Chapter 25 of 53
Bab 25 — Api Unggun dan Pedagang Mana
851 words
Malam pertama di hutan Orion berjalan lebih tenang daripada yang Lucian bayangkan.
Api unggun kecil menyala di antara mereka.
Gideon duduk bersandar pada batang pohon sambil memeriksa sarung tangannya. Valerine masih menulis laporan pengamatan dari kejadian sore tadi.
Lucian sendiri menatap nyala api.
Di kejauhan, suara-suara Binatang Sihir terdengar bersahutan.
Tidak ada yang mendekat.
Setidaknya, belum.
“Lucian.”
Gideon menunjuk ke arah salah satu perlengkapan mereka.
“Berapa lama makanan kita bertahan?”
Lucian melirik kantong persediaan.
“Kalau kita mengandalkan bekal akademi saja, sekitar tiga hari.”
“Dan tujuh hari?”
“Kita harus mencari sumber makanan tambahan.”
Gideon menghela napas.
“Berarti besok mulai mencari.”
Valerine menutup bukunya.
“Bukan hanya makanan.”
Ia menunjuk wadah air.
“Kita juga harus memastikan sumber air kita aman.”
Lucian mengangguk.
“Dan kita perlu mengetahui wilayah sekitar.”
Gideon memandang mereka berdua.
“Kalian sadar kita baru beberapa jam di sini?”
“Justru karena itu,” jawab Valerine.
Lucian tersenyum tipis.
“Semakin cepat kita memahami lingkungan, semakin sedikit kesalahan yang kita lakukan.”
Tiba-tiba—
KRAK!
Suara ranting patah terdengar dari arah belakang.
Ketiganya langsung menoleh.
Gideon berdiri.
“Binatang Sihir?”
Lucian memberi isyarat agar tenang.
Dari balik pepohonan, seseorang muncul.
Seorang pemuda dengan pakaian yang sedikit berantakan, membawa tas besar yang terlihat terlalu berat untuk ukuran tubuhnya.
Ia berhenti ketika melihat mereka.
“Oh.”
Pemuda itu mengangkat kedua tangannya.
“Tenang. Aku bukan pencuri.”
Gideon menatap tasnya.
“Kalau begitu kenapa kau membawa tas sebesar itu?”
Pemuda tersebut melihat tasnya sendiri.
“Karena aku pedagang.”
Hening.
Gideon mengernyit.
“Di tengah hutan?”
“Peserta ujian juga boleh punya hobi.”
Lucian memperhatikannya.
Pemuda itu tersenyum santai.
“Julian Sterling.”
Ia menunjuk tas besar di punggungnya.
“Dan sebelum kalian bertanya, iya, sebagian besar isinya memang barang yang tidak seharusnya dibawa untuk camping.”
Valerine terlihat sedikit penasaran.
“Kenapa?”
Julian membuka tas.
Di dalamnya terdapat beberapa botol kecil, kristal mana, alat-alat logam, tali, pisau kecil, dan berbagai komponen aneh.
Gideon mendekat.
“Ini semua apa?”
“Peralatan.”
“Untuk?”
“Banyak hal.”
Julian mengambil sebuah kristal kecil.
“Misalnya ini.”
Kristal tersebut menyala.
Api kecil muncul di atas telapak tangannya.
Gideon langsung tertarik.
“Alat pembuat api?”
“Lebih tepatnya pemantik mana.”
Julian mematikan kristal itu.
“Bisa dipakai berkali-kali.”
Lucian memperhatikan kristal tersebut.
“Efisiensinya cukup baik.”
Julian menoleh.
“Kau bisa menilainya hanya dari melihat?”
“Struktur kristalnya.”
“Oh.”
Senyum Julian melebar.
“Eisenwald, kan?”
Lucian sedikit terdiam.
“Benar.”
“Pantas.”
Julian duduk di dekat api tanpa diminta.
Gideon menatapnya.
“Kau memang santai sekali.”
“Aku sudah berjalan cukup jauh.”
“Kenapa datang ke sini?”
Julian mengangkat bahu.
“Kelompokku berpencar.”
“Dan kau?”
“Memutuskan mencari tempat yang aman untuk bermalam.”
Ia melihat pohon besar di belakang mereka.
“Sepertinya kalian sudah menemukan tempat bagus.”
