Chapter 26 of 53

Bab 26 — Hari Kedua: Jejak di Antara

1.1k words

Pepohonan Pagi datang bersama kabut tipis. Cahaya matahari perlahan menembus sela-sela dedaunan, jatuh di atas tanah yang masih basah oleh embun. Lucian terbangun lebih dulu. Ia keluar dari ruangan kecil di atas pohon dan berdiri di ujung platform. Hutan Orion terlihat berbeda dibandingkan malam sebelumnya. Lebih terang. Lebih hidup. Suara burung terdengar dari berbagai arah. Beberapa Binatang Sihir kecil mulai keluar dari tempat persembunyian mereka. Lucian memperhatikan semuanya tanpa berkata-kata. Kemudian terdengar suara dari bawah. “Pagi.” Lucian menunduk. Julian berdiri sambil menguap. “Kau bangun sepagi ini?” “Sudah kebiasaan.” “Pantas.” Julian mengambil wadah air. “Aku mau mengambil air.” “Aku ikut.” Beberapa menit kemudian Gideon dan Valerine juga turun. Mereka membawa perlengkapan masing-masing. Hari kedua resmi dimulai. Mereka menuju sungai kecil yang ditemukan Julian. Perjalanan berlangsung sekitar dua puluh menit. Tidak ada yang berbicara terlalu banyak. Mereka mulai memahami bahwa hutan memiliki ritmenya sendiri. Ada suara yang muncul setiap pagi. Ada suara yang menghilang ketika matahari semakin tinggi. Ada jejak yang terlihat jelas di tanah basah. Dan ada pula suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Begitu sampai di sungai, Valerine langsung membuka buku catatannya. Airnya jernih. Tidak terlalu dalam. Di sekitar sungai terdapat berbagai tanaman. Namun yang paling menarik adalah sekumpulan Binatang Sihir kecil di seberang sungai. Tubuh mereka menyerupai perpaduan antara musang dan tupai. Bulu mereka berwarna cokelat gelap dengan garis cahaya biru yang bergerak perlahan di sepanjang punggung. Mereka bergerak dalam kelompok. Beberapa mencari buah. Beberapa berjaga. Sementara dua ekor lainnya membawa makanan menuju sebuah celah di antara akar pohon. Valerine berbisik. “Pembagian peran.” Lucian mengangguk. “Sepertinya.” Gideon menunjuk salah satu yang berjaga. “Yang itu seperti penjaga.” “Jangan terlalu cepat menyimpulkan,” kata Lucian. Gideon menoleh. “Kenapa?” “Kita baru melihat perilaku mereka selama beberapa menit.” Valerine tersenyum kecil. “Benar.” Ia mencatat. Pengamatan awal: kelompok menunjukkan pembagian aktivitas. Fungsi tiap individu belum dapat dipastikan. Julian melirik catatan tersebut. “Kau serius sekali.” “Laporan yang baik membutuhkan bukti.” Julian mengangkat tangan. “Baik, Profesor Valerine.” Valerine menatapnya datar. “Aku tidak sebesar itu.” Gideon tertawa. Lucian hanya tersenyum. Mereka menghabiskan hampir satu jam di sana. Tidak menyentuh. Tidak memberi makanan. Tidak mendekati. Hanya mengamati. Dan semakin lama mereka melihat, semakin banyak hal yang ditemukan. Ketika satu Binatang Sihir menemukan buah, ia tidak langsung memakannya. Ia membawanya kembali ke kelompok. Ketika ada ancaman kecil dari burung pemangsa, seluruh kelompok bergerak mendekat. Ketika keadaan aman, mereka kembali melakukan aktivitas masing-masing. Lucian mencatat satu hal. “Hubungan sosial mereka lebih kuat daripada yang terlihat.” Valerine menulisnya. “Dasarnya?” “Perhatikan.” Lucian menunjuk dua individu yang baru saja kembali dari arah berbeda. Begitu bertemu, keduanya menyentuhkan kepala. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan berlebihan. Namun setelah itu, salah satunya mengikuti yang lain. “Komunikasi.” Valerine mengangguk. “Bisa jadi.” “Dan kita belum tahu apakah itu bentuk sapaan, pengenalan, atau tanda hubungan lain.” Julian menatap Lucian. “Kau memang tidak pernah puas dengan satu jawaban, ya?” Lucian tersenyum tipis. “Jawaban yang terlalu cepat sering kali hanya pertanyaan yang belum selesai.” Gideon mengangkat tangan. “Aku menyerah. Otakku belum sarapan.” Mereka tertawa kecil. Menjelang siang, mereka kembali ke kemah. Mereka mulai memanfaatkan lingkungan sekitar. Bukan mengeksploitasi. Hanya mengambil secukupnya. Kayu kering dikumpulkan untuk api. Beberapa tanaman yang mereka pastikan aman digunakan sebagai tambahan makanan. Air sungai dimurnikan menggunakan alat sederhana dari perlengkapan akademi. Tidak ada sihir