Pagi terakhir datang dengan langit yang cerah.
Setelah berhari-hari diguyur hujan, cahaya matahari akhirnya menembus sela-sela dedaunan dan jatuh di atas hutan yang masih basah.
Tetesan air berkilauan di ujung daun.
Udara terasa lebih segar.
Lucian berdiri di atas platform treehouse dan memandang ke bawah.
Tempat itu sudah tidak terlihat seperti saat mereka pertama kali datang.
Di atas pohon, beberapa Magic Beast chimpanzee-like bergerak di antara cabang.
Raka berada di salah satu cabang besar, mengawasi kelompoknya.
Di bawah, mulut goa buatan yang mereka bangun terlihat jelas di antara akar.
Beberapa Mossfang Wolf keluar perlahan.
Dua anak serigala bermain di dekat pintu masuk sebelum kembali mendekati induknya.
Lucian tersenyum.
“Berhasil.”
Gideon muncul di belakangnya.
“Sudah waktunya.”
Lucian mengangguk.
Hari ketujuh bukan waktunya untuk menjelajah.
Bukan waktunya untuk mencari lebih banyak Magic Beast.
Hari ini mereka harus menyelesaikan laporan.
---
Mereka berkumpul di platform utama.
Valerine membuka seluruh catatannya.
Ada begitu banyak halaman.
Hari pertama sampai hari keenam.
Makanan.
Perilaku sosial.
Perpindahan akibat hujan.
Tempat berlindung.
Hubungan antara kelompok.
Perlindungan terhadap anak.
Perubahan habitat.
Interaksi antarspesies.
Julian melihat tumpukan catatan itu.
“Kalau begini, laporan kita bisa jadi buku.”
Gideon tertawa.
“Bukankah itu bagus?”
“Bagus untuk kalian. Aku yang harus menulisnya.”
Valerine langsung menyerahkan beberapa lembar.
“Kau punya data pengukuran.”
Julian menatap lembaran tersebut.
“...Aku tarik kembali keluhanku.”
Lucian tersenyum.
Mereka mulai menyusun laporan bersama.
Namun kali ini Lucian tidak mengambil alih semuanya.
Ia membiarkan masing-masing anggota menuliskan apa yang mereka amati sendiri.
Gideon menulis tentang perlindungan kelompok.
Valerine menyusun pola sosial dan perubahan lingkungan.
Julian memasukkan data kelembapan, sumber daya, serta kondisi sekitar.
Lucian menghubungkan semuanya.
Ia tidak hanya menulis apa yang mereka lihat.
Ia menjelaskan hubungan antarperistiwa.
Hujan mengubah lingkungan.
Perubahan lingkungan mengubah jalur Magic Beast.
Perpindahan membuat mereka mencari tempat yang lebih tinggi.
Tempat tinggi menjadi lebih aman.
Pohon menjadi tempat berlindung.
Kemudian ruang bawah akar digunakan oleh spesies lain.
Sementara itu, manusia juga ikut mengubah lingkungan melalui pembangunan sederhana.
Namun perubahan tersebut tidak menghancurkan habitat.
Sebaliknya, beberapa Magic Beast memanfaatkannya.
Lucian menulis kalimat terakhir:
> “Sebuah ekosistem tidak selalu terbentuk karena satu spesies menguasai yang lain. Terkadang, keseimbangan muncul karena setiap makhluk menemukan tempatnya masing-masing.”
Valerine membaca kalimat tersebut.
“Bagus.”
Lucian mengangguk.
Kemudian menutup buku.
“Sudah selesai.”
---
Mereka mulai membereskan perlengkapan.
Tenda dilipat.
Peralatan masak dibersihkan.
Sisa makanan dikumpulkan.
Sampah dibawa pergi.
Tidak ada yang ditinggalkan sembarangan.
Namun ada satu hal yang tidak mereka bongkar.
Treehouse.
Gideon memandang bangunan sederhana itu.
“Kita tidak akan membongkarnya?”
Lucian menggeleng.
“Tidak perlu.”
Valerine memahami.
“Karena sudah digunakan Magic Beast?”
Lucian mengangguk.
“Kalau kita membongkarnya sekarang, kita justru menghilangkan tempat berlindung yang sudah mereka gunakan.”
Julian menatap ke atas.
“Berarti kita meninggalkan rumah kita.”
“Bukan rumah kita lagi,” kata Lucian.
Ia memandang Raka.
“Sekarang mereka yang menggunakannya.”
Raka menatap balik dari atas cabang.
Kemudian ia melompat ke platform.
Gideon sedikit terkejut.
Raka berdiri beberapa meter dari mereka.
Ia tidak mendekat.
Hanya melihat satu per satu.
Lucian berjongkok agar posisi mereka sejajar.
“Terima kasih.”
Raka memiringkan kepala.
Lucian tersenyum kecil.
“Jaga tempat ini.”
Raka mengeluarkan suara pendek.
Kemudian berbalik.
Ia melompat kembali ke cabang.
---
Sebelum pergi, mereka berdiri di bawah pohon.
Pohon besar yang selama tujuh hari menjadi pusat kehidupan mereka.
Gideon menyentuh batangnya.
“Kita harus memberinya nama.”
Julian langsung tertarik.
“Serius?”
Valerine tersenyum.
“Kenapa tidak?”
Mereka semua melihat pohon itu.
Lucian memperhatikan semuanya.
Treehouse di atas.
Goa di bawah.
Raka dan kelompoknya di antara cabang.
Mossfang Wolf di bawah akar.
Beberapa Magic Beast kecil bergerak di sekitar batang.
Semuanya berada di satu tempat.
Namun tidak saling menguasai.
Lucian meletakkan telapak tangannya di batang pohon.
“Heartwood.”
Gideon tersenyum.
“Jantung hutan.”
Lucian mengangguk.
“Tempat ini mungkin hanya sementara bagi kita.”
Ia melihat ke atas.
“Tapi bagi mereka...”
Tatapannya berpindah ke goa.
“...mungkin ini akan menjadi rumah.”
Tidak ada yang membantah.
Julian akhirnya tersenyum.
“Heartwood.”
Valerine mengangguk.
“Nama yang cocok.”
Gideon menepuk batang pohon sekali.
“Baiklah. Sampai jumpa, Heartwood.”
---
Mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
Lucian menjadi orang terakhir yang pergi.
Ia menoleh sekali lagi.
Raka masih berada di atas pohon.
Salah satu Mossfang Wolf berdiri di depan goa.
Dua Magic Beast kecil bergerak di antara akar.
Hutan tetap berjalan seperti biasa.
Lucian tersenyum.
“Menarik.”
Kemudian ia berbalik.
Mereka berjalan menuju titik evakuasi.
Di sana, para pengawas Orion sudah menunggu.
Satu per satu peserta mulai keluar dari hutan.
Ada yang terlihat kelelahan.
Ada yang membawa catatan penuh.
Ada yang bahkan tidak berhenti berbicara tentang apa yang mereka temukan.
Lucian, Gideon, Valerine, dan Julian berdiri bersama.
Tujuh hari telah selesai.
Namun mereka belum mengetahui hasilnya.
Mereka juga belum tahu apakah laporan mereka cukup untuk masuk ke dalam 500 peserta yang akan lolos.
Yang mereka tahu hanya satu.
Mereka datang ke hutan untuk mengikuti ujian.
Tetapi mereka pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar nilai.
Mereka meninggalkan sebuah tempat yang kini memiliki kehidupan sendiri.
Dan jauh di belakang mereka—
di bawah cahaya matahari pagi—
Heartwood tetap berdiri.