Chapter 33 of 53

Bab 33 — Lima Ratus Siswa

1.1k words

Pagi itu, halaman utama Akademi Orion dipenuhi oleh lima ratus orang. Tidak ada lagi suara benturan sihir. Tidak ada arena yang menyusut. Tidak ada Magic Monster yang muncul dari dalam tanah. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Orion, suasana terasa benar-benar tenang. Lima ratus peserta yang sebelumnya bertarung untuk bertahan kini berdiri dalam satu tempat sebagai orang-orang yang berhasil melewati seleksi pertama. Lucian berdiri di antara kerumunan sambil memandangi bangunan utama Akademi Orion. Menara-menara tinggi menjulang di antara gedung batu berwarna putih dan biru tua. Kristal mana tertanam di beberapa bagian bangunan, menghasilkan cahaya lembut yang bahkan masih terlihat meskipun matahari pagi sudah cukup terang. Jembatan-jembatan penghubung membentang di antara beberapa gedung. Dari kejauhan, terdengar suara mesin mana yang sedang bekerja. Akademi ini jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar. Gideon berdiri di sebelah Lucian. “Jadi... ini benar-benar tempat kita belajar sekarang.” Lucian mengangguk. “Sepertinya begitu.” Gideon menghela napas panjang. “Masih terasa aneh.” “Kenapa?” “Karena beberapa hari lalu kita masih berusaha supaya tidak tersingkir.” Gideon memandang kerumunan di depan mereka. “Sekarang setengah dari mereka sudah tidak ada.” Lucian tidak langsung menjawab. Matanya bergerak melewati para siswa. Ada yang tertawa bersama teman-temannya. Ada yang masih terlihat tegang. Ada pula yang berdiri sendirian, mungkin masih mencoba memahami kenyataan bahwa mereka berhasil masuk. Dari sepuluh ribu peserta. Hanya lima ratus. Lucian akhirnya berkata, “Seleksi memang sudah selesai.” Gideon menoleh. “Tapi?” Lucian memandang gedung utama. “Rasanya seperti sesuatu yang jauh lebih besar baru saja dimulai.” Valerine, yang berdiri tidak jauh dari mereka, mendengar kalimat itu. Dia menutup buku kecil yang sedang dibacanya. “Perasaanmu mungkin benar.” Gideon menoleh. “Kau juga berpikir begitu?” Valerine mengangguk. “Akademi Orion tidak membangun fasilitas sebesar ini hanya untuk mengajarkan dasar-dasar sihir.” Lucian tersenyum kecil. “Menarik.” Gideon langsung menggeleng. “Sudah mulai.” Valerine menatap Lucian. “Kau memang sering mengatakan itu.” Lucian hanya tersenyum. --- Lonceng besar di menara utama tiba-tiba berbunyi. Dong... Suara tersebut menyebar ke seluruh halaman. Percakapan para siswa perlahan berhenti. Beberapa profesor keluar dari gedung utama dan berdiri di tangga. Magnus Arkwright berada di bagian depan. Di sampingnya berdiri Celestine Virell, Edmund Vale, Seraphine Mordane, Rowan Everhart, dan Eveline Ashcroft. Kemudian seseorang muncul di belakang mereka. Alaric Noctis. Kepala Akademi Orion. Tidak ada tekanan mana yang dilepaskan. Tidak ada aura mengintimidasi. Dia hanya berdiri di sana dengan ekspresi tenang. Namun lima ratus siswa langsung diam. Alaric memandang mereka. “Selamat.” Satu kata. Sederhana. Tetapi cukup untuk membuat beberapa siswa tersenyum. “Kalian telah melewati seleksi pertama Akademi Orion.” Dia berhenti sebentar. “Dari sepuluh ribu peserta, lima ratus orang berdiri di sini hari ini.” Beberapa siswa menatap teman di sebelahnya. Sebagian mengepalkan tangan. Sebagian lagi hanya tersenyum lega. Alaric melanjutkan. “Namun jangan menganggap kelulusan ini sebagai akhir dari ujian.” Suasana kembali hening. “Mulai hari ini, kalian bukan lagi peserta.” Tatapan Alaric menyapu seluruh halaman. “Kalian adalah siswa Akademi Orion.” Tepuk tangan mulai terdengar. Awalnya hanya beberapa orang. Kemudian semakin banyak. Sampai akhirnya seluruh halaman dipenuhi tepuk tangan. Gideon ikut bertepuk tangan. Valerine juga. Lucian memandang ke depan sambil tersenyum tipis. Siswa Akademi Orion. Entah kenapa, kalimat tersebut terasa berbeda dari sekadar mendapatkan tiket masuk. --- Setelah sambutan Alaric selesai, Magnus maju. “Dalam beberapa hari ke depan, kalian tidak akan langsung mengikuti pelajaran.” Beberapa siswa terlihat lega. Magnus melanjutkan. “Orion akan mengadakan masa orientasi.” Sebuah papan kristal di belakangnya menyala. “Selama masa tersebut, kalian akan mengenal sistem akademi, aturan, lingkungan, serta berbagai fasilitas yang tersedia.” Beberapa tulisan muncul pada papan. Gedung Utama. Perpustakaan. Arena Pelatihan. Laboratorium. Klinik Akademi. Beast Garden. Bengkel Artefak. Kantin. Asrama. Lucian memperhatikan satu per satu. Matanya berhenti pada tulisan Perpustakaan. Gideon langsung menyadarinya. “Jangan bilang kau sudah memikirkan perpustakaan.” Lucian menoleh. “Aku hanya melihat.” “Tatapanmu berbeda.” Valerine tersenyum kecil. “Dia memang seperti itu.” Lucian mengabaikan komentar mereka dan kembali melihat papan. Magnus melanjutkan. “Orientasi ini bukan bagian dari penilaian akademik.” Beberapa siswa mulai berbicara pelan. “Namun,” lanjut Magnus, “kalian akan tinggal di lingkungan ini selama bertahun-tahun.” Dia menatap mereka dengan serius. “Karena itu, kenali tempat kalian.” Kalimat itu sederhana. Namun Lucian mengingatnya. Kenali tempat kalian. Dia kembali melihat gedung-gedung Orion. Selama ujian, dia hanya melihat akademi sebagai tempat yang harus dimasuki. Sekarang dia mulai melihatnya sebagai sebuah dunia kecil. Ada tempat belajar. Ada tempat berlatih. Ada tempat makan. Ada tempat beristirahat. Ada tempat untuk penelitian. Bahkan ada tempat untuk merawat Binatang Sihir. Orion bukan hanya sekolah. Akademi ini memiliki kehidupan sendiri. --- Setelah pengarahan selesai, para siswa mulai dibubarkan. Kelompok-kelompok kecil perlahan terbentuk. Lucian, Gideon, dan Valerine berjalan bersama meninggalkan halaman. Gideon melihat peta kecil yang diberikan kepada mereka. “Besok katanya tur dimulai.” Valerine mengangguk. “Kelompok orientasi akan dibagi berdasarkan daftar.” Gideon melihat nama mereka. “Sepertinya kita bertiga satu kelompok.” Lucian mengambil peta tersebut. “Bagus.” Gideon tersenyum. “Kenapa?” “Lebih mudah.” “Lebih mudah apa?” “Beradaptasi.” Valerine menatap Lucian. “Kau sudah menganggap kami sebagai kelompok?” Lucian berhenti sebentar. Kemudian mengangguk. “Untuk sementara.” Gideon tertawa. “Untuk sementara?” Lucian berjalan kembali. “Kita baru mulai.” Valerine tersenyum tipis lalu menyusul. Gideon menggeleng sambil tertawa kecil. “Orang ini memang susah ditebak.” Mereka bertiga berjalan melewati halaman. Belum ada persahabatan besar. Belum ada kelompok petualang. Belum ada janji untuk selalu bersama. Hanya tiga orang yang kebetulan berjalan dalam arah yang sama. Tetapi untuk saat ini, itu sudah cukup. --- Lucian berhenti di depan sebuah persimpangan. Di satu sisi terdapat jalan menuju gedung utama. Di sisi lainnya, jalan panjang menuju bangunan dengan jendela-jendela besar. Di kejauhan, dia bisa melihat atap sebuah bangunan yang tampaknya sangat luas. “Yang itu apa?” tanya Gideon. Valerine melihat peta. “Belum tertulis di sini.” Lucian memperhatikannya beberapa saat. Kemudian sebuah suara lonceng kecil terdengar dari kejauhan. Beberapa siswa lain berjalan melewati mereka. Akademi mulai kembali sibuk. Profesor memasuki gedung. Penjaga berjalan melewati halaman. Beberapa pekerja membawa kotak kristal mana. Dari salah satu bangunan, bahkan terdengar suara seperti palu yang sedang memukul logam. Lucian memandang semuanya. Satu demi satu. Untuk pertama kalinya, dia menyadari sesuatu. Selama ini dia selalu mencari jawaban di dalam buku. Namun mungkin... Tidak semua jawaban berada di perpustakaan. Mungkin beberapa jawaban berada di tempat-tempat yang bahkan belum pernah dia datangi. Lucian tersenyum. “Besok kita mulai.” Gideon mengangkat alis. “Mulai apa?” Lucian memandang Akademi Orion. “Mengenal rumah baru kita.” Mereka bertiga kemudian berjalan meninggalkan halaman. Di belakang mereka, lima ratus siswa mulai memenuhi akademi. Hari pertama mereka belum benar-benar dimulai. Namun untuk Lucian Fountayne Eisenwald, satu hal sudah jelas. Orion bukan lagi tujuan. Orion adalah awal.

End of Chapter 33