Chapter 32 of 53

Bab 32 — Hari Ketujuh: Heartwood

898 words

Setelah seluruh kelompok keluar dari hutan, mereka diarahkan menuju sebuah lapangan besar di Akademi Orion. Seribu peserta berdiri memenuhi tempat tersebut. Sebagian masih mengenakan pakaian yang kotor oleh tanah dan lumpur. Sebagian membawa laporan mereka. Yang lain terlihat kelelahan setelah tujuh hari bertahan di alam. Lucian berdiri bersama Gideon, Valerine, dan Julian. Astra tidak berada di antara mereka. Ia masih berada bersama rombongan pendamping di luar area ujian. Di depan seluruh peserta, enam profesor berdiri berjajar. Di tengah mereka terdapat seorang pria besar dengan rambut mulai memutih. Profesor Magnus Arkwright. Ia maju satu langkah. Suasana langsung hening. “Selamat.” Suara Magnus terdengar berat dan jelas. “Seleksi kedua telah selesai.” Beberapa peserta mulai berbisik. Magnus mengangkat tangan. “Namun sebelum hasil diumumkan, kalian berhak mengetahui alasan sebenarnya mengapa ujian ini diadakan.” Lapangan kembali sunyi. Lucian memperhatikan. Ini bagian yang sejak awal tidak pernah dijelaskan Orion. Magnus melanjutkan. “Akademi Orion tidak membutuhkan penyihir yang hanya mampu mengeluarkan sihir besar.” Beberapa peserta saling memandang. “Tidak membutuhkan penyihir yang hanya mampu bertahan hidup.” Ia berhenti sebentar. “Dan tidak membutuhkan penyihir yang menganggap setiap makhluk di luar sana sebagai musuh.” Tatapan Magnus menyapu seluruh peserta. “Dunia tempat kalian hidup jauh lebih luas daripada arena pertarungan.” Lucian diam. Kalimat itu menarik perhatiannya. “Magic Beast bukan Magic Monster.” “Lingkungan bukan sekadar tempat bertarung.” “Dan kekuatan bukan hanya tentang seberapa besar sesuatu dapat kalian hancurkan.” Magnus menunjuk ke arah hutan yang berada jauh di belakang akademi. “Selama tujuh hari, kalian ditempatkan di habitat Magic Beast untuk melihat bagaimana kalian bertindak ketika tidak ada guru yang berdiri di depan kalian.” “Bagaimana kalian menggunakan sumber daya.” “Bagaimana kalian memilih tempat tinggal.” “Bagaimana kalian menghadapi perubahan lingkungan.” “Bagaimana kalian bekerja sama.” “Bagaimana kalian memperlakukan makhluk lain.” “Dan yang paling penting...” Magnus berhenti. “Bagaimana kalian mengambil keputusan ketika tidak ada jawaban yang diberikan kepada kalian.” Suasana menjadi semakin tenang. Lucian menatap tanah sebentar. Sekarang ia mengerti. Mereka memang sedang diuji. Tetapi bukan dengan cara yang selama ini mereka bayangkan. --- Professor Rowan Everhart maju setelah Magnus. Senyumnya lebih santai. “Selama tujuh hari, kami mengamati kalian dari jauh.” Beberapa peserta langsung terkejut. “Ya. Kami melihat semuanya.” Rowan tersenyum. “Siapa yang membuang makanan.” “Siapa yang merusak lingkungan.” “Siapa yang memaksa Magic Beast mendekat hanya untuk mendapatkan laporan yang lebih bagus.” “Siapa yang membantu kelompok lain.” “Siapa yang memilih bertahan.” “Dan siapa yang memilih mengambil risiko.” Ia mengangkat sebuah dokumen. “Namun jangan salah paham.” “Tidak ada satu tindakan yang otomatis membuat kalian lulus atau gagal.” “Semua keputusan kalian dinilai berdasarkan situasi yang kalian hadapi.” Valerine memperhatikan dengan serius. Jadi tidak ada formula sederhana. Tidak ada satu jawaban benar. Yang dinilai adalah keseluruhan tindakan. --- Profesor Celestine Virell kemudian mengambil alih. “Seribu peserta memasuki seleksi kedua.” Ia mengangkat tangannya. Sebuah lingkaran sihir besar muncul di udara. Angka 1.000 muncul. Kemudian berubah menjadi— 500. “Lima ratus dari kalian akan melanjutkan perjalanan sebagai siswa Akademi Orion.” Lapangan langsung dipenuhi suara. Beberapa peserta tampak tegang. Yang lain mulai berbisik. Celestine melanjutkan. “Hasil akhir tidak ditentukan hanya dari laporan.” “Laporan kalian merupakan bagian dari penilaian.” “Namun seluruh tindakan kalian selama tujuh hari telah dicatat dan dinilai.” Di belakangnya muncul beberapa kategori. Observasi Magic Beast. Analisis dan Laporan. Pemanfaatan Medan. Sumber Daya Alam. Survival dan Adaptasi. Kerja Sama. Etika Lingkungan. Lucian membaca semuanya. Sekarang semua bagian yang selama ini terasa seperti kejadian acak mulai memiliki bentuk. --- Kemudian— suara langkah terdengar dari belakang. Semua profesor sedikit bergeser. Seorang pria berjalan menuju bagian depan. Rambut gelap. Wajah tenang. Tatapan sulit dibaca. Alaric Noctis. Kepala Akademi Orion. Seluruh lapangan langsung hening. Alaric berdiri di depan seribu peserta. Ia tidak membutuhkan suara keras untuk mendapatkan perhatian. “Orion tidak mencari manusia yang sempurna.” Ia memandang seluruh peserta. “Kalian masih muda.” “Sebagian dari kalian akan membuat keputusan buruk.” “Sebagian akan gagal.” “Sebagian mungkin memiliki kekuatan besar tetapi tidak tahu bagaimana menggunakannya.” Ia berhenti. “Dan sebagian mungkin memiliki kekuatan kecil tetapi tahu kapan harus menggunakannya.” Tatapannya berpindah perlahan. “Akademi ini ada untuk melihat apa yang bisa kalian lakukan dengan semua itu.” Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorakan. Hanya keheningan. Alaric kemudian berkata: “Mulai hari ini, kalian tidak lagi dinilai sebagai peserta ujian.” “Sebentar lagi kalian akan mengetahui apakah kalian menjadi bagian dari Akademi Orion.” Sebuah kristal besar di belakangnya menyala. Seribu nama mulai muncul. Satu demi satu. Nama-nama peserta bergerak dengan cepat. Kemudian berhenti. 500 nama. Nama peserta yang lolos. Peserta pertama bersorak. Sebagian menangis lega. Sebagian lainnya terdiam. Nama terus bergerak. Lucian memperhatikan layar kristal. Gideon berdiri di sampingnya. Valerine menahan napas. Julian menyipitkan mata. Kemudian— 4721 — Lucian Fountayne Eisenwald Nama itu muncul. Gideon langsung menepuk bahunya. “Selamat.” Lucian tersenyum kecil. “Begitu juga denganmu.” Beberapa nama lain muncul. 3914 — Gideon Cross. Valerine de Courcey. Julian juga muncul. Mereka berempat saling melihat. Tidak ada yang berteriak. Namun senyum mereka sudah cukup. Di sisi lain lapangan, sebuah nama muncul. Acheron Caelum Ravenhart. Ia hanya melihat layar. “Begitu ya.” Sementara beberapa peserta lain yang tidak menemukan nama mereka hanya berdiri diam. Seleksi telah berakhir. Dari 10.000 peserta awal, hanya 1.000 yang berhasil melewati seleksi pertama. Dari 1.000 peserta, hanya 500 yang sekarang berdiri sebagai calon siswa Akademi Orion. Dan di antara lima ratus nama itu— sebuah perjalanan baru akan dimulai. Lucian memandang langit. Cahaya matahari menyinari menara Orion. Ia tersenyum tipis. Tujuh hari di hutan telah memberinya satu hal yang tidak pernah bisa diberikan perpustakaan. Pengalaman. Dan mungkin... itulah alasan sebenarnya mengapa ia datang ke Orion.

End of Chapter 32