Chapter 24 of 53
Bab 24 — Langkah Pertama di Hutan
867 words
Gerbang Akademi Orion perlahan tertutup di belakang mereka.
Begitu melewati batas tersebut, suasana berubah.
Suara kota menghilang.
Tidak ada lagi bunyi mesin mana, kereta, pedagang, maupun percakapan para peserta lain yang memenuhi jalanan Orion.
Yang tersisa hanyalah suara angin melewati dedaunan.
Seribu peserta mulai bergerak menuju wilayah hutan yang telah ditentukan.
Namun setelah beberapa ratus meter, rombongan besar itu mulai terpecah.
Kelompok-kelompok yang sebelumnya hanya berupa nama di papan kini harus menentukan arah mereka sendiri.
Lucian berjalan bersama Gideon dan Valerine.
Masing-masing membawa perlengkapan yang diberikan akademi.
Gideon memikul tas besar di bahunya.
“Jujur saja,” katanya sambil melihat sekeliling, “aku lebih terbiasa menghancurkan sesuatu daripada mendirikan tenda.”
Valerine menoleh.
“Itulah mengapa kita tidak akan menyerahkan pembangunan kemah kepadamu.”
“Kenapa?”
“Karena kau mungkin membuat tenda dari batu.”
Gideon terdiam.
“…Itu sebenarnya ide bagus.”
Lucian tertawa kecil.
“Jangan.”
Mereka terus berjalan.
Beberapa kelompok lain memilih mengikuti jalan yang lebih jelas.
Sebagian menuju sungai.
Sebagian mencari dataran tinggi.
Ada juga yang langsung masuk lebih dalam ke hutan.
Lucian memperhatikan semuanya.
Tidak ada petunjuk mengenai lokasi terbaik.
Tidak ada peta lengkap.
Hanya batas wilayah yang diberikan akademi.
“Menurutmu kita harus ke mana?” tanya Gideon.
Lucian berhenti.
Ia melihat pepohonan di depan mereka.
Kemudian tanah.
Kemudian arah angin.
“Bukan sungai.”
Gideon mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena terlalu banyak kelompok menuju ke sana.”
Valerine langsung memahami maksudnya.
“Persediaan air memang mudah didapat, tapi persaingan wilayah juga meningkat.”
Lucian mengangguk.
“Dan kita belum tahu apakah Binatang Sihir di sekitar sungai terganggu oleh banyak manusia.”
Valerine menutup buku catatannya.
“Berarti kita mencari tempat yang cukup dekat dengan sumber air, tapi tidak berada tepat di sebelahnya.”
“Benar.”
Gideon tersenyum.
“Baiklah. Untuk pertama kalinya, aku senang punya orang yang suka berpikir terlalu banyak.”
Lucian menatapnya.
“Dan aku senang punya orang yang bisa membawa barang berat.”
“Kesepakatan yang bagus.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Hampir satu jam kemudian, mereka menemukan sebuah pohon besar.
Batangnya begitu lebar hingga tiga orang dewasa mungkin baru bisa mengelilinginya jika saling bergandengan tangan.
Cabang-cabangnya membentuk semacam kanopi alami.
Tanah di sekitarnya cukup datar.
Dan yang paling penting—
Tidak jauh dari sana terdengar suara air.
Valerine memeriksa lingkungan sekitar.
“Aliran air kecil.”
Lucian mengangguk.
“Cukup dekat untuk mengambil air.”
Gideon menatap pohon tersebut.
“Dan cukup besar untuk dijadikan tempat tinggal.”
Lucian melihat ke atas.
Cabang utama berada beberapa meter dari tanah.
Mereka saling berpandangan.
Gideon tersenyum lebar.
“Jangan bilang…”
“Kenapa tidak?” jawab Lucian.
Valerine menghela napas.
“Kalian serius?”
Lucian mengambil tali dari tas.
“Kita tidak membutuhkan tempat yang sempurna.”
Ia menunjuk cabang besar di atas.
“Kita membuatnya sendiri.”
---
Pembangunan dimulai.
Tanpa sihir.
Tanpa bantuan alat ajaib.
