Gideon akhirnya mengetahui satu hal penting tentang Akademi Orion.
Tur fasilitas ternyata jauh lebih panjang daripada yang ia bayangkan.
Setelah meninggalkan Gedung Utama, Captain Darius membawa kelompok siswa menuju bangunan besar di sisi timur akademi.
Bangunan itu memiliki tiga lantai dengan jendela-jendela tinggi. Beberapa cerobong kecil mengeluarkan uap tipis dari bagian belakangnya.
Di atas pintu masuk terdapat lambang kristal berwarna biru.
Laboratorium Mana.
Gideon langsung mengerutkan kening.
“Jangan bilang kita harus masuk ke sana juga.”
Darius menoleh.
“Memangnya kenapa?”
“Kelihatannya seperti tempat yang bisa meledak.”
Beberapa siswa tertawa.
Darius tetap datar.
“Justru karena itulah tempat ini memiliki aturan paling ketat.”
Mereka masuk.
---
Suasana di dalam laboratorium berbeda dari Gedung Utama.
Udara dipenuhi aroma logam, kristal, dan sesuatu yang samar-samar seperti ozon.
Di sepanjang dinding terdapat rak berisi berbagai jenis kristal.
Ada yang bening.
Ada yang biru.
Ada yang merah.
Bahkan beberapa memiliki warna yang sulit dijelaskan.
Di tengah ruangan, beberapa peneliti sedang bekerja di depan alat-alat aneh.
Sebuah tabung transparan berisi cairan bercahaya.
Sebuah mesin dengan kristal yang berputar perlahan.
Dan sebuah perangkat berbentuk lingkaran yang memancarkan cahaya setiap beberapa detik.
Lucian berhenti.
Matanya langsung tertuju pada perangkat tersebut.
“Mana stabilizer?”
Seorang pria muda yang sedang membawa beberapa dokumen berhenti.
Dia menatap Lucian.
“Kau tahu alat itu?”
Lucian baru sadar dirinya berbicara terlalu spontan.
“Sedikit.”
Pria itu tersenyum.
“Jarang ada siswa baru yang langsung mengenalinya.”
Dia kemudian menunjuk perangkat tersebut.
“Mana stabilizer. Fungsinya menjaga aliran mana tetap stabil ketika sebuah eksperimen membutuhkan energi dalam jumlah besar.”
Lucian mengangguk.
“Strukturnya menggunakan tiga lapisan kristal?”
“Benar.”
“Lapisan luar mengatur tekanan, lapisan tengah menyaring aliran, dan lapisan dalam menjaga resonansi.”
Pria itu terdiam.
Gideon menatap Lucian.
Valerine juga memperhatikan.
Pria tersebut kemudian tersenyum lebih lebar.
“Sepertinya kau benar-benar tahu.”
Lucian hanya tersenyum kecil.
“Pernah membaca tentangnya.”
Pria itu tertawa.
“Kalau begitu, aku ingin tahu buku apa yang kau baca.”
Dia mengulurkan tangan.
“Dr. Noel Argent. Peneliti Mana Engineering.”
Lucian menjabat tangannya.
“Lucian Eisenwald.”
Noel langsung berhenti sesaat.
“Eisenwald?”
Lucian mengangguk.
Namun sebelum percakapan berkembang, seorang wanita dari dalam laboratorium memanggil.
“Noel! Kristal nomor empat kembali tidak stabil!”
Wajah Noel berubah.
“Maaf.”
Dia berbalik dan berlari.
“Jangan sentuh apa pun!”
Gideon memandang Lucian.
“Menurutmu dia akan bilang itu sebelum atau sesudah sesuatu meledak?”
Lucian menahan senyum.
“Semoga sebelum.”
---
Tur dilanjutkan ke ruang kelas.
Di sinilah Lucian akhirnya melihat bagaimana kegiatan akademik Orion berlangsung.
Ruang kelas tidak jauh berbeda dengan sekolah biasa.
Meja.
Kursi.
Papan tulis.
Namun di samping papan tulis terdapat lingkaran sihir besar.
Beberapa kristal tertanam di lantai.
Darius menjelaskan bahwa setiap ruang kelas memiliki sistem pengaman mana.
Jika terjadi kesalahan saat latihan, energi dapat dialihkan ke kristal pengaman sehingga tidak langsung mengenai siswa.
Valerine memperhatikan susunan rune di lantai.
“Rune pertahanan?”
Darius mengangguk.
“Benar.”
“Dibuat oleh akademi?”
“Sebagian. Beberapa telah diperbarui berkali-kali.”
Valerine mencatat sesuatu.
Lucian melihatnya.
“Kau suka rune?”
“Bukan suka.”
