Chapter 3 of 53
Bab 3 — Kakak dan Adik
676 words
Waktu berlalu tanpa terasa.
Setelah kelahiran Clara, rumah keluarga Eisenwald menjadi sedikit lebih ramai. Tangisan bayi, langkah kaki kecil, dan suara tawa perlahan menjadi bagian dari keseharian Lucian.
Ketika berusia enam tahun, Lucian sudah terbiasa dengan perannya sebagai seorang kakak.
Clara yang saat itu baru mulai belajar berdiri sering berada di dekatnya ketika ia membaca di ruang keluarga.
Lucian duduk di sofa dengan sebuah buku di tangan.
Di sampingnya, Clara berpegangan pada sisi meja sambil berusaha menjaga keseimbangan.
“Ah…”
Clara hampir terjatuh.
Lucian segera menahan tubuh kecil itu dengan satu tangan.
“Pelan-pelan.”
Clara menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum.
“Kak…”
Lucian terdiam.
Satu kata sederhana itu entah kenapa terasa berbeda.
Ia tersenyum kecil.
“Ya.”
Clara kemudian kembali mencoba berjalan, sementara Lucian melanjutkan bacaannya.
Namun setiap kali Clara hampir jatuh, tangannya selalu siap menangkap.
---
Pada usia tujuh tahun, Lucian mulai semakin memahami perkembangan dunia tempat ia dilahirkan kembali.
Salah satu teknologi yang menarik perhatiannya adalah televisi.
Teknologi itu masih sangat baru.
Bentuknya berupa kotak besar dengan tubuh tebal dan berat. Layarnya masih hitam-putih, sementara bagian belakangnya dipenuhi komponen dan saluran energi yang terhubung dengan batu mana.
Penggunaannya pun tidak murah.
Sebuah televisi membutuhkan energi yang cukup besar hanya untuk menampilkan siaran.
Karena itu, tidak semua rumah memilikinya.
Di rumah Eisenwald sendiri, televisi biasanya hanya dinyalakan pada waktu tertentu.
Suatu sore, Lucian duduk di ruang keluarga sambil membaca ketika televisi mulai menampilkan seorang peneliti yang sedang menjelaskan teori baru mengenai konversi mana.
Mata Lucian langsung tertuju pada layar.
“Menarik…”
Ia menutup bukunya.
Di sisi lain ruangan, Clara yang berusia sekitar dua tahun sedang duduk bersama Eleanor.
“TV…”
Clara menunjuk layar.
“Ibu, kartun.”
Eleanor tersenyum.
“Sebentar lagi.”
Lucian menoleh.
“Bukankah ini lebih menarik?”
Clara menggeleng cepat.
“Enggak.”
Lucian terdiam.
Eleanor tertawa kecil.
“Lucian, tidak semua orang tertarik pada teori sihir.”
Lucian kembali menatap televisi.
“Sayang sekali.”
Clara menatap kakaknya seolah baru saja melihat orang paling aneh di dunia.
---
Saat berusia delapan tahun, Clara mulai semakin sering mengikuti Lucian.
Ke mana pun Lucian pergi, beberapa saat kemudian akan terdengar suara langkah kecil di belakangnya.
“Kak Lucian!”
Lucian berhenti.
Clara berdiri di ujung lorong.
“Ada apa?”
“Ke mana?”
“Perpustakaan.”
“Aku ikut.”
“Kau tidak akan bosan?”
Clara menggeleng.
Lima menit kemudian, Clara sudah duduk di dekat jendela, memainkan sesuatu yang ia temukan di meja.
Lucian hanya menghela napas kecil sebelum kembali membaca.
Hubungan mereka semakin dekat tanpa keduanya sadari.
Lucian tetap menyukai buku dan penelitian.
Clara tetap menyukai bermain dan membuat suasana rumah menjadi lebih ramai.
Mereka berbeda.
Namun justru karena itulah keduanya saling melengkapi.
---
Ketika Lucian berusia sembilan tahun, sifat jahil Clara mulai terlihat jelas.
Suatu pagi, Lucian sedang membaca di sofa ketika tiba-tiba rambutnya ditarik dari belakang.
“Ah.”
Ia menoleh.
Clara tertawa kecil.
“Clara.”
“Hehe.”
“Kau menarik rambutku.”
Clara langsung berlari.
Lucian mengejarnya beberapa langkah sebelum berhenti.
“Kenapa kau melakukan itu?”
Clara bersembunyi di balik Eleanor.
“Ibu…”
Eleanor hanya tersenyum.
“Clara, jangan mengganggu kakakmu.”
Clara mengintip dari balik pakaian ibunya.
“Maaf…”
Lucian menghela napas.
Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
---
Memasuki usia sepuluh tahun, hubungan keduanya sudah semakin erat.
Clara bahkan mulai mengetahui satu kelemahan terbesar kakaknya.
Buku.
Suatu sore, Lucian kembali ke ruang baca dan mendapati buku yang sedang ia cari tidak ada di tempatnya.
Ia memeriksa meja.
Rak.
Kursi.
Tidak ada.
Lucian menyipitkan mata.
“Clara…”
Dari balik pintu terdengar tawa kecil.
Lucian membuka pintu.
Clara berdiri sambil memegang buku itu di belakang tubuhnya.
“Ketemu.”
Clara langsung tertawa dan berlari.
“Clara!”
Tawa mereka memenuhi lorong rumah Eisenwald.
Dari kejauhan, Arthur dan Eleanor hanya memperhatikan keduanya.
Arthur tersenyum.
“Sepertinya Lucian akhirnya punya seseorang yang bisa mengalahkan buku-bukunya.”
Eleanor terkekeh.
“Dan Clara punya kakak yang selalu membiarkannya menang.”
Lucian yang mendengar ucapan itu hanya menghela napas.
Namun ia tidak benar-benar keberatan.
Di kehidupan pertamanya, Aurelius Vance menghabiskan bertahun-tahun mengejar jawaban tentang dunia.
Di kehidupan keduanya, Lucian Eisenwald masih mengejar hal yang sama.
Namun kini ada sesuatu yang berbeda.
Di sela-sela buku, penelitian, dan pertanyaan tentang misteri sihir…
Ada keluarga yang selalu menunggunya pulang.
Dan ada seorang adik kecil yang sepertinya sudah memutuskan bahwa mengganggu kakaknya adalah bagian dari tugasnya.