Chapter 30 of 53

Bab 30 — Hari Keenam: Rumah untuk Mereka

1.1k words

Hujan turun sejak dini hari. Tidak deras seperti malam sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat tanah kembali basah dan udara menjadi dingin. Lucian membuka pintu ruangan mereka dan melihat keadaan sekitar. Beberapa Magic Beast sudah kembali ke pohon besar itu. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di salah satu cabang tertinggi, seekor Magic Beast chimpanzee-like berdiri sendirian. Tubuhnya jauh lebih besar daripada anggota kelompok lainnya. Bulu hitam kecokelatan menutupi tubuhnya. Pola hijau bercahaya membentuk garis seperti daun di sepanjang bahu dan lengannya. Tatapannya tajam, tetapi tidak menunjukkan agresi. Ia hanya mengawasi. Lucian berhenti. “Yang itu.” Gideon ikut melihat ke atas. “Yang paling besar?” Lucian mengangguk. “Sepertinya dia pemimpin kelompok.” Valerine memperhatikan perilakunya. “Yang lain selalu bergerak mengikuti posisinya.” Julian menyandarkan tubuh ke batang pohon. “Berarti kita akhirnya menemukan bosnya.” Lucian menatap Julian. “Jangan menyebutnya bos.” “Kenapa?” “Dia bukan lawan kita.” Julian mengangkat kedua tangan. “Baik, baik.” Lucian kembali menatap makhluk itu. Ia belum tahu namanya. Namun mulai saat itu, dalam catatan mereka, ia disebut Raka. Bukan karena mereka memberikan nama kepadanya secara resmi. Hanya sebagai nama pengamatan untuk membedakan individu tersebut dari anggota kelompok lainnya. Raka turun perlahan. Ia berhenti beberapa meter dari mereka. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Kemudian ia melihat ke bawah. Ke tanah. Di sana terdapat beberapa jejak kaki baru. Lucian mengikuti pandangannya. Jejak itu berbeda. Lebih panjang. Lebih sempit. Dan memiliki empat jari yang jelas. “Serigala,” kata Valerine. --- Mereka mengikuti jejak tersebut. Tidak jauh dari pohon, mereka menemukan sekelompok Magic Beast baru. Serigala. Bukan serigala biasa. Tubuh mereka sedikit lebih besar, dengan bulu abu-abu gelap bercampur cokelat. Beberapa bagian kaki dan ekor memiliki pola hijau menyerupai lumut yang samar-samar bercahaya. Mata mereka berwarna kuning kehijauan. Mereka adalah Mossfang Wolf. Sekelompok kecil berdiri di bawah akar pohon besar. Beberapa serigala dewasa mengelilingi dua anak yang terlihat masih muda. Mereka tampak kelelahan. “Kenapa mereka berhenti di sini?” tanya Gideon. Lucian memperhatikan tanah. “Karena tempat ini lebih tinggi.” Ia menunjuk akar pohon. “Dan akar itu membentuk ruang kosong.” Benar. Di bawah akar besar terdapat celah yang cukup untuk satu atau dua serigala. Namun terlalu sempit untuk seluruh kelompok. Salah satu anak Mossfang Wolf mencoba masuk. Ia berhenti karena tubuhnya tersangkut. Induknya menariknya kembali. Lucian memperhatikan beberapa saat. Kemudian melihat pohon. Lalu melihat tanah. Sebuah ide muncul. “Kita bisa membuat tempat berlindung.” Gideon langsung memahami. “Goa?” Lucian mengangguk. “Tidak perlu besar.” Valerine membuka catatan. “Dengan sihir?” “Ya.” Julian tersenyum. “Akhirnya kita menggunakan sihir untuk sesuatu yang bukan bertarung.” Lucian menatapnya. “Dan tetap harus hati-hati.” --- Mereka memilih sisi pohon yang memiliki akar paling besar. Lucian memeriksa tanah di sekitarnya. Valerine menggunakan Mirage untuk membaca bentuk ruang dan memastikan tidak ada bagian tanah yang terlalu rapuh. Gideon memperkuat batu-batu di sekitar area tersebut. Julian menggunakan alat pengukur mana miliknya untuk memastikan tidak ada aliran energi alam yang terlalu kuat di bawah tanah. Mereka tidak menggali sembarangan. Mereka membuat ruang kecil yang mengikuti bentuk akar. Tanah dipadatkan. Batu ditarik dari bawah permukaan. Kemudian dibentuk menjadi dinding pendek yang mengikuti akar pohon. Lucian menggunakan Solar Genesis dengan sangat terbatas. Bukan untuk menghancurkan. Ia menggunakannya untuk memanaskan bagian batu tertentu