Chapter 37 of 53
Bab 37 — Tempat Senjata Ditempa
867 words
Hari keempat orientasi dimulai dengan suara palu.
Tang!
Tang!
Tang!
Suara logam beradu terdengar bahkan sebelum Lucian dan kedua temannya mencapai bangunan tujuan.
Gideon langsung menoleh.
“Sekarang aku tahu kita ke mana.”
Di depan mereka berdiri sebuah bangunan besar dengan dinding batu tebal dan pintu besi.
Di atas pintu terdapat lambang pedang yang dikelilingi lingkaran rune.
Workshop Artefak & Senjata Sihir.
Lucian memperhatikan asap tipis yang keluar dari cerobong bangunan.
“Sepertinya tempat ini cukup sibuk.”
“Memang.”
Seorang pria pendek dengan tubuh kekar muncul dari dalam.
Janggutnya tebal dan sebagian sudah memutih. Kedua lengannya dipenuhi bekas luka kecil yang tampaknya berasal dari pekerjaan bertahun-tahun.
Dia mengenakan celemek kulit tebal.
“Borin Ironvale.”
Pria itu memperkenalkan dirinya dengan suara berat.
“Kepala Workshop.”
Tatapannya berpindah dari satu siswa ke siswa lainnya.
Kemudian berhenti pada Gideon.
“Kau membawa senjata?”
Gideon menunjuk sarung tangan logam yang terpasang di lengannya.
“Gauntlet.”
Borin mendekat.
Memeriksa sambungan.
Memukul bagian luarnya dengan jarinya.
Tok.
“Bagus.”
Gideon tersenyum.
“Terima kasih.”
“Bukan pujian.”
Senyum Gideon menghilang.
Lucian menahan tawa.
---
Mereka masuk ke dalam workshop.
Suasananya jauh lebih panas daripada bagian akademi lainnya.
Terdapat meja kerja panjang.
Rak-rak berisi logam.
Kristal mana.
Inti monster.
Batu rune.
Dan berbagai senjata.
Pedang.
Tombak.
Busur.
Dagger.
Bahkan beberapa senjata yang bentuknya tidak langsung dapat dikenali.
Di salah satu ruangan, seorang pekerja sedang memasukkan kristal ke dalam gagang pedang.
Borin menunjuk ke arahnya.
“Di sini kalian belajar satu hal.”
Dia mengangkat sebuah pecahan kristal.
“Senjata sihir bukan sekadar senjata yang diberi mana.”
Dia meletakkan kristal tersebut di atas meja.
“Material, struktur, rune, dan aliran mana harus bekerja bersama.”
Lucian mengangguk.
“Kalau salah satu tidak cocok?”
“Senjata bisa kehilangan kestabilan.”
Borin mengetuk kristal.
“Atau meledak.”
Gideon langsung mundur sedikit.
“Kenapa semua tempat di Orion selalu punya kemungkinan meledak?”
Valerine menjawab datar.
“Karena kau terlalu memikirkan ledakan.”
---
Di bagian belakang workshop, mereka menemukan ruang khusus.
Beberapa senjata berada di dalam kotak kaca.
Bukan untuk dipamerkan.
Melainkan untuk diamankan.
Borin menunjuk salah satunya.
“Artefak.”
Lucian mendekat.
Sebuah cincin tua berada di dalam kotak.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada aura mengerikan.
Namun beberapa rune kecil mengelilingi benda tersebut.
“Artefak berbeda dari senjata sihir biasa,” jelas Borin.
“Artefak memiliki fungsi tertentu yang telah tertanam dalam struktur material dan rune.”
Lucian memperhatikan cincin itu.
“Apakah artefak bisa dibuat ulang?”
Borin menggeleng.
“Bisa, kalau kita memahami mekanismenya.”
“Dan kalau tidak?”
“Ya, kita tidak bisa.”
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Borin meliriknya.
“Kau suka mengatakan itu?”
Lucian terdiam sesaat.
Gideon langsung tertawa.
Valerine menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa.
“Tidak juga,” jawab Lucian tenang.
Borin mendengus.
“Anak aneh.”
---
Di meja lain, seorang wanita sedang menggambar pola rune pada lembaran logam.
Rambutnya diikat sederhana.