Valerine menutup bukunya.
“Aku hanya tidak suka melihat sesuatu yang tidak kupahami.”
Gideon tertawa.
“Bukankah itu sama saja?”
“Tidak.”
Jawaban Valerine begitu cepat sampai Gideon terdiam.
Lucian tersenyum.
“Menarik.”
Valerine meliriknya.
“Kau juga begitu.”
“Benar.”
---
Mereka kemudian melewati sebuah ruang yang jauh lebih luas.
Pintu kayunya terbuka.
Di dalam, beberapa siswa senior sedang berlatih mengendalikan mana.
Seorang siswa mengangkat tangannya.
Api muncul.
Siswa lain menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi.
Yang lain membuat lapisan tanah menutupi tubuhnya.
Namun semuanya dilakukan dalam batas tertentu.
Tidak ada pertarungan liar.
Tidak ada ledakan besar.
Darius menjelaskan bahwa latihan dasar dilakukan dengan pengawasan.
“Orion tidak mengajarkan kalian bagaimana menjadi kuat dengan menghancurkan tubuh sendiri.”
Lucian memperhatikan.
Kalimat itu mengingatkannya pada kondisi tubuhnya sendiri.
Mana Lektatik Syndrome.
Kebutuhan mana dua kali lebih besar.
Lucian mengepalkan tangannya sebentar.
Dia sudah belajar mengatasinya.
Tetapi dia tahu...
Perjalanan itu belum selesai.
---
Di ujung lorong, seorang wanita berdiri di depan sebuah kelas.
Rambutnya tertata rapi.
Kacamata tipis bertengger di wajahnya.
Di tangannya terdapat tongkat putih sederhana.
“Profesor Celestine.”
Darius memberi salam kecil.
Wanita itu mengangguk.
“Bagaimana tur kalian?”
“Berjalan lancar.”
Celestine kemudian melihat para siswa.
“Selamat datang di Orion.”
Tatapannya berhenti sesaat pada Lucian.
Tidak lama.
Hanya sekilas.
Kemudian berpindah ke siswa lain.
“Di sini kalian akan mempelajari sesuatu yang lebih penting daripada sekadar mengeluarkan mana.”
Dia mengetuk tongkatnya ke lantai.
Sebuah lingkaran kecil muncul.
“Memahami mana.”
Lingkaran itu berputar perlahan.
“Mana bukan sekadar bahan bakar untuk mantra. Mana memiliki aliran, tekanan, resonansi, dan struktur.”
Lucian memperhatikan dengan serius.
Celestine melanjutkan.
“Kalau kalian hanya belajar bagaimana menjadi lebih kuat, kalian mungkin bisa menang dalam satu pertarungan.”
Lingkaran di lantai menghilang.
“Tetapi kalau kalian memahami mana... kalian bisa mengetahui kenapa kalian menang.”
Lucian tersenyum tipis.
Kalimat itu menarik perhatiannya.
Celestine lalu menunjuk ke arah lorong berikutnya.
“Dan kalau kalian ingin memahami mana lebih jauh, kalian akan sering bertemu dengan saya.”
Gideon berbisik.
“Dia terdengar seperti guru yang bakal memberi tugas banyak.”
Valerine menjawab tanpa melihatnya.
“Karena kemungkinan besar memang begitu.”
“Kenapa kalian berdua langsung percaya?”
Lucian tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Orion, dia merasa suasana akademi benar-benar seperti sekolah.
Bukan sekadar tempat untuk menjadi kuat.
Ada guru.
Ada penelitian.
Ada tugas.
Ada fasilitas.
Ada orang-orang dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Dan ada kehidupan yang terus berjalan di luar dirinya.
---
Ketika tur berakhir untuk hari itu, matahari sudah mulai condong.
Mereka kembali ke halaman utama.
Gideon meregangkan tubuh.
“Akhirnya selesai.”
Valerine menutup bukunya.
“Besok masih ada.”
Gideon langsung diam.
Lucian melihat ke arah gedung-gedung Orion.
Laboratorium.
Ruang kelas.
Gedung utama.
Menara.
Dan berbagai bangunan yang bahkan belum mereka datangi.
Ia tersenyum.
“Menarik.”
Gideon menatapnya.
“Apa?”
Lucian memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Akademi ini jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.”
Valerine mengangguk.
“Dan kita baru melihat sebagian kecil.”
Di kejauhan, lonceng Orion kembali berbunyi.
Dong...
Hari pertama mereka sebagai siswa resmi telah berakhir.
Namun orientasi belum selesai.
Dan besok...
mereka akan memasuki tempat yang mungkin paling disukai Lucian sejak pertama kali menginjakkan kaki di Orion.
Perpustakaan.