Chapter 29 of 53
Bab 29 — Hari Kelima: Penghuni Hutan
1.0k words
Pagi hari kelima datang dengan suasana yang aneh.
Tidak ada suara Magic Beast di sekitar perkemahan.
Biasanya, sejak matahari mulai muncul, hutan sudah dipenuhi suara burung, serangga, dan berbagai makhluk yang bergerak mencari makanan.
Namun pagi itu terasa lebih sunyi.
Lucian berdiri di tepi platform pohon.
Ia melihat ke bawah.
Tidak ada satu pun Magic Beast chimpanzee-like yang terlihat.
“Semalam mereka masih di sini,” kata Gideon.
“Sekarang tidak ada,” jawab Valerine.
Julian keluar dari ruangan sambil merapikan rambutnya.
“Mungkin mereka juga butuh tidur.”
Lucian menggeleng.
“Bukan itu.”
Ia menunjuk tanah.
“Lihat.”
Ada jejak kaki.
Banyak.
Semuanya menuju satu arah.
Ke tempat suara keras terdengar semalam.
Gideon langsung memahami maksudnya.
“Mereka pergi ke sana.”
“Sepertinya.”
Lucian mengambil buku catatannya.
“Kita ikuti.”
---
Mereka berjalan lebih jauh daripada hari-hari sebelumnya.
Hutan semakin rapat.
Beberapa pohon tumbang membuat perjalanan lebih sulit. Tanah juga masih basah sehingga mereka harus berhati-hati agar tidak terpeleset.
Setelah sekitar satu jam berjalan, mereka mendengar suara.
Bukan suara Magic Beast.
Air.
Aliran air yang deras.
Mereka tiba di sebuah lereng.
Di bawahnya terdapat sebuah sungai kecil yang baru terbentuk akibat air hujan mengalir dari daerah yang lebih tinggi.
Namun yang membuat mereka berhenti adalah pemandangan di seberangnya.
Sekelompok besar Magic Beast chimpanzee-like berkumpul di sana.
Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang mereka lihat sebelumnya.
Ada puluhan.
Beberapa dewasa.
Banyak yang masih muda.
Dan di tengah kelompok itu—
terdapat beberapa Magic Beast yang lebih besar.
Tubuh mereka lebih kekar.
Pola hijau bercahaya di tubuh mereka juga lebih terang.
Lucian memperhatikan.
“Bukan spesies berbeda.”
Valerine mengangguk.
“Sepertinya variasi individu.”
“Bisa jadi.”
Di depan kelompok tersebut terdapat pohon besar yang tumbang.
Batangnya menutup sebagian jalur.
Dan di bawahnya—
beberapa Magic Beast kecil terjebak.
Salah satu yang dewasa berusaha mengangkat batang tersebut.
Tidak berhasil.
Yang lain ikut membantu.
Mereka mendorong bersama-sama.
Namun batang terlalu berat.
Gideon melihat situasi itu.
“Mereka sedang mencoba menyelamatkan yang kecil.”
Lucian mengangguk.
“Ya.”
Julian melihat mereka.
“Kita bantu?”
Lucian tidak langsung menjawab.
Ia melihat kelompok tersebut.
Kemudian melihat sungai.
Kemudian pohon tumbang.
“Kalau kita membantu, kita mengubah perilaku alami mereka.”
Valerine menatapnya.
“Benar.”
Gideon mengerutkan dahi.
“Tapi kalau kita tidak membantu?”
Lucian diam.
Salah satu anak Magic Beast mengeluarkan suara kecil.
Induknya terus mendorong batang.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap tidak berhasil.
Lucian akhirnya berkata,
“Kita tidak perlu mengambil alih.”
Ia menunjuk batang pohon.
“Kita bisa membuat jalurnya lebih ringan.”
Gideon tersenyum.
“Sekarang aku paham.”
---
Mereka mencari batang-batang kecil dan batu.
Dengan hati-hati, mereka membuat semacam penyangga di bawah bagian batang yang paling berat.
Gideon menggunakan kekuatan fisiknya.
Julian membantu mencari posisi yang tepat.
Valerine mengamati struktur batang.
Lucian mengarahkan.
Tidak ada sihir.
Mereka sengaja tidak menggunakan kemampuan mereka.
Setelah semuanya siap, Lucian mundur.
“Sekarang.”
Magic Beast dewasa kembali mendorong.
Batang bergerak sedikit.
Yang lain ikut mendorong.
GRAAAK!
Batang terangkat.
Anak-anak Magic Beast keluar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kelompok itu langsung mengeluarkan suara ramai.
Beberapa bergerak mengelilingi anak-anak mereka.
Salah satu induk memeluk anaknya dengan kedua lengannya.
Gideon tersenyum.
“Berhasil.”
Julian menghela napas lega.
“Untung kita tidak perlu bertarung.”
