Chapter 23 of 53
Bab 23 — Dua Hari Sebelum Hutan
958 words
Dua hari.
Itulah waktu yang diberikan Akademi Orion kepada seribu peserta yang berhasil melewati seleksi pertama.
Tidak ada latihan.
Tidak ada duel.
Tidak ada pengumuman mengenai seleksi berikutnya.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Orion, Lucian merasakan sesuatu yang hampir menyerupai hari libur.
Hampir.
Pagi itu, ia duduk di sebuah kafe kecil tidak jauh dari penginapan. Sebuah koran terbuka di hadapannya, sementara secangkir teh hangat perlahan kehilangan uapnya.
Judul utama koran masih membicarakan kejadian di arena.
“Seleksi Orion Dihentikan Akibat Kemunculan Magic Monster.”
Lucian membaca beberapa baris sebelum menutup koran.
Tidak ada banyak informasi.
Akademi hanya menyatakan bahwa sebuah Magic Monster memasuki arena karena keadaan yang tidak terduga. Tidak ada penjelasan mengenai Distraction. Tidak ada penjelasan mengenai induk monster tersebut.
Lucian menghela napas.
Ia masih mengingat tatapan monster itu.
Bukan tatapan pemangsa.
Bukan pula tatapan makhluk yang ingin menghancurkan manusia.
Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana di sana.
Kehilangan.
“Masih memikirkannya?”
Suara itu membuat Lucian mengangkat kepala.
Gideon berdiri di samping mejanya sambil membawa dua piring sarapan.
“Kalau yang kau maksud monster kemarin, iya.”
Gideon menarik kursi dan duduk.
“Sudah kuduga.”
Lucian menatapnya.
“Kau tidak memikirkannya?”
“Memikirkannya.”
Gideon meletakkan salah satu piring di hadapan Lucian.
“Tapi kalau terus dipikirkan, sarapanku tidak akan masuk.”
Lucian terdiam beberapa detik.
Kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Alasan yang cukup sederhana.”
“Berhasil, kan?”
“Sayangnya iya.”
Gideon tertawa kecil.
Beberapa saat mereka makan dalam diam.
Untuk sementara, tidak ada arena.
Tidak ada lawan.
Tidak ada ancaman.
Hanya dua peserta ujian yang menikmati makanan sebelum sesuatu yang lebih melelahkan dimulai.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Sebuah suara pengumuman terdengar dari kristal komunikasi yang terpasang di dinding kafe.
“Seluruh peserta yang berhasil melewati seleksi pertama diwajibkan hadir di halaman timur Akademi Orion pukul delapan pagi besok.”
Lucian menghentikan tangannya.
Gideon juga menoleh.
“Seleksi kedua akan berlangsung selama tujuh hari.”
Beberapa pengunjung mulai berbicara.
“Seluruh peserta akan dibagi ke dalam kelompok.”
Lucian menyipitkan mata.
Kelompok?
Pengumuman berlanjut.
“Akademi akan menyediakan perlengkapan dasar untuk setiap peserta.”
“Setiap keputusan yang kalian ambil selama seleksi akan menjadi bagian dari evaluasi.”
“Pada hari terakhir, setiap peserta diwajibkan menyerahkan laporan pengamatan.”
Lalu suara itu berhenti.
Tidak ada penjelasan mengenai apa yang akan diamati.
Tidak ada penjelasan mengenai bagaimana peserta akan dinilai.
Tidak ada penjelasan mengenai batas keberhasilan.
Gideon menggaruk kepalanya.
“Laporan pengamatan?”
Lucian mengambil kembali cangkir tehnya.
“Sepertinya.”
“Jadi kita harus melakukan apa?”
“Itulah bagian yang tidak mereka katakan.”
Gideon menatap Lucian beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Berarti kita cari tahu sendiri.”
Lucian membalas tatapannya.
“Begitulah ujian seharusnya.”
Keesokan paginya, halaman timur Akademi Orion dipenuhi seribu peserta.
Tidak seperti seleksi pertama, tidak ada arena besar.
Tidak ada senjata yang dipersiapkan.
Tidak ada penghalang tinggi.
Yang tersedia hanyalah ratusan peti perlengkapan yang tersusun rapi.
Tenda.
Tali.
Peralatan memasak.
Wadah air.
Peralatan penelitian sederhana.
Dan sebuah benda kecil berbentuk gelang.
Lucian mengambil salah satunya.
Gelang itu memiliki ukiran sihir yang sangat halus.
“Ini untuk apa?”
Seorang peserta di dekatnya bertanya.
Seorang instruktur menjawab dengan suara keras.
“Keselamatan.”
Ia mengangkat gelang tersebut.
“Jika kalian berada dalam kondisi yang membahayakan nyawa, aktifkan ukiran ini.”
Cahaya biru muncul sebentar.
“Kalian akan dipindahkan ke pos keselamatan Akademi Orion.”
Beberapa peserta terlihat lega.
Namun instruktur itu melanjutkan.
“Begitu gelang digunakan, kalian keluar dari seleksi.”
Suasana langsung berubah.
Lucian memperhatikan gelang di tangannya.
Sederhana.
Tapi jelas bukan alat yang boleh digunakan sembarangan.
Kemudian nama-nama kelompok mulai muncul di papan kristal.
Satu per satu.
Lucian mencari nomornya.
4721.
Ia menemukan namanya.
Kelompok yang sama berisi beberapa orang.
Dan di antara nama-nama itu—
Gideon Cross.
“Sepertinya kita beruntung.”
Gideon muncul dari belakangnya.
Lucian belum sempat menjawab ketika suara lain terdengar.
“Jangan terlalu cepat menyebutnya keberuntungan.”
Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dari mereka.
Rambutnya tertata rapi.
Tatapannya tenang.
Di tangannya terdapat sebuah buku catatan tipis.
Lucian mengenalinya dari seleksi sebelumnya.
Valerine de Courcey.
Valerine melihat daftar kelompok.
“Kelompok yang sama berarti kita harus bekerja bersama.”
Gideