diperlukan?”
Helena menjawab tenang.
“Tidak semua cedera bisa diselesaikan dengan sihir.”
Gideon mengangguk.
“Itu masuk akal.”
“Dan sihir bukan alasan untuk mengabaikan ilmu kedokteran.”
Helena kembali bekerja.
Lucian memperhatikan.
Hal itu terasa penting.
Di dunia yang memiliki sihir, manusia tetap mengembangkan ilmu lain.
Mereka tidak menyerahkan semuanya kepada magic.
---
Kemudian terdengar suara langkah cepat.
Seorang gadis Beastfolk dengan telinga kelinci muncul sambil membawa nampan obat.
“Tolong minggir!”
Gideon langsung bergeser.
Gadis itu melewatinya.
Beberapa detik kemudian kembali.
“Maaf.”
Dia tersenyum.
“Nurse Clara Bellmont.”
Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Jangan tertipu wajahku yang ramah.”
Gideon tertawa.
“Kenapa?”
Clara menunjuk tempat tidur kosong.
“Kalau pasien disuruh istirahat, ya istirahat.”
Kemudian dia menatap seorang siswa yang diam-diam mencoba berdiri.
“Dan kau.”
Siswa itu langsung kembali duduk.
Lucian tersenyum.
Valerine berbisik.
“Dia cukup tegas.”
“Sepertinya memang diperlukan.”
---
Tur berlanjut menuju ruang pemulihan.
Di sana terdapat beberapa kursi dekat jendela.
Dari tempat itu, Beast Garden terlihat di kejauhan.
Lucian memandang pepohonan.
Beberapa Binatang Sihir bergerak di antara habitat mereka.
Kemudian dia melihat ke dalam klinik.
Para siswa yang terluka.
Para dokter.
Para perawat.
Para penjaga.
Para profesor.
Semua bagian Orion ternyata saling berhubungan.
Seseorang berlatih.
Seseorang terluka.
Klinik merawatnya.
Setelah pulih, dia kembali berlatih.
Dan semuanya terus berjalan.
Lucian tersenyum.
Jadi ini juga bagian dari kehidupan seorang penyihir.
Bukan hanya kemenangan.
Bukan hanya kekuatan.
Tetapi juga mengetahui kapan harus berhenti.
---
Sebelum mereka pergi, Elias menghampiri Lucian.
“Lucian.”
Lucian menoleh.
“Ya?”
Elias menunjuk dadanya.
“Mana Circle-mu terasa cukup stabil?”
Pertanyaan sederhana.
Namun Lucian diam sesaat.
Dia tidak tahu apakah Elias bisa merasakan sesuatu.
Akhirnya dia menjawab.
“Sejauh ini.”
Elias mengangguk.
“Bagus. Kalau suatu hari ada sesuatu yang terasa tidak normal, datanglah.”
Lucian tersenyum.
“Tentu.”
Elias pergi.
Lucian melihat punggungnya.
Tidak ada kecurigaan.
Tidak ada pertanyaan lebih jauh.
Hanya nasihat seorang dokter.
Tetapi bagi Lucian, kalimat itu tetap tersimpan di kepalanya.
---
Ketika mereka keluar dari klinik, Gideon meregangkan tubuh.
“Jadi setelah empat hari, kita sudah melihat Gedung Utama, Laboratorium, Perpustakaan, Workshop, Beast Garden, dan Klinik.”
Valerine mengangguk.
“Masih ada beberapa.”
Gideon menghela napas.
“Berapa banyak sebenarnya fasilitas akademi ini?”
Darius menjawab dari depan.
“Cukup banyak.”
“Jawaban macam apa itu?”
Darius berhenti dan menunjuk sebuah bangunan besar di sisi lain akademi.
Atapnya tinggi.
Dindingnya tebal.
Dari dalam terdengar suara benturan.
BOOM!
Gideon menatap bangunan itu.
“...Itu apa?”
Darius menjawab singkat.
“Training Arena.”
Gideon tersenyum.
“Ah.”
Lucian juga menatapnya.
Besok mereka tidak hanya akan melihat tempat para penyihir belajar.
Mereka akan melihat tempat para penyihir menguji batas mereka.
Dan kali ini—
Lucian merasa orientasi mulai mendekati bagian yang benar-benar ingin ia lihat.
Arena.