Mereka hanya menggunakan kayu yang tersedia di sekitar, tali, papan sederhana dari perlengkapan akademi, dan kemampuan masing-masing.
Gideon bertugas membawa potongan kayu.
Lucian mengatur struktur.
Valerine mengukur posisi dan memastikan ikatan mereka tidak mudah lepas.
Tidak lama kemudian, sebuah kerangka sederhana mulai terbentuk di atas pohon.
Bukan rumah mewah.
Bukan benteng.
Hanya sebuah tempat berlindung.
Namun cukup kokoh untuk bertahan selama tujuh hari.
Setelah bagian utama selesai, mereka membaginya menjadi dua ruangan.
Satu untuk laki-laki.
Satu untuk perempuan.
Sementara bagian tengah menjadi ruang terbuka kecil untuk berkumpul.
Gideon melihat hasilnya dengan puas.
“Lumayan.”
Valerine memeriksa salah satu tali.
“Masih perlu diperkuat.”
Lucian mengangguk.
“Setelah itu kita pasang perlindungan.”
Ia mengambil sebuah kapur rune sederhana dari perlengkapan akademi.
Bukan sihir pertahanan yang kuat.
Hanya sebuah rune sederhana untuk memperingatkan mereka jika ada sesuatu yang mendekati pohon.
Valerine memperhatikan simbol tersebut.
“Tidak buruk.”
Lucian tersenyum.
“Yang penting jangan bergantung sepenuhnya pada sihir.”
Mereka akhirnya turun.
Hari mulai sore.
Mereka belum melakukan pengamatan serius terhadap Binatang Sihir.
Namun itu bukan masalah.
Mereka masih memiliki enam hari lebih.
---
Menjelang malam, mereka membuat api unggun di tanah.
Mereka tidak ingin menghabiskan seluruh waktu di atas pohon.
Gideon duduk sambil memanggang makanan sederhana.
Valerine menulis beberapa catatan.
Lucian memperhatikan hutan.
Sesekali terdengar suara dari kejauhan.
Suara burung.
Suara dedaunan.
Dan sesuatu yang bergerak di balik semak.
Gideon langsung berhenti makan.
“Binatang Sihir?”
Lucian mengangkat tangan.
“Jangan bergerak.”
Semak itu bergerak sekali lagi.
Kemudian seekor makhluk kecil keluar.
Bentuknya menyerupai rusa muda.
Namun tanduknya tidak seperti rusa biasa.
Tanduk tersebut memiliki beberapa garis cahaya biru yang berdenyut perlahan.
Makhluk itu berhenti.
Menatap mereka.
Tidak menyerang.
Tidak mendekat.
Hanya mengamati.
Valerine perlahan membuka buku.
Lucian berbisik.
“Jangan dekati.”
Valerine mengangguk.
Ia mulai menulis.
Perilaku awal: waspada terhadap manusia. Tidak menunjukkan agresi.
Makhluk itu menundukkan kepala.
Mengendus tanah.
Kemudian memakan beberapa tanaman kecil di dekat pohon.
Gideon berbisik.
“Jadi kita cuma melihat?”
“Untuk sekarang.”
Lucian memperhatikan gerakannya.
“Kalau kita mengganggunya, kita tidak akan mendapatkan perilaku alaminya.”
Makhluk itu akhirnya pergi.
Menghilang di antara pepohonan.
Gideon tersenyum.
“Sepertinya ujian ini memang berbeda.”
Lucian menatap api unggun.
“Justru itu yang membuatnya sulit.”
“Kenapa?”
Lucian menjawab pelan.
“Karena kali ini kita tidak mencari cara untuk mengalahkan sesuatu.”
Ia melihat hutan yang gelap.
“Kita harus belajar bagaimana sesuatu hidup.”
Valerine berhenti menulis.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Di atas mereka, dedaunan bergerak tertiup angin malam.
Dan jauh di dalam hutan—
terdengar suara kera.
Sekali.
Lalu menghilang.
Lucian menoleh ke arah suara tersebut.
Namun tidak melihat apa pun.
Ia belum tahu bahwa suara itu berasal dari sesuatu yang akan membuat tujuh hari mereka jauh lebih berkesan daripada yang mereka bayangkan.