Chapter 27 of 53

Bab 27 — Hari Ketiga: Hutan yang Berubah

951 words

Hujan yang turun sejak malam sebelumnya belum benar-benar berhenti. Pagi datang dalam keadaan yang berbeda dari hari pertama mereka memasuki hutan. Tanah menjadi lembek. Daun-daun basah meneteskan air. Kabut tipis menggantung di antara batang pohon, sementara suara aliran sungai terdengar lebih deras dari sebelumnya. Lucian berdiri di ujung platform pohon mereka sambil memandangi hutan. Di bawah, Gideon sedang mencoba menyalakan kembali api unggun yang mati karena hujan. “Ini menyebalkan,” gumam Gideon. Julian yang duduk di dekatnya tertawa kecil. “Bukankah kau bilang api unggun adalah bagian paling menyenangkan dari camping?” “Ya. Saat apinya menyala.” Valerine tidak ikut dalam percakapan. Ia sedang memeriksa catatan yang dibuat sejak hari pertama. “Curah hujan meningkat sejak tadi malam,” katanya. “Beberapa Magic Beast yang kita amati juga mulai berpindah dari daerah terbuka.” Lucian menoleh. “Termasuk kelompok yang kemarin?” Valerine mengangguk. “Kelompok kecil yang kita lihat di sungai sudah tidak ada.” Lucian turun dari pohon. “Kalau begitu kita lihat sungainya.” Gideon langsung berdiri. “Sekarang?” “Justru sekarang.” Julian menghela napas. “Kenapa aku merasa setiap kali kau bilang sesuatu dengan tenang seperti itu, kita akan mendapatkan masalah?” Lucian tersenyum tipis. “Karena biasanya memang begitu.” --- Mereka berjalan menyusuri jalur yang telah mereka gunakan sehari sebelumnya. Namun kondisi sungai sudah berubah. Air yang sebelumnya jernih kini menjadi keruh dan bergerak lebih cepat. Beberapa ranting dan daun terbawa arus. Valerine langsung mengamati tepian sungai. “Lihat.” Ada jejak kaki. Bukan satu. Puluhan. Jejak berbagai ukuran memenuhi tanah berlumpur. Gideon berjongkok. “Magic Beast?” “Ya.” Lucian memperhatikan arah jejak tersebut. Semuanya bergerak menjauhi sungai. “Bukan hanya satu spesies,” katanya. Valerine mengangguk. “Mereka semua meninggalkan daerah ini.” Julian menunjuk ke arah hutan. “Berarti ada sesuatu di sana?” Lucian menggeleng. “Belum tentu.” Ia melihat sungai sekali lagi. “Bisa saja lingkungannya yang berubah.” Hujan deras selama beberapa jam telah menaikkan permukaan air. Daerah yang biasanya menjadi tempat minum dan mencari makanan kini tidak lagi aman. Bukan monster. Bukan musuh. Hanya alam yang berubah. Lucian mencatat hal itu. > Perubahan lingkungan dapat memengaruhi perilaku Magic Beast tanpa adanya ancaman langsung. Valerine membaca catatan tersebut dari samping. “Itu bisa menjadi bagian penting dalam laporan.” “Kalau kita melihatnya sekali saja, jangan jadikan kesimpulan,” jawab Lucian. Valerine menatapnya sebentar. Kemudian tersenyum kecil. “Setidaknya kita sepakat.” --- Saat mereka kembali ke perkemahan, sesuatu terdengar dari atas. Krakk! Sebuah buah jatuh tepat di depan Gideon. Gideon mendongak. Makhluk yang mereka lihat kemarin berada di salah satu cabang. Chimpanzee-like Magic Beast itu memandang mereka. Di belakangnya terdapat dua makhluk lain. Lalu tiga. Kemudian lebih banyak lagi. Julian menghitung dengan cepat. “...Delapan.” Valerine memperhatikan dengan serius. “Tidak. Ada lebih banyak di belakang.” Benar. Di antara dedaunan, terlihat beberapa pasang mata. Kelompok itu ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka kira. Makhluk pertama turun perlahan. Ia tidak mendekat terlalu jauh. Hanya duduk di atas cabang rendah dan memandang mereka. Gideon mengangkat tangannya. “Halo lagi.” Makhluk itu memiringkan kepala. Kemudian menirukan gerakan Gideon. Julian tertawa. “Dia