Valerine langsung menjawab.
“Tempat ini sudah kami gunakan.”
Julian mengangkat kedua tangan.
“Aku tidak berniat merebutnya.”
Ia lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari tas.
Sebuah alat berbentuk cakram.
“Sebagai gantinya, aku bisa menawarkan sesuatu.”
Lucian memperhatikan benda tersebut.
“Menarik.”
Julian tersenyum.
“Ini alat pendeteksi kristal mana.”
Ia meletakkannya di tanah.
Jarum kecil di tengah cakram mulai bergerak.
“Kalau ada konsentrasi mana tinggi di sekitar kita, jarumnya akan bergerak.”
Gideon bersiul.
“Bisa mendeteksi Binatang Sihir?”
“Tidak secara langsung.”
Julian menggeleng.
“Makhluk hidup memang menghasilkan mana, tapi terlalu banyak faktor yang memengaruhi hasilnya.”
Lucian mengangguk.
“Namun bisa membantu menemukan sumber daya.”
“Betul.”
Julian menunjuk ke arah hutan.
“Dan aku menemukan sesuatu sebelum sampai ke sini.”
Mereka bertiga memperhatikannya.
“Di sebelah timur ada aliran sungai kecil.”
Lucian langsung menatapnya.
“Kau sudah melihatnya?”
“Ya.”
“Seberapa jauh?”
“Sekitar dua puluh menit berjalan kaki.”
Valerine segera mencatat.
“Apakah ada Binatang Sihir di sana?”
“Ada.”
Julian tersenyum.
“Tapi mereka tidak agresif.”
Lucian memperhatikan wajahnya.
“Kau mengamati mereka?”
“Sedikit.”
Julian menyandarkan tubuh.
“Ada sekumpulan makhluk kecil yang hidup di sekitar sungai. Mereka mencari makanan bersama.”
Lucian menjadi lebih tertarik.
“Bagaimana pembagian wilayahnya?”
Julian mengangkat alis.
“Kau serius menanyakan itu?”
“Ya.”
Julian tertawa.
“Belum sempat kuamati sedalam itu.”
Lucian mengangguk.
“Kalau begitu besok kita bisa memeriksanya.”
Gideon menatap Lucian.
“Kita?”
Lucian melihat Julian.
“Kalau kau tidak keberatan.”
Julian tersenyum.
“Tidak masalah.”
Valerine menutup bukunya.
“Berarti kelompok kita bertambah satu.”
Julian mengangkat jarinya.
“Untuk sementara.”
“Kenapa?”
“Aku belum tahu apakah kalian akan menjadi kelompok yang menyenangkan.”
Gideon langsung tertawa.
“Berani juga kau.”
Julian ikut tertawa.
Malam itu, mereka berbagi makanan dan informasi.
Tidak ada pembicaraan tentang siapa yang paling kuat.
Tidak ada pembahasan mengenai hasil seleksi pertama.
Mereka hanya membicarakan hutan.
Tentang air.
Tentang makanan.
Tentang Binatang Sihir.
Dan tentang tempat-tempat yang belum mereka jelajahi.
Namun sebelum tidur, Lucian kembali menatap hutan.
Suara kera terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
Krak...
Beberapa daun bergerak.
Lucian menyipitkan mata.
Sesuatu sedang memperhatikan mereka dari atas.
Ia tidak melihat bentuknya dengan jelas.
Hanya dua mata kecil yang memantulkan cahaya api.
Kemudian—
hilang.
Lucian berdiri.
Gideon ikut bangkit.
“Ada apa?”
Lucian tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah cabang-cabang pohon.
“Tidak apa-apa.”
Ia kemudian duduk kembali.
Namun pikirannya tidak berhenti.
Makhluk tadi tidak menunjukkan tanda agresi.
Ia juga tidak mendekat.
Hanya mengamati.
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Malam pertama mereka pun berakhir.
Tanpa mereka sadari, sejak malam itu ada sekelompok mata yang mulai mengenali pohon tempat mereka tinggal sebagai bagian dari wilayah mereka.
Dan untuk tujuh hari ke depan—
hutan Orion akan menjadi tempat mereka belajar bahwa mengamati kehidupan tidak selalu berarti hanya berdiri dan melihat.