Chapter 34 of 53
Bab 34 — Jantung Akademi Orion
988 words
Pagi berikutnya, lonceng Akademi Orion berbunyi tepat ketika matahari mulai naik di atas menara.
Dong...
Suara itu terdengar sampai ke asrama.
Lucian sudah berada di halaman utama ketika sebagian besar siswa baru mulai berdatangan.
Hari itu tidak ada seragam khusus.
Mereka hanya diminta mengenakan pakaian yang nyaman karena kegiatan orientasi akan membawa mereka berjalan cukup jauh.
Lucian berdiri sambil memegang peta kecil Akademi Orion.
Di sebelahnya, Gideon masih terlihat mengantuk.
“Kenapa kau bisa bangun sepagi ini?” tanyanya.
Lucian menoleh.
“Karena kita akan melihat akademi.”
“Itu alasan yang sangat Lucian.”
Valerine datang beberapa saat kemudian dengan buku catatan di tangan.
“Kalau kalian sudah selesai berbicara, kelompok kita harus berkumpul di depan Gedung Utama.”
Gideon menghela napas.
“Baiklah.”
Mereka bertiga berjalan menuju titik berkumpul.
Di sana sudah terdapat beberapa kelompok siswa baru.
Seorang penjaga akademi berdiri di dekat tangga.
Tidak memakai armor berat.
Hanya seragam keamanan berwarna hitam-biru dengan lambang Orion di dada dan sebuah tombak pendek yang tersimpan di punggungnya.
Tatapannya tajam.
Ketika semua kelompok mulai berkumpul, dia maju.
“Selamat pagi.”
Suaranya tegas.
“Saya Captain Darius Veyne, Kepala Keamanan Akademi Orion.”
Beberapa siswa langsung berdiri lebih tegak.
Darius memandang mereka satu per satu.
“Selama beberapa hari ke depan, kalian akan mengenal fasilitas akademi. Namun sebelum itu, ada satu hal yang harus kalian pahami.”
Dia menunjuk ke sekeliling.
“Orion adalah tempat pendidikan.”
Dia berhenti.
“Tetapi Orion juga merupakan tempat yang dihuni oleh lebih dari seribu orang setiap harinya.”
Lucian memperhatikan.
“Artinya,” lanjut Darius, “aturan di sini bukan dibuat untuk membatasi kalian tanpa alasan.”
Dia menunjuk salah satu jalan.
“Beberapa tempat memiliki batas akses.”
Kemudian menunjuk gedung lain.
“Beberapa fasilitas memiliki risiko.”
Dan akhirnya menunjuk ke arah menara utama.
“Beberapa tempat menyimpan sesuatu yang tidak boleh disentuh sembarangan.”
Seorang siswa mengangkat tangan.
“Captain, apakah itu berarti ada fasilitas yang dilarang dimasuki siswa?”
Darius mengangguk.
“Ada.”
“Seperti apa?”
“Kalau kalian tidak memiliki izin untuk masuk, kalian tidak perlu tahu apa yang ada di dalamnya.”
Beberapa siswa tertawa kecil.
Darius tetap datar.
“Saya serius.”
Tawa langsung menghilang.
Gideon berbisik kepada Lucian.
“Dia tidak bercanda.”
Lucian mengangguk.
“Sepertinya memang begitu.”
---
Tur dimulai dari Gedung Utama Orion.
Begitu melewati pintu besar, Lucian langsung merasakan perbedaan suasana.
Bagian dalam gedung jauh lebih ramai daripada halaman.
Para profesor berjalan membawa dokumen.
Asisten akademi membawa tumpukan buku.
Beberapa siswa senior bergerak cepat menuju kelas.
Di sisi lain, dua teknisi sedang memperbaiki sebuah kristal mana yang tertanam pada dinding.
Tidak ada yang berdiri diam.
Semuanya bergerak.
Semuanya memiliki pekerjaan.
Lucian memperhatikan keadaan tersebut dengan saksama.
“Ini lebih ramai daripada yang kukira,” katanya.
Valerine mengangguk.
“Karena kegiatan akademi tidak berhenti hanya karena kita sedang orientasi.”
Mereka melewati aula utama.
Di sana terdapat sebuah lambang besar Akademi Orion yang terukir di dinding.
Di bawahnya terdapat nama-nama siswa yang pernah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah akademi.
Gideon berhenti.
“Lihat.”
Lucian ikut berhenti.
Beberapa nama tertulis dalam deretan panjang.
Ada yang berasal dari puluhan tahun lalu.
Ada yang bahkan berasal dari lebih dari satu abad sebelumnya.
Sebagian nama memiliki catatan prestasi di sampingnya.
