Keesokan paginya, kelompok siswa baru kembali berkumpul di halaman akademi.
Namun kali ini suasananya sedikit berbeda.
Tidak ada yang membawa buku terlalu banyak.
Tidak ada yang membawa perlengkapan latihan.
Sebagian besar siswa hanya membawa catatan kecil.
Tujuan mereka sudah jelas.
Beast Garden.
Lucian berdiri di samping Gideon dan Valerine ketika Captain Darius datang.
“Dengar baik-baik,” katanya. “Tempat yang akan kalian kunjungi bukan arena.”
Beberapa siswa langsung terlihat kecewa.
Darius melanjutkan.
“Dan bukan tempat untuk menguji kekuatan.”
Dia membuka gerbang besi tinggi di hadapan mereka.
“Beast Garden adalah habitat.”
Gerbang terbuka.
Udara segar langsung menyambut mereka.
Di baliknya terbentang kawasan luas yang hampir menyerupai hutan kecil.
Pepohonan tumbuh bebas.
Ada sungai kecil yang mengalir di antara bebatuan.
Rumput tinggi memenuhi beberapa bagian.
Bahkan terdapat bukit kecil dan gua buatan yang menyatu dengan lingkungan.
Lucian memperhatikan dengan serius.
Ini bukan kandang.
Itu kesan pertamanya.
---
Seorang pria berjalan mendekat dari antara pepohonan.
Rambutnya sedikit berantakan.
Pakaiannya sederhana.
Tidak terlihat seperti profesor yang terlalu formal.
Di bahunya hinggap seekor burung kecil berwarna hijau.
“Professor Rowan Everhart.”
Darius memperkenalkannya.
“Pengajar Magical Creatures.”
Rowan tersenyum.
“Selamat datang.”
Burung di bahunya tiba-tiba melompat.
Terbang rendah.
Kemudian mendarat di kepala Gideon.
Gideon membeku.
“...”
Beberapa siswa tertawa.
Rowan justru santai.
“Dia suka orang yang kelihatannya mudah diganggu.”
Gideon menatap burung itu.
“Aku terlihat seperti itu?”
Lucian mengangguk.
“Sedikit.”
“Terima kasih.”
Burung tersebut kemudian terbang kembali ke Rowan.
---
Rowan membawa mereka menyusuri jalan setapak.
“Di sini ada berbagai jenis Binatang Sihir.”
Dia berhenti di dekat sebuah sungai.
Seekor makhluk menyerupai rusa sedang minum.
Tubuhnya memiliki garis-garis biru samar yang bergerak mengikuti aliran mana.
“Jangan terlalu dekat.”
Para siswa berhenti.
“Kenapa?”
“Karena kalian tidak tahu apakah dia nyaman dengan keberadaan kalian.”
Rowan menunjuk telinga rusa tersebut.
“Perhatikan.”
Telinganya bergerak.
Matanya sesekali mengarah kepada para siswa.
“Dia tahu kalian ada.”
Lucian mengamati.
“Namun dia tidak pergi.”
“Benar.”
Rowan tersenyum.
“Karena kalian belum dianggap sebagai ancaman.”
Valerine mencatat.
Lucian juga mulai menulis.
Gideon melihat keduanya.
“Kalian serius sekali.”
Valerine tidak mengangkat wajah.
“Ini bagian dari pelajaran.”
Lucian menjawab,
“Dan menarik.”
Gideon menghela napas.
“Sudah kuduga.”
---
Mereka berjalan lebih jauh.
Kali ini terlihat sekelompok makhluk kecil menyerupai rubah dengan telinga panjang.
Mereka sedang bermain di antara akar pohon.
Salah satunya berlari mengejar yang lain.
Tidak ada perkelahian.
Tidak ada hierarki yang terlihat jelas.
Rowan menjelaskan bahwa perilaku Binatang Sihir tidak selalu berhubungan dengan kemampuan tempur.
“Sebagian besar dari kalian mungkin akan melihat kemampuan mereka lebih dulu.”
Dia memandang siswa.
“Jangan lakukan itu.”
Seorang siswa mengangkat tangan.
“Kenapa?”
“Karena kalau kalian hanya melihat mereka sebagai sumber kekuatan, kalian tidak akan memahami perilakunya.”
Rowan menunjuk kelompok kecil itu.
“Lihat bagaimana mereka bermain.”
Para siswa memperhatikan.
Salah satu anak mendekati yang lebih besar.
Yang besar mendorongnya dengan kepala.
Yang kecil jatuh.
Kemudian berdiri lagi.
Mereka kembali bermain.
“Interaksi sosial,” kata Rowan.
“Bahkan Binatang Sihir memiliki perilaku sosial.”
Lucian teringat tujuh hari di hutan.
Raka.
Kelompoknya.
Mossfang Wolf.
Hubungan antarspesies.
Rumah yang mereka tinggalkan di Heartwood.
Lucian tersenyum kecil.
Rowan melihatnya.
“Kau pernah mengamati Binatang Sihir sebelumnya?”
“Ya.”
“Di mana?”
“Dalam ujian masuk.”
Rowan tersenyum.
