Chapter 36 of 53
Bab 36 — Perpustakaan yang Tidak Pernah Tidur
1.1k words
Pagi berikutnya, Lucian sudah menunggu di depan Gedung Utama sebelum kelompok orientasi berkumpul.
Tidak seperti Gideon yang datang beberapa menit kemudian dengan wajah mengantuk, Lucian terlihat sangat bersemangat.
Valerine memperhatikannya.
“Kau menunggu sejak kapan?”
“Tidak lama.”
“Berapa lama?”
Lucian terdiam.
“...Tiga puluh menit.”
Gideon yang baru datang langsung menghela napas.
“Ini baru pertama kali aku melihat seseorang menunggu setengah jam hanya demi masuk perpustakaan.”
Lucian menoleh.
“Perpustakaan Orion memiliki koleksi dari seluruh kerajaan.”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
“Bagiku, itu sudah cukup.”
Valerine tersenyum tipis.
Hari itu, tujuan mereka adalah salah satu fasilitas paling terkenal di Akademi Orion.
Perpustakaan Orion.
---
Bangunannya berdiri sedikit terpisah dari Gedung Utama.
Berbeda dari laboratorium yang dipenuhi kristal dan mesin, perpustakaan terlihat jauh lebih klasik.
Dinding batu berwarna abu-abu.
Jendela tinggi.
Pintu kayu besar dengan ukiran bintang dan lingkaran sihir.
Di atas pintu terdapat tulisan:
Pengetahuan tidak memiliki akhir.
Begitu pintu dibuka, suasana langsung berubah.
Hening.
Sangat hening.
Bahkan langkah kaki terdengar jelas.
Namun di balik keheningan itu terdapat ribuan suara yang tidak terdengar.
Suara halaman yang pernah dibalik.
Suara penulis yang telah lama meninggal.
Suara penelitian yang mungkin mengubah dunia.
Lucian berdiri diam.
Matanya perlahan membesar.
Rak-rak buku memenuhi hampir seluruh ruangan.
Beberapa mencapai langit-langit.
Tangga kecil bergerak di sepanjang rak menggunakan jalur mana.
Ada buku fisik.
Dokumen tua.
Peta.
Arsip penelitian.
Bahkan kristal penyimpanan informasi.
Gideon melihat ekspresi Lucian.
“Jangan bilang kau mau tinggal di sini.”
Lucian tidak menjawab.
Itu sudah cukup sebagai jawaban.
---
Seorang wanita elf datang menghampiri mereka.
Rambut panjangnya tertata rapi dan beberapa helai bergerak perlahan tertiup angin meskipun tidak ada jendela terbuka.
“Aurelia Voss.”
Dia memperkenalkan dirinya.
“Kepala Perpustakaan Orion.”
Tatapannya lembut, tetapi sangat tegas.
“Selamat datang.”
Darius menyerahkan kelompok kepada Aurelia.
“Mulai dari sini, mereka berada di bawah tanggung jawabmu.”
Aurelia mengangguk.
Kemudian dia memandang seluruh siswa.
“Peraturan pertama.”
Semua siswa memperhatikan.
“Jangan berisik.”
Gideon mengangguk serius.
“Baik.”
“Peraturan kedua.”
Aurelia menunjuk sebuah rak.
“Jangan memindahkan buku tanpa mengembalikannya ke tempat yang benar.”
Beberapa siswa mulai mengangguk.
“Dan peraturan ketiga.”
Aurelia tersenyum tipis.
“Jangan pernah menganggap semua buku di sini aman untuk dibaca sembarangan.”
Suasana langsung berubah sedikit serius.
Lucian memperhatikan.
“Apakah ada buku berbahaya?”
“Bukan hanya buku.”
Aurelia berjalan melewati mereka.
“Beberapa pengetahuan bisa lebih berbahaya daripada senjata.”
Lucian mengikuti dengan pandangan.
Kalimat itu membuat rasa ingin tahunya meningkat.
Namun dia tidak bertanya lebih jauh.
Belum.
---
Mereka memasuki bagian pertama.
Ruang Sejarah.
Rak-raknya berisi catatan kerajaan, peperangan, perkembangan teknologi mana, perubahan politik, dan berbagai dokumen lama.
Lucian berjalan perlahan.
Tangannya hampir menyentuh sebuah buku ketika dia berhenti.
Judulnya:
Sejarah Perkembangan Mana dan Industri.
Ia mengambilnya.
Membuka halaman pertama.
Diagram sebuah mesin mana terlihat di sana.
Lucian membaca beberapa baris.
Kemudian mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Gideon bertanya.
“Tidak ada.”
Lucian menutup buku.
Valerine memperhatikannya.
“Kau menemukan sesuatu?”
“Bukan sesuatu yang penting.”
Lucian mengembalikan buku.
Namun pikirannya tetap tertinggal di halaman tadi.
Ada beberapa teori yang terasa...
aneh.
Bukan salah.
Hanya terlalu familiar.
Seolah ada bagian dari sejarah ini yang pernah ia pelajari.
Padahal seharusnya tidak.
Lucian menyingkirkan pikiran itu.
Jangan terlalu cepat menyimpulkan.
---
Mereka kemudian memasuki bagian penelitian.
Di sini buku-buku menjadi jauh lebih teknis.