Kacamata kerja bertengger di atas kepalanya.
“Selene Ward,” kata Borin. “Spesialis Rune Engineering.”
Selene mengangkat wajah.
“Oh, siswa baru.”
Dia melihat Lucian.
Kemudian melihat Gideon.
Kemudian Valerine.
“Jangan menyentuh apa pun tanpa izin.”
Gideon mengangkat kedua tangan.
“Aku bahkan belum menyentuh apa-apa.”
“Bagus.”
Selene kembali menggambar.
Borin menunjuk pola yang dibuatnya.
“Dia bertugas mengembangkan sistem rune baru.”
Selene langsung menyela.
“Dan memperbaiki desain lama yang dibuat terlalu keras kepala.”
Borin mengerutkan kening.
“Rune buatanku bekerja.”
“Bekerja bukan berarti efisien.”
“Efisien bukan berarti kuat.”
“Kalau tidak efisien, kau akan membuang mana.”
“Kau terlalu banyak berpikir.”
“Kau terlalu sedikit berpikir.”
Lucian dan Gideon saling memandang.
Valerine justru terlihat tertarik.
Perdebatan itu terdengar seperti sesuatu yang sudah terjadi berkali-kali.
Akhirnya Selene menghela napas.
“Begitulah mereka.”
Gideon menunjuk keduanya.
“Jadi kalian memang selalu seperti ini?”
Borin dan Selene menjawab bersamaan.
“Tidak.”
Mereka saling memandang.
Lalu kembali bekerja.
Gideon tertawa.
---
Sebelum meninggalkan workshop, Borin membawa mereka ke bagian latihan.
Di sana terdapat beberapa senjata latihan yang sudah dipasangi kristal mana berdaya rendah.
“Kalau kalian mengambil jalur Magic Weapon User,” katanya, “kalian akan sering berada di tempat seperti ini.”
Gideon langsung melihat berbagai senjata.
Matanya berhenti pada sebuah rak berisi gauntlet.
Lucian menyadarinya.
“Kau tertarik?”
“Sedikit.”
Gideon mengambil salah satu gauntlet latihan.
Borin langsung berkata,
“Jangan.”
Gideon berhenti.
“Kenapa?”
“Bukan ukuranmu.”
“Oh.”
Gideon meletakkannya kembali.
Lucian tersenyum.
“Setidaknya sekarang kau tahu.”
“Terima kasih atas dukungannya.”
“Sama-sama.”
---
Saat mereka keluar dari workshop, suara palu kembali terdengar.
Tang!
Tang!
Tang!
Lucian menoleh sekali lagi.
Ia mulai memahami sesuatu.
Orion bukan hanya tempat orang menggunakan sihir.
Di sini, orang-orang juga menciptakan sesuatu dari sihir.
Mengubah mana menjadi alat.
Menggabungkan ilmu pengetahuan dengan material.
Menciptakan senjata.
Membuat artefak.
Bahkan mungkin menciptakan teknologi yang belum pernah ada sebelumnya.
Lucian berjalan perlahan.
Kalau pengetahuan seperti ini dikembangkan lebih jauh...
Matanya tertuju pada gedung laboratorium di kejauhan.
Seberapa jauh dunia ini bisa berkembang?
Pertanyaan itu membuatnya tersenyum.
Namun sebelum dia sempat berpikir lebih jauh—
Krrraaa!
Suara burung terdengar dari arah barat.
Gideon menoleh.
“Itu suara apa?”
Valerine melihat ke arah yang sama.
Lucian juga.
Di balik beberapa gedung, terlihat area luas yang dipenuhi pepohonan.
Ada pagar tinggi mengelilinginya.
Beberapa bayangan bergerak di antara pepohonan.
Darius yang berjalan di depan berhenti.
“Besok kita akan mengunjungi tempat itu.”
Gideon mengangkat alis.
“Beast Garden?”
Darius mengangguk.
“Benar.”
Lucian memandang pepohonan tersebut.
Setelah pengalaman tujuh hari di hutan, rasa penasarannya langsung muncul.
Namun kali ini berbeda.
Hutan itu liar.
Sedangkan tempat di depan mereka adalah habitat yang sengaja dibangun oleh akademi.
Apa yang akan mereka temukan di dalamnya?
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”