benar-benar suka meniru orang.” Lucian tidak tertawa. Ia memperhatikan kelompok tersebut. Ada yang membawa buah. Ada yang memeriksa tubuh anak-anaknya. Beberapa yang lebih besar berada di bagian luar kelompok. Menjaga. Lucian menyipitkan mata. “Struktur sosial.” Valerine segera membuka catatan. “Pengamatan baru?” “Ya.” Ia menunjuk beberapa individu. “Yang muda berada di tengah. Yang lebih besar berada di luar. Mereka juga tidak semuanya melakukan hal yang sama.” Valerine mengamati lebih lama. “Yang itu mencari makanan.” “Dan yang di sebelahnya memperhatikan lingkungan.” Gideon menunjuk salah satu yang besar. “Yang itu menjaga yang lain.” Lucian mengangguk. “Sepertinya begitu.” Kelompok itu tidak sekadar berkumpul. Mereka memiliki pola. Peran. Hubungan. Dan sesuatu yang lebih penting. Kehidupan sosial. --- Menjelang sore, hujan kembali turun. Kali ini lebih deras. Kelompok Magic Beast tadi masih berada di sekitar pohon mereka. Namun beberapa mulai bergerak lebih jauh ke dalam hutan. Lucian memperhatikan arah mereka pergi. Kemudian ia melihat sesuatu. Air. Bukan sungai. Air hujan yang mengalir dari bagian hutan yang lebih tinggi mulai memenuhi tanah rendah. Beberapa sarang kecil milik hewan lain mulai tergenang. “Gideon.” “Apa?” “Kita perlu memindahkan sebagian barang.” “Kenapa?” “Kalau hujan terus turun seperti ini, bagian bawah pohon akan tergenang.” Gideon melihat sekeliling. Ia kemudian mengangguk. Mereka bekerja bersama. Makanan dipindahkan lebih tinggi. Peralatan yang mudah rusak dibungkus. Kayu bakar disimpan di tempat yang lebih terlindung. Tidak ada sihir konstruksi. Tidak ada cara instan. Mereka hanya menggunakan tangan, tali, dan apa yang tersedia. Julian membantu sambil mengeluh. “Aku mulai mengerti kenapa ujian ini disebut survival.” Valerine menjawab datar. “Baru hari ketiga.” Julian terdiam. “...Jangan ingatkan aku.” Lucian tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak memasuki hutan, mereka tidak merasa sedang menghadapi ujian. Mereka hanya sedang menjalani kehidupan sederhana di tengah hutan. --- Malam tiba. Hujan akhirnya berhenti. Namun suara hutan berubah. Tidak ada suara serangga sebanyak malam sebelumnya. Sebaliknya, terdengar banyak suara dari kejauhan. Suara-suara yang sama seperti kemarin. Kraa...! Uuk... uuk...! Lucian membuka mata. Ia keluar dari ruangan pohon. Di kejauhan, beberapa bayangan bergerak dari satu pohon ke pohon lain. Kelompok Magic Beast tadi sedang berpindah. Namun kali ini jumlah mereka jauh lebih banyak. Lucian memperhatikan arah mereka. Mereka bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. “Karena hujan?” Valerine muncul di belakangnya. “Mungkin.” Lucian mengangguk. “Tapi ada sesuatu yang berbeda.” “Apa?” Ia menunjuk ke arah bawah. “Lihat tanah.” Beberapa bagian tanah di sekitar mereka mulai retak kecil karena air yang terus mengalir. Valerine terdiam. Lucian kembali melihat kelompok Magic Beast. Mereka sudah mengetahui perubahan itu lebih dahulu. Mereka sedang mencari tempat yang aman. Bukan karena manusia. Bukan karena monster. Tetapi karena hutan itu sendiri. Lucian tersenyum tipis. “Menarik.” Di atas mereka, seekor Magic Beast muda berhenti di dahan. Ia menatap Lucian beberapa detik. Kemudian melompat mengikuti kelompoknya. Lucian menatap kepergiannya. Hari ketiga berakhir dengan satu kesimpulan sederhana. Mereka tidak sedang mengamati hutan. Mereka sedang belajar bagaimana hutan mengamati dirinya sendiri.

End of Chapter 27

Chapter 27: Bab 27 — Hari Ketiga: Hutan yang Berubah - Takdir Kek 2 yang Ku Pilih | Novel AI Studio