berlebihan. Lucian sengaja membatasi penggunaan Solar Genesis. Mana yang dimilikinya bukan sesuatu yang bisa digunakan sembarangan. Julian memperhatikan ketika Lucian menyalakan api menggunakan teknik biasa. “Kau bisa menggunakan sihir, kan?” “Bisa.” “Kenapa tidak?” Lucian memasukkan kayu ke api. “Karena bisa bukan berarti harus.” Julian diam sebentar. Kemudian tersenyum. “Jawaban yang bagus.” Dari atas pohon terdengar suara. Krak. Semua menoleh. Sesuatu bergerak di antara daun. Gideon berdiri. “Yang kemarin?” Tidak ada jawaban. Beberapa detik kemudian, seekor makhluk muncul. Tubuhnya jelas menyerupai simpanse. Namun ukurannya sedikit lebih besar daripada simpanse biasa. Bulu hitam kecokelatan menutupi tubuhnya. Di sepanjang lengannya terdapat pola seperti guratan daun yang memancarkan cahaya hijau lembut. Ketika ia bergerak, pola tersebut berubah mengikuti gerakan tubuhnya. Matanya mengamati mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Ia memegang sebuah buah. Kemudian duduk di salah satu cabang. Gideon berbisik. “Dia mengawasi kita.” Lucian mengangguk. “Sepertinya.” Makhluk itu menggigit buahnya. Tidak menyerang. Tidak takut. Hanya memperhatikan. Julian tersenyum. “Jadi ini salah satu penghuni asli wilayah kita.” Valerine langsung mencatat. Binatang Sihir menyerupai primata. Memiliki pola mana pada tubuh. Menunjukkan kecerdasan dan rasa ingin tahu terhadap manusia. Makhluk itu tiba-tiba meniru gerakan Gideon. Gideon mengangkat tangan. Makhluk itu ikut mengangkat tangannya. Gideon menurunkan tangan. Makhluk itu ikut menurunkan. Julian langsung tertawa. “Dia menirumu!” Gideon menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa aku?” Makhluk itu memiringkan kepala. Lalu melakukan gerakan yang sama lagi. Lucian tertawa kecil. “Sepertinya dia tertarik padamu.” “Bagus.” Gideon tersenyum. “Akhirnya ada yang mengakui kharismaku.” Makhluk itu kemudian melempar kulit buah ke arahnya. Plak. Hening. Julian tertawa paling keras. Valerine sampai menutup mulut. Lucian hanya menatap Gideon. “…Sepertinya pendapatnya berbeda.” “Diam.” Untuk pertama kalinya sejak memasuki hutan, suasana kelompok benar-benar terasa seperti mereka sedang berkemah bersama. Bukan peserta ujian. Bukan bangsawan. Bukan rival. Hanya sekelompok anak muda yang menemukan sesuatu yang aneh di tengah hutan. Makhluk itu akhirnya pergi. Namun sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi. Lucian memperhatikannya. Pola cahaya di tubuhnya perlahan meredup ketika masuk lebih jauh ke pepohonan. “Menarik.” Valerine menulis satu catatan terakhir. Kemungkinan besar memiliki struktur sosial. Perlu pengamatan lebih lanjut. Malam kedua tiba. Mereka kembali duduk di sekitar api unggun. Julian membawa beberapa bahan tambahan. Gideon bertugas memasak. Valerine membaca ulang catatan mereka. Lucian menatap langit di antara celah pepohonan. Bintang terlihat samar. “Dua hari,” kata Gideon. “Masih lima hari,” jawab Julian. “Lima hari lagi begini?” Valerine menatapnya. “Kalau kau tidak mengeluh, mungkin.” “Aku tidak mengeluh.” “Kau baru saja mengeluh.” “Itu observasi.” Lucian tertawa. Namun di tengah percakapan mereka— hujan pertama mulai turun. Satu tetes. Kemudian dua. Lalu semakin banyak. Gideon mendongak. “Sepertinya malam ini kita tidur lebih cepat.” Lucian melihat langit. Hujan belum deras. Tetapi awan hitam mulai menutupi bulan. Dan dari kejauhan— terdengar suara kelompok simpanse ajaib tadi. Bukan satu. Bukan dua. Banyak. Lucian menoleh ke arah hutan. Ekspresinya berubah sedikit serius. “Mereka sedang bergerak.” Valerine menutup bukunya. “Karena hujan?” “Mungkin.” Julian berdiri. “Besok kita cari tahu.” Mereka akhirnya naik ke rumah pohon. Api unggun dipadamkan. Hujan terus turun. Sementara jauh di dalam hutan, sekumpulan mata bercahaya bergerak dari satu pohon ke pohon lain. Mereka belum tahu apa yang sedang terjadi. Namun sesuatu telah berubah. Dan pada hari ketiga— mereka akan mulai memahami bahwa hutan ini bukan hanya tempat yang mereka gunakan untuk ujian. Mereka juga telah memasuki wilayah kehidupan yang sudah memiliki aturan sendiri.

End of Chapter 26