Chapter 28 of 53
Bab 28 — Hari Keempat: Tempat yang Lebih Tinggi
1.0k words
Pagi hari keempat dimulai tanpa hujan.
Namun hutan belum kembali seperti sebelumnya.
Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan. Tanah masih basah, beberapa bagian bahkan berubah menjadi lumpur. Sungai yang berada tidak jauh dari perkemahan juga masih mengalir deras.
Lucian berdiri di atas platform pohon sambil memandangi sekeliling.
“Airnya belum surut.”
Gideon muncul sambil membawa wadah air.
“Dan kalau hujan turun lagi, kemungkinan besar akan naik.”
Valerine membuka catatannya.
“Kelompok Magic Beast yang kita lihat kemarin juga belum kembali.”
Julian menguap.
“Berarti mereka sudah pindah?”
“Mungkin,” jawab Lucian.
Ia kemudian melihat ke arah pepohonan yang lebih tinggi.
“Kalau begitu, kita ikuti.”
Gideon mengangkat alis.
“Kita?”
“Kita perlu tahu ke mana mereka pergi.”
Julian langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Kenapa aku merasa bagian 'kita' selalu mencakup aku?”
“Karena memang mencakupmu.”
“...Jawaban yang buruk.”
---
Mereka meninggalkan perkemahan setelah memastikan semua barang aman.
Lucian membawa buku catatan.
Valerine membawa peralatan pengamatan.
Gideon membawa sebagian besar perlengkapan kelompok.
Julian membawa tasnya yang tetap saja penuh dengan benda-benda aneh.
Mereka mengikuti jejak Magic Beast yang terlihat di tanah.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin tinggi permukaan tanah.
Pohon-pohon juga menjadi lebih besar.
Beberapa memiliki akar yang mencuat dari tanah seperti dinding alami.
Lucian berhenti.
“Di sini.”
Valerine ikut berhenti.
Di depan mereka terdapat sebuah area terbuka kecil.
Namun yang menarik bukan tempatnya.
Melainkan apa yang ada di sekelilingnya.
Banyak buah.
Kulit buah.
Ranting yang patah.
Dan bekas tempat tidur dari daun.
Gideon melihat sekeliling.
“Tempat mereka beristirahat?”
“Sepertinya,” jawab Valerine.
Lucian berjongkok.
Ia menyentuh tanah.
“Bukan tempat tinggal tetap.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Tidak ada struktur yang cukup kuat.”
Ia menunjuk beberapa ranting.
“Ini lebih seperti tempat persinggahan.”
Valerine menulis.
“Jadi mereka berpindah-pindah mengikuti kondisi lingkungan.”
“Belum tentu.”
Lucian berdiri.
“Kita baru menemukan satu tempat.”
Valerine berhenti menulis.
Kemudian mengangguk.
“Benar.”
Julian menyeringai.
“Kalau semua kesimpulan harus punya bukti sebanyak itu, laporan kalian bakal setebal buku.”
Lucian menatapnya.
“Memang seharusnya begitu.”
Julian menghela napas.
“Kenapa aku masuk kelompok orang serius?”
Gideon menepuk bahunya.
“Karena kau sendiri yang ikut.”
“...Aku menyesal.”
---
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tak lama kemudian, suara terdengar dari atas.
Uuk! Uuk!
Mereka mendongak.
Beberapa Magic Beast chimpanzee-like melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Namun kali ini mereka tidak berhenti untuk bermain.
Mereka membawa makanan.
Beberapa bahkan membawa anak mereka.
Lucian mengamati arah pergerakan mereka.
“Mereka menuju tempat yang lebih tinggi.”
Gideon mengangguk.
“Karena banjir?”
“Bisa jadi.”
Valerine menunjuk ke sisi lain.
“Atau karena makanan.”
Di sana terdapat pepohonan yang menghasilkan buah berbeda.
Lebih banyak.
Lebih matang.
Kelompok Magic Beast itu berhenti di sana.
Mereka mulai makan.
Beberapa individu muda bermain di antara cabang.
Yang dewasa mengawasi.
Lucian memperhatikan cukup lama.
Tidak ada perebutan besar.
Ketika satu individu menemukan buah dalam jumlah banyak, ia tidak langsung mengambil semuanya.
Sebagian diberikan kepada yang lebih kecil.
Gideon tersenyum.
“Mereka berbagi.”
Lucian mengangguk.
“Setidaknya dalam kondisi tertentu.”
Valerine menambahkan.
“Dan mereka mengenali anggota kelompoknya.”
Lucian menatap salah satu anak Magic Beast.
Induknya menyentuh kepalanya sebelum kembali mencari makanan.
Gerakannya sederhana.
Tetapi jelas.