Archmage.
Battle-Mage Legendaris.
Peneliti Mana.
Master Rune.
Grand Tamer.
Lucian membaca semuanya.
Tidak ada nama yang ia kenal.
Setidaknya...
Tidak ada yang seharusnya ia kenal.
Namun salah satu nama membuatnya berhenti sedikit lebih lama.
Bukan karena namanya familiar.
Melainkan karena tahun yang tercatat di bawahnya.
Lucian menyipitkan mata.
Sudah lama sekali.
Dia belum tahu kenapa, tetapi catatan sejarah Orion terasa aneh.
Namun dia tidak mengatakan apa pun.
Belum.
---
Setelah aula, mereka dibawa ke ruang administrasi.
Di sana terdapat beberapa meja kerja dengan kristal komunikasi, dokumen, dan perangkat mana.
Seorang staf menjelaskan bagaimana siswa mengurus:
jadwal kelas,
izin penggunaan fasilitas,
peminjaman alat,
kegiatan ekstrakurikuler,
laporan akademik,
dan berbagai urusan administratif lainnya.
Gideon tampak semakin bosan.
Lucian justru memperhatikan perangkat kristal komunikasi di meja.
“Apakah semua komunikasi akademi menggunakan kristal?”
Staf itu mengangguk.
“Sebagian besar. Beberapa bagian masih menggunakan dokumen tertulis karena alasan keamanan dan arsip.”
Lucian mengangguk.
Magitek.
Sekali lagi dia melihat bagaimana sihir telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bukan hanya senjata.
Bukan hanya mantra.
Tetapi komunikasi, transportasi, penerangan, pendidikan, bahkan administrasi.
Dunia ini benar-benar berkembang.
---
Tur kemudian berlanjut menuju sebuah lorong panjang.
Darius berhenti di depan beberapa pintu.
“Di sebelah kiri adalah ruang keamanan.”
Sebuah pintu terbuka.
Di dalam terdapat beberapa penjaga yang sedang memeriksa kristal komunikasi dan peta akademi.
Ada pula sebuah papan besar yang menampilkan denah Orion.
Beberapa titik menyala.
“Para penjaga bekerja sepanjang hari,” kata Darius.
“Bukan hanya menjaga gerbang. Kami mengawasi keadaan akademi, membantu siswa ketika terjadi kecelakaan, mengatur evakuasi, dan menjaga fasilitas yang memiliki risiko tinggi.”
Seorang penjaga di dalam ruangan mengangkat tangan.
“Captain, sektor timur sudah selesai diperiksa.”
Darius mengangguk.
“Catat.”
“Baik.”
Lucian memperhatikan percakapan itu.
Tidak ada yang dramatis.
Tidak ada pertarungan.
Namun justru itu yang membuatnya menarik.
Keamanan akademi berjalan bahkan ketika tidak ada ancaman.
Darius kemudian membawa mereka keluar.
“Kalau kalian melihat penjaga sedang bekerja, jangan menganggap mereka hanya berdiri di sana.”
Dia berjalan kembali.
“Mereka sedang memastikan kalian bisa belajar tanpa perlu memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya kalian pikirkan.”
Lucian memandang punggung Darius.
Kalimat itu membuatnya sedikit terdiam.
---
Menjelang siang, kelompok mereka keluar dari Gedung Utama.
Matahari sudah cukup tinggi.
Di kejauhan, terdengar bunyi bel kecil dari sebuah bangunan.
Kemudian aroma makanan mulai terbawa angin.
Gideon langsung berhenti.
“Apakah itu...”
Valerine menghela napas.
“Ya.”
Gideon tersenyum.
“Kantin.”
Darius melihat mereka.
“Benar.”
Gideon tampak senang.
“Tunggu. Kita langsung ke sana?”
“Tidak.”
Senyumnya hilang.
“Sekarang kita menuju fasilitas berikutnya.”
Gideon menatapnya seolah baru saja dikhianati.
Lucian menahan tawa.
Valerine hanya membuka buku catatannya.
Mereka kembali berjalan.
Di belakang mereka, Gedung Utama Orion tetap sibuk seperti sebelumnya.
Tidak ada yang memperhatikan tiga siswa baru yang baru saja meninggalkan tempat itu.
Dan mungkin memang begitu seharusnya.
Karena bagi Akademi Orion, hari mereka hanyalah satu dari ribuan hari yang telah dilewati.
Namun bagi Lucian, Gideon, dan Valerine...
Ini adalah hari pertama mereka benar-benar mengenal tempat yang akan menjadi bagian dari hidup mereka.
Dan masih banyak pintu yang belum mereka buka.