Chapter 2 of 53

Bab 2 — Kehidupan Kedua

1.2k words

Tangisan bayi memenuhi sebuah kamar yang diterangi cahaya lembut dari kristal mana. Aurelius Vance—atau lebih tepatnya, jiwa yang dahulu dikenal dengan nama itu—perlahan membuka matanya. Pandangan pertamanya dipenuhi wajah-wajah asing. Seorang wanita dengan rambut panjang terurai menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya berdiri seorang pria yang tampak begitu lega hingga senyumnya sulit disembunyikan. “Dia sehat,” ucap pria itu pelan. Wanita tersebut tersenyum. “Ya… anak kita.” Aurelius ingin bertanya. Siapa mereka? Di mana dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi setelah kematiannya? Namun tidak satu pun pertanyaan itu dapat keluar. Yang terdengar hanya tangisan kecil dari tubuh mungil yang bahkan belum mampu mengendalikan kepalanya sendiri. Ia terdiam. Jadi… aku benar-benar mendapatkan kesempatan kedua? Ingatan tentang kematiannya masih jelas. Menara Putih. Wajah-wajah yang memanggilnya monster. Albert. Dan suara misterius seorang wanita yang mengatakan bahwa harapannya akan dikabulkan. Namun sebelum ia dapat memahami semuanya, tubuh kecil itu kembali memaksanya tertidur. --- Bulan-bulan pertama kehidupan barunya berlalu dengan lambat. Aurelius mulai memahami bahwa nama barunya adalah Lucian Eisenwald. Pria yang selalu berada di sisinya adalah Arthur Eisenwald, ayahnya. Sedangkan wanita yang merawatnya dengan penuh kelembutan adalah Eleanor Eisenwald, ibunya. Lucian tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari bahwa kehidupan ini berbeda. Arthur sering bercanda. Eleanor selalu memastikan dirinya nyaman. Para pelayan memperlakukannya dengan penuh perhatian. Tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna. Tidak ada seseorang yang memaksanya menjadi penyihir hebat. Bagi keluarga Eisenwald, Lucian bukanlah pewaris yang harus memenuhi ambisi keluarga. Ia hanyalah anak mereka. Dan entah mengapa, hal sederhana itu terasa begitu asing bagi seseorang yang pernah menjalani hidup seperti Aurelius. Pada bulan-bulan berikutnya, Lucian mulai mengamati dunia di sekitarnya. Ia memperhatikan lampu kristal yang menyala tanpa api. Kendaraan yang bergerak tanpa ditarik kuda. Kereta yang melaju di atas jalur besi. Bahkan mesin-mesin besar yang bekerja di kejauhan dengan bantuan energi mana. Dunia ini menggunakan sihir dengan cara yang berbeda. Lebih praktis. Lebih terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Aurelius pernah mempelajari sihir selama puluhan tahun, tetapi dunia seperti ini tidak pernah ia kenal. Hal itu membuat rasa ingin tahunya kembali tumbuh. --- Ketika berusia satu tahun, Lucian mulai berjalan. Arthur menyambut langkah pertamanya seolah putranya baru saja memenangkan perang. Eleanor bahkan hampir menangis karena bahagia. Lucian hanya berdiri sambil berpegangan pada meja. Dalam hati ia merasa heran. Bukankah aku hanya berjalan? Namun ketika melihat kedua orang tuanya tersenyum, ia akhirnya ikut tersenyum. Mungkin memang ada sesuatu yang menyenangkan dari memiliki orang-orang yang selalu merayakan keberadaanmu. Saat usianya menginjak dua tahun, kemampuan bicaranya mulai berkembang. Ia mulai bertanya tentang berbagai hal yang menarik perhatiannya. Tentang kristal. Tentang mesin. Tentang mana. Tentang mengapa lampu bisa menyala tanpa api. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Arthur beberapa kali hanya bisa tertawa. “Anakku ini baru dua tahun, tapi pertanyaannya sudah seperti ilmuwan.” Lucian tidak mengerti mengapa itu dianggap aneh. Baginya, dunia memang penuh pertanyaan. Dan ia ingin mengetahui jawabannya. --- Memasuki usia tiga tahun, Lucian mulai sering mengunjungi perpustakaan keluarga. Awalnya ia hanya melihat-lihat gambar dan buku sederhana. Namun tidak lama kemudian, ia mulai membaca. Semakin banyak yang ia baca, semakin jelas perbedaan dunia ini dengan dunia yang pernah ia kenal. Sihir bukan lagi sekadar alat untuk pertempuran. Mana telah menjadi bagian dari industri. Para penyihir bekerja bersama pengrajin dan penemu. Kristal mana digunakan sebagai sumber energi. Kereta api mulai menghubungkan berbagai kota. Kendaraan bertenaga mana mulai digunakan oleh kalangan tertentu. Dunia sedang bergerak menuju sebuah era baru. Lucian merasa seperti seseorang yang terbangun setelah tidur selama ratusan tahun. Segalanya terasa asing. Namun justru karena itulah ia menikmatinya. --- Pada usia empat tahun, Lucian sudah dapat membaca dengan lancar. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya. Ia bisa menghabiskan berjam-jam di sana, berpindah dari satu buku ke buku lainnya. Kadang Eleanor harus memanggilnya beberapa kali sebelum ia sadar bahwa waktu makan telah tiba. “Lucian.” Tidak ada jawaban. “Lucian.” Masih tidak ada jawaban. Eleanor akhirnya berdiri di depan bukunya. “Waktunya makan.” Lucian mengangkat kepala. “Oh.” Eleanor tersenyum. “Kau membaca sejak tadi pagi.” Lucian melihat ke arah jendela. Matahari ternyata sudah hampir tenggelam. “...Cepat sekali.” Eleanor tertawa kecil. “Buku tidak akan pergi ke mana-mana.” Lucian menutup bukunya. “Baik.” Ia bangkit dan mengikuti ibunya. Tanpa disadari, kehidupan keduanya mulai mengubah dirinya. Dulu, Aurelius mengejar pengetahuan karena hampir tidak memiliki apa pun selain itu. Sekarang Lucian memiliki sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Sebuah rumah. Sebuah keluarga. Dan seseorang yang selalu menunggunya pulang dari perpustakaan. --- Ketika Lucian berusia lima tahun, sesuatu yang baru terjadi. Suatu sore, Arthur dan Eleanor memanggilnya ke ruang keluarga. Lucian datang dengan sebuah buku yang masih berada di tangannya. Arthur tersenyum. “Duduklah. Ayah dan Ibu ingin memberitahumu sesuatu.” Lucian duduk. Eleanor kemudian berkata pelan, “Sebentar lagi kau akan punya seorang adik.” Lucian terdiam. “Adik?” Arthur mengangguk. “Ibumu sedang mengandung.” Pandangan Lucian langsung beralih kepada Eleanor. Kemudian perlahan turun ke perut ibunya. Seorang adik. Entah mengapa, dua kata itu terasa begitu besar. Dalam kehidupan pertamanya, Aurelius bahkan tidak pernah mengenal ibunya. Ia tidak memiliki kenangan tentang rumah yang hangat. Tidak memiliki seseorang yang menunggunya pulang. Dan sekarang… ia akan memiliki seorang adik. Lucian tersenyum kecil. “Kalau begitu…” Ia berhenti sejenak. “Aku juga harus menjaga Ibu.” Eleanor terdiam, lalu tersenyum lembut. “Kau tidak perlu khawatir berlebihan. Ayah akan menjaga Ibu.” “Aku tahu.” Lucian menatap ibunya. “Tapi aku tetap ingin membantu.” Sejak hari itu, kebiasaannya berubah. Ia masih membaca. Ia masih menghabiskan waktu di perpustakaan. Namun tidak lagi selama sebelumnya. Jika Eleanor sedang beristirahat, Lucian akan berada di dekatnya. Jika ibunya berjalan di taman, ia ikut menemani. Jika Eleanor merasa lelah, ia akan menutup bukunya tanpa diminta. Bagi orang lain, itu mungkin hanya perhatian seorang anak kepada ibunya. Namun bagi Lucian, ada alasan yang jauh lebih dalam. Ia tidak ingin kembali menjalani kehidupan tanpa pernah mengenal sosok seorang ibu. Kali ini, ia ingin menghargai kesempatan yang diberikan kepadanya. Sembilan bulan berlalu. --- Hari kelahiran itu akhirnya tiba. Tangisan bayi terdengar dari balik pintu kamar. Lucian yang sejak tadi menunggu langsung berdiri. Arthur keluar beberapa saat kemudian. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan. “Lucian.” “Apa?” Arthur tersenyum. “Adikmu sudah lahir.” Lucian segera masuk. Eleanor berbaring dengan lelah, tetapi senyum di wajahnya begitu hangat. Dalam pelukannya terdapat seorang bayi perempuan. Lucian mendekat perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap. Bayi itu begitu kecil. Begitu rapuh. Namun entah mengapa, melihatnya membuat dada Lucian terasa hangat. “Dia cantik,” ucap Eleanor. Arthur tertawa kecil. “Kita belum memberinya nama.” Lucian menoleh. “Belum?” Eleanor menggeleng. “Kami ingin kau ikut memilih.” Lucian kembali menatap bayi itu. Selama beberapa bulan terakhir, ia telah memikirkan banyak nama. Namun tidak ada satu pun yang terasa tepat. Sampai akhirnya satu nama muncul begitu saja di pikirannya. “Clara.” Arthur mengangkat alis. “Clara?” Lucian mengangguk. “Namanya Clara.” Eleanor mengulanginya perlahan. “Clara Eisenwald…” Senyumnya semakin lebar. “Indah.” Arthur mengangguk. “Kalau begitu, Clara.” Lucian mendekat. Ia mengulurkan satu jarinya. Tangan kecil bayi itu bergerak perlahan dan menggenggamnya. Lucian terdiam. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Senang bertemu denganmu, Clara.” Untuk pertama kalinya sejak kehidupan keduanya dimulai, Lucian menyadari sesuatu. Ia tidak lagi hanya hidup untuk mencari jawaban. Kini ada seseorang yang ingin ia jaga. Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, ia merasa bahwa mungkin… ia benar-benar telah menemukan rumah.

End of Chapter 2