Ada ikatan.
Lucian menulis:
> Hubungan sosial tampaknya memengaruhi pola makan, perlindungan, dan perpindahan kelompok.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
> Perlu pengamatan lebih lanjut.
---
Siang hari, mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka duga.
Sebuah pohon besar tumbang akibat hujan dan tanah yang terlalu basah.
Akarnya terangkat.
Di bawah akar terdapat ruang kosong.
Beberapa Magic Beast kecil berlindung di sana.
Gideon mendekat satu langkah.
Lucian langsung mengangkat tangan.
“Jangan.”
Gideon berhenti.
“Mengapa?”
“Mereka sedang berlindung.”
Gideon mengangguk.
Mereka mundur.
Tidak mengusik.
Tidak mengambil apa pun.
Tidak mencoba melihat lebih dekat.
Beberapa menit kemudian, salah satu Magic Beast kecil keluar.
Ia melihat mereka.
Diam beberapa detik.
Lalu kembali masuk.
Julian tersenyum.
“Sepertinya kita tidak dianggap ancaman.”
Lucian menjawab,
“Atau mereka belum menganggap kita penting.”
“Bedanya?”
“Besar.”
Julian tertawa kecil.
“Ya juga.”
---
Menjelang sore, mereka kembali ke perkemahan.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Di sekitar pohon tempat mereka membangun base, beberapa Magic Beast chimpanzee-like mulai muncul.
Satu.
Dua.
Lalu beberapa lagi.
Mereka tidak mendekat.
Mereka hanya duduk di cabang-cabang pohon sekitar.
Gideon menatap mereka.
“Mereka mengikuti kita?”
Lucian mengamati arah pandangan mereka.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Mungkin tempat ini menarik bagi mereka.”
Valerine memperhatikan pohon tempat mereka tinggal.
Platform kayu yang mereka buat berada cukup tinggi dari tanah.
Atap sederhana mereka membuat bagian atas pohon relatif terlindung dari hujan.
Dan setelah hujan deras, tanah di sekitar pohon menjadi lebih basah.
Lucian perlahan memahami sesuatu.
“Tempat ini mungkin lebih aman sekarang.”
Valerine menatapnya.
“Bagi mereka?”
Lucian mengangguk.
“Bagi mereka.”
---
Malam datang.
Kelompok mereka menyalakan api unggun kecil di tanah.
Magic Beast masih berada di sekitar.
Tidak menyerang.
Tidak meminta makanan.
Hanya mengamati.
Gideon melemparkan kayu ke api.
“Kalau mereka terus berada di sini, besok kita mungkin punya penonton lagi.”
Julian tertawa.
“Semoga mereka tidak ikut ujian.”
Valerine menutup catatannya.
“Justru keberadaan mereka bisa menjadi bagian penting dari laporan.”
Lucian memandang ke atas.
Salah satu Magic Beast muda sedang duduk di cabang rendah.
Matanya mengarah pada api.
Ia tampak penasaran.
Lalu ia mengambil ranting kecil.
Menyentuhnya ke tanah.
Kemudian menirukan gerakan Julian ketika sedang mengaduk api.
Julian terdiam.
“...Dia meniru aku lagi.”
Gideon tertawa.
Lucian ikut tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian—
BRUK!
Suara keras terdengar dari kejauhan.
Semua langsung diam.
Kelompok Magic Beast di atas pohon juga bereaksi.
Beberapa langsung memanggil anggota kelompoknya.
Yang dewasa bergerak ke posisi luar.
Lucian berdiri.
“Itu bukan suara pohon tumbang.”
Valerine memandang ke arah suara.
“Magic Beast?”
“Belum tahu.”
Gideon mengepalkan tangannya.
“Apa kita harus pergi melihat?”
Lucian menatap hutan gelap di depan mereka.
Kemudian ia melihat kelompok Magic Beast.
Mereka tidak lari.
Mereka hanya berkumpul lebih rapat.
Seolah-olah mereka mengenali suara itu.
Lucian mengambil buku catatannya.
“Besok kita cari tahu.”
“Kenapa tidak sekarang?” tanya Gideon.
Lucian menggeleng.
“Karena malam hari, kita tidak tahu apa yang ada di depan.”
Ia menatap api unggun.
“Dan ujian ini bukan tentang siapa yang paling berani mengambil risiko.”
Gideon tersenyum.
“Benar juga.”
Di kejauhan, terdengar suara lain.
BRUK!
Kali ini lebih dekat.
Kelompok Magic Beast kembali bersuara.
Lucian mengangkat pandangan.
Sesuatu sedang bergerak di dalam hutan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki wilayah itu—
Magic Beast yang selama ini mereka amati tampak benar-benar waspada.