“Jadi kau salah satu kelompok yang membangun habitat itu.”
Lucian sedikit terkejut.
“Profesor tahu?”
“Kami mengamati ujian.”
Rowan tidak menjelaskan lebih jauh.
“Dan keputusan kalian meninggalkan tempat itu untuk mereka cukup masuk akal.”
Lucian mengangguk.
---
Mereka kemudian sampai di bagian yang lebih dalam.
Ada pagar rendah yang mengelilingi sebuah kawasan luas.
Di balik pagar itu terlihat beberapa makhluk besar.
Seekor bertubuh seperti serigala, tetapi dengan tanduk kecil di kepalanya.
Seekor lagi menyerupai kucing besar dengan ekor bercabang dua.
Dan beberapa makhluk bersayap kecil terbang di antara pepohonan.
Gideon menatap kagum.
“Berapa banyak spesies di sini?”
“Lebih dari seratus.”
“Seratus?”
“Dan jumlahnya berubah.”
“Kenapa?”
Rowan menunjuk pepohonan.
“Karena kita tidak memaksa mereka tinggal.”
Dia tersenyum.
“Kalau suatu spesies merasa lingkungan ini tidak cocok, mereka dipindahkan atau dilepas ke habitat yang sesuai.”
Valerine mengangguk.
“Jadi Beast Garden bukan koleksi.”
“Benar.”
Rowan tersenyum.
“Ini tempat penelitian, konservasi, rehabilitasi, dan pendidikan.”
Lucian memperhatikan sekeliling.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Orion, dia melihat fasilitas yang benar-benar terasa hidup.
Tidak semuanya dibuat untuk manusia.
Sebagian besar tempat ini dibuat agar penghuninya dapat hidup dengan caranya sendiri.
---
Tiba-tiba terdengar suara dari balik pepohonan.
Krak!
Semua siswa menoleh.
Sebuah makhluk kecil keluar dari semak.
Tubuhnya menyerupai tupai.
Bulu cokelat.
Mata besar.
Dan sebuah kristal kecil tumbuh di punggungnya.
Makhluk itu melihat para siswa.
Diam.
Kemudian mengambil sesuatu dari tanah.
Sebuah kacang.
Ia menggigitnya.
Krek.
Gideon tersenyum.
“Lucu juga.”
Makhluk itu menatap Gideon.
Lalu berlari mendekat.
Gideon mengulurkan tangan.
Rowan langsung berkata,
“Jangan.”
Gideon menghentikan tangannya.
Makhluk itu tetap berdiri beberapa langkah di depannya.
“Kenapa?”
“Biarkan dia yang menentukan apakah ingin mendekat.”
Gideon perlahan menurunkan tangannya.
Beberapa detik kemudian, makhluk itu maju.
Mengendus tangannya.
Lalu—
menjilat jarinya.
Gideon tersenyum.
“Sekarang boleh?”
Rowan tertawa.
“Sekarang boleh.”
Gideon mengusap kepalanya dengan hati-hati.
Makhluk itu tidak keberatan.
Lucian memperhatikan interaksi tersebut.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada perintah.
Hanya dua makhluk yang saling menerima keberadaan satu sama lain.
Jadi seperti ini rasanya...
Hubungan antara manusia dan Binatang Sihir tanpa kontrak.
---
Sebelum tur selesai, Rowan membawa mereka menuju sebuah bangunan kecil di tengah Beast Garden.
Di sana terdapat papan besar berisi catatan.
Habitat.
Pola Makan.
Perilaku Sosial.
Migrasi.
Reproduksi.
Adaptasi.
Interaksi Antarspesies.
Lucian membaca semuanya.
Kemudian melihat ke luar jendela.
Binatang-binatang itu tetap bergerak seperti biasa.
Ada yang mencari makanan.
Ada yang bermain.
Ada yang menjaga anak.
Ada yang tidur.
Tidak ada yang peduli bahwa mereka sedang menjadi objek penelitian.
Lucian tersenyum.
“Menarik.”
Rowan menoleh.
“Apa?”
Lucian melihat seluruh Beast Garden sekali lagi.
“Tempat ini tidak terasa seperti tempat untuk mempelajari Binatang Sihir.”
Dia berhenti sejenak.
“Lebih seperti tempat untuk belajar bagaimana hidup bersama mereka.”
Rowan tersenyum.
“Itu inti dari pelajaran saya.”
Di belakang mereka, seekor burung terbang melewati jendela.
Sayapnya memantulkan cahaya matahari.
Dan untuk sesaat, Lucian merasa bahwa Akademi Orion bukan hanya tempat manusia belajar memahami sihir.
Tetapi juga tempat manusia belajar memahami dunia yang mereka tinggali.
Tur hari itu berakhir.
Namun sebelum meninggalkan Beast Garden, Lucian sempat melihat sebuah bangunan besar di kejauhan.
Academy Clinic.
Darius menunjuknya.
“Besok kita ke sana.”
Gideon langsung menghela napas.
“Jangan bilang kita bakal diperiksa juga.”
Darius menatapnya.
“Kalau kau takut diperiksa, jangan terluka.”
Gideon terdiam.
Lucian tertawa kecil.