Mana Circle.
Affinity.
Magic Weapon.
Magic Beast.
Magic Monster.
Tamer.
Rune.
Artifact.
Lucian berhenti cukup lama di bagian Affinity.
Salah satu buku menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki hubungan tertentu dengan mana dan dunia.
Lucian membaca beberapa halaman.
Common Affinity.
Unique Affinity.
Secondary Affinity.
Kemudian—
dia menemukan sebuah bagian mengenai Affinity yang tidak dapat dikategorikan.
Lucian berhenti.
Valerine menyadarinya.
“Masalah?”
“Tidak.”
Lucian menutup buku itu.
“Buku ini terlalu umum.”
Gideon mengangkat alis.
“Bukankah itu memang buku dasar?”
“Justru itu.”
Lucian tersenyum kecil.
“Pengetahuan dasar sering menyembunyikan hal yang paling menarik.”
Valerine menatapnya beberapa detik.
“Cara berpikirmu aneh.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Aku tahu.”
---
Di lantai dua, mereka menemukan ruang arsip.
Seorang pria manusia sedang mengatur dokumen.
Rambutnya pendek dan pakaiannya sederhana.
Aurelia memperkenalkannya.
“Edwin Hale. Spesialis sejarah dan politik.”
Edwin membungkuk.
“Selamat datang di Orion.”
Di meja sebelahnya terdapat tumpukan dokumen yang sangat tua.
Lucian melihat satu gulungan.
“Apakah semuanya berasal dari akademi?”
“Tidak.”
Edwin tersenyum.
“Sebagian berasal dari kerajaan. Sebagian lagi merupakan salinan dokumen lama.”
“Seberapa lama?”
“Beberapa ratus tahun.”
Lucian terdiam.
Ratusan tahun.
Angka itu kembali membuat pikirannya bergerak.
Namun sebelum dia bertanya lebih jauh, Edwin sudah melanjutkan.
“Dokumen yang terlalu tua biasanya dipindahkan ke arsip khusus.”
“Kenapa?”
“Karena sebagian sudah rusak. Sebagian sulit dibaca. Dan beberapa memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.”
Lucian mengangguk.
Dia tidak memaksa.
Tetapi satu hal masuk ke dalam pikirannya.
Kalau sebuah dokumen bisa bertahan selama ratusan tahun...
Apa lagi yang bisa bertahan?
---
Di ujung ruangan, seorang pria dwarf sedang memeriksa sebuah buku.
Tubuhnya pendek dan kekar.
Janggutnya dipenuhi beberapa helai uban.
Dia tidak menggunakan tongkat.
Tidak memakai kristal.
Namun ketika jarinya menyentuh sampul buku, dia langsung mengerutkan kening.
“Buku ini pernah terkena mana.”
Edwin menoleh.
“Benarkah?”
“Sedikit.”
Pria itu mengendus sampulnya.
“Dan tinta runenya dibuat dengan campuran kristal.”
Gideon tampak bingung.
“Bagaimana dia bisa tahu hanya dengan menyentuhnya?”
Aurelia menjawab.
“Dwarf tidak membutuhkan Affinity untuk merasakan mana yang tersimpan di dalam material.”
Lucian memperhatikan pria itu.
Kemampuan yang menarik.
Aurelia kemudian memperkenalkan.
“Thomas Reed. Spesialis material dan arsip artefak.”
Thomas hanya mengangguk.
“Salam.”
Kemudian kembali bekerja.
Lucian tersenyum kecil.
Setiap orang di Orion ternyata memiliki keahlian sendiri.
---
Sebelum tur berakhir, Aurelia membawa mereka ke balkon lantai tiga.
Dari sana, hampir seluruh kompleks Akademi Orion terlihat.
Gedung utama.
Laboratorium.
Arena.
Asrama.
Beast Garden.
Workshop.
Kantin.
Dan berbagai bangunan lain yang tersebar di antara pepohonan.
Lucian memandang semuanya.
Kemarin dia melihat Orion sebagai akademi.
Hari ini dia mulai melihatnya sebagai sebuah dunia kecil.
Tempat orang belajar.
Bekerja.
Makan.
Bertengkar.
Berteman.
Meneliti.
Dan mungkin...
menemukan sesuatu yang bahkan belum mereka cari.
Aurelia berdiri di samping mereka.
“Gunakan perpustakaan dengan baik.”
Lucian menoleh.
“Bolehkah saya datang sendiri di luar jadwal orientasi?”
Aurelia tersenyum.
“Tentu.”
“Berapa lama?”
“Selama perpustakaan masih buka.”
Mata Lucian langsung berbinar.
Gideon menepuk dahinya.
“Sudah. Kita kehilangan dia.”
Valerine tertawa kecil.
Lucian tidak peduli.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Orion, dia merasa menemukan tempat yang benar-benar cocok dengannya.
Namun ketika mereka hendak turun dari balkon, pandangannya berhenti pada satu menara tua di kejauhan.
Bangunan itu tidak tercantum dalam penjelasan tur.
Lucian memperhatikannya beberapa detik.
Kemudian dia mengalihkan pandangan.
Belum saatnya bertanya.
Perpustakaan saja sudah memberikan terlalu banyak pertanyaan untuk hari ini.
Lucian tersenyum.
“Menarik.”