agar lebih mudah dibentuk dan disatukan. “Jangan terlalu dalam,” kata Lucian. Gideon mengangguk. “Kenapa?” “Kita tidak boleh merusak akar utama.” Mereka bekerja selama beberapa jam. Perlahan, sebuah ruang terbentuk. Tidak ada pintu. Tidak ada jendela. Tidak ada dekorasi. Hanya sebuah mulut goa yang cukup lebar untuk Mossfang Wolf dewasa masuk dan keluar. Bagian dalamnya lebih tinggi daripada permukaan tanah. Dengan begitu, air hujan tidak mudah masuk. Julian melihat hasilnya. “Lumayan.” Gideon menatap goa itu. “Bukan rumah mewah.” “Memang bukan,” jawab Lucian. Ia melihat kelompok serigala. “Yang mereka butuhkan bukan rumah mewah.” --- Namun Mossfang Wolf belum langsung masuk. Pemimpin kelompok berdiri di depan goa. Ia mengendus udara. Melangkah satu kali. Berhenti. Kemudian melihat Lucian. Lucian tidak bergerak. Tidak memanggil. Tidak mendekat. Ia hanya membiarkan serigala itu memilih. Beberapa detik berlalu. Serigala tersebut akhirnya masuk. Ia memeriksa bagian dalam. Kemudian keluar lagi. Berjalan mengitari goa. Setelah yakin aman, ia mengeluarkan suara pendek. Anak-anaknya langsung berlari masuk. Gideon tersenyum. “Mereka menerimanya.” Lucian mengangguk. “Sepertinya.” Tiba-tiba terdengar suara dari atas. Uuk! Semua mendongak. Raka berada di cabang pohon. Ia memperhatikan goa tersebut. Kemudian melihat kelompok serigala. Salah satu Mossfang Wolf keluar dan berdiri di depan mulut goa. Raka tidak menyerang. Serigala juga tidak menggeram. Keduanya hanya saling memandang. Beberapa saat kemudian Raka berbalik dan kembali ke atas. Lucian memperhatikan. “Sepertinya mereka sudah menemukan batas masing-masing.” Valerine tersenyum tipis. “Yang satu di atas.” “Yang satu di bawah.” Gideon tertawa. “Dan kita di tengah.” Julian menunjuk treehouse. “Jangan lupa. Kita yang membangun semuanya.” Lucian melihat struktur kayu di atas. Kemudian goa di bawah. Ia baru menyadari sesuatu. Tempat yang awalnya mereka bangun hanya untuk melewati tujuh hari ujian mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan lagi sekadar perkemahan. Ada kehidupan di sana. --- Menjelang sore, mereka kembali ke platform. Raka dan beberapa anggota kelompoknya mulai menggunakan bagian bawah treehouse sebagai tempat berteduh dari hujan ringan. Mossfang Wolf berada di bawah. Beberapa Magic Beast kecil berkeliaran di sekitar akar. Tidak ada yang menguasai seluruh area. Tidak ada yang terusir. Mereka hanya menempati ruang yang berbeda. Lucian membuka buku catatannya. Ia menulis: > Hari keenam. Perubahan lingkungan setelah hujan membuat beberapa spesies berpindah tempat. Struktur pohon menyediakan perlindungan bagi kelompok simpanse, sementara ruang di bawah akar dapat menjadi tempat berlindung bagi Mossfang Wolf. Ia berhenti. Kemudian menambahkan: > Intervensi manusia harus mempertimbangkan kebutuhan spesies dan kondisi lingkungan, bukan sekadar menciptakan tempat yang terlihat nyaman. Valerine membaca dari samping. “Kalimat terakhir bagus.” Lucian menutup buku. “Karena itu yang paling penting.” Gideon menatap hutan. “Besok hari terakhir.” Julian menghela napas. “Cepat juga.” Lucian mengangguk. Besok mereka harus menyelesaikan laporan. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin segera meninggalkan tempat tersebut. Ia melihat Raka di atas pohon. Kemudian melihat anak-anak Mossfang Wolf yang mulai tidur di dalam goa. Hujan turun perlahan. Tetapi kali ini mereka semua memiliki tempat berlindung. Lucian tersenyum kecil. “Sepertinya kita tidak hanya menemukan sesuatu untuk ditulis dalam laporan.” Valerine menatapnya. “Lalu?” Lucian memandang pohon besar itu. “Kita meninggalkan sesuatu yang bisa mereka gunakan setelah kita pergi.” Di kejauhan, suara Raka terdengar sekali. Kemudian hutan kembali tenang. Hari keenam berakhir. Dan besok— ujian mereka akan berakhir, tetapi kehidupan baru di bawah pohon itu baru saja dimulai.

End of Chapter 30