Lucian hanya memperhatikan.
Ia melihat cara kelompok itu berkumpul.
Tidak ada yang pergi begitu saja setelah anak-anak selamat.
Mereka menunggu sampai semua anggota aman.
Barulah kelompok itu bergerak.
Valerine menulis sesuatu.
Lucian bertanya,
“Apa?”
“Respons kelompok terhadap bahaya.”
Ia menunjukkan catatannya.
“Yang dewasa melindungi yang muda. Individu yang lebih kuat membantu membuka jalur. Setelah ancaman selesai, kelompok tetap berkumpul sebelum berpindah.”
Lucian mengangguk.
“Itu penting.”
Ia menambahkan satu kalimat di bukunya.
> Kekuatan individu dalam kelompok tidak hanya digunakan untuk mempertahankan diri, tetapi juga melindungi anggota lain.
---
Saat mereka hendak kembali, salah satu Magic Beast besar tiba-tiba menatap mereka.
Ia tidak menyerang.
Hanya melihat.
Kemudian ia mengambil sebuah buah dari tanah.
Ia meletakkannya di atas batu.
Lalu mundur.
Gideon terdiam.
Julian berkedip.
“Itu... buat kita?”
Lucian menatap buah tersebut.
Kemudian melihat Magic Beast itu.
Makhluk tersebut sudah berbalik dan mengikuti kelompoknya.
Valerine tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Julian mengambil buah itu.
“Berarti kita sekarang berteman dengan mereka?”
Lucian langsung menjawab,
“Jangan menyimpulkan terlalu cepat.”
Julian tertawa.
“Baik, Profesor.”
Lucian menghela napas.
Namun ia tersenyum.
---
Mereka kembali ke perkemahan menjelang sore.
Di sana, mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka duga.
Pohon tempat mereka membangun tempat tinggal ternyata sudah didatangi beberapa Magic Beast.
Bukan kelompok besar.
Hanya beberapa individu muda.
Mereka memanjat struktur kayu yang mereka buat.
Gideon langsung panik.
“Eh! Jangan rusak!”
Salah satu Magic Beast berhenti.
Menatap Gideon.
Kemudian duduk.
Julian menahan tawa.
“Sepertinya dia tidak peduli.”
Gideon menunjuknya.
“Itu rumah ujian kita!”
Lucian mengamati.
Tidak ada bagian yang rusak.
Justru beberapa Magic Beast hanya duduk di platform terbuka.
Tempat itu ternyata memberikan perlindungan dari tanah yang masih basah.
Mereka juga bisa melihat hutan dari ketinggian.
Lucian perlahan memahami sesuatu.
“Tempat ini menjadi menarik bagi mereka.”
Valerine melihat sekeliling.
“Karena kita membangunnya?”
“Bukan hanya itu.”
Lucian menunjuk bagian bawah pohon.
“Karena kondisi hutan berubah.”
Tanah basah.
Air masih tinggi.
Tempat-tempat rendah menjadi kurang nyaman.
Sedangkan pohon ini berada lebih tinggi.
Tempat mereka awalnya dibangun untuk manusia.
Namun bagi Magic Beast—
tempat itu juga bisa menjadi tempat berlindung.
---
Malam datang.
Kali ini kelompok mereka tidak menyalakan api besar.
Mereka hanya membuat api kecil.
Tidak ingin mengganggu Magic Beast yang mulai menggunakan area tersebut.
Salah satu Magic Beast muda duduk tidak jauh dari api.
Ia melihat nyala api.
Kemudian melihat mereka.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada agresi.
Hanya rasa ingin tahu.
Lucian membuka buku catatannya.
Hari kelima hampir selesai.
Ia membaca kembali semua catatan.
Hari pertama: makanan.
Hari kedua: struktur sosial.
Hari ketiga: perpindahan akibat perubahan lingkungan.
Hari keempat: tempat berlindung.
Hari kelima: kerja sama dan perlindungan kelompok.
Semuanya mulai terhubung.
Magic Beast tidak hidup secara acak.
Lingkungan memengaruhi mereka.
Hubungan sosial memengaruhi keputusan mereka.
Dan keputusan mereka juga memengaruhi lingkungan sekitar.
Lucian menutup buku.
“Ekosistem.”
Valerine menoleh.
“Ya.”
Gideon tersenyum.
“Lima hari dan kita akhirnya mulai melihat gambaran besarnya.”
Lucian memandang hutan.
“Belum.”
“Belum?”
“Masih ada dua hari.”
Tiba-tiba—
GROOOOM.
Suara guntur terdengar dari kejauhan.
Semua terdiam.
Langit kembali menghitam.
Lucian menatap awan.
Hujan besar mungkin akan datang lagi.
Dan kali ini—
mereka sudah mengetahui satu hal.
Ketika alam berubah, seluruh penghuni hutan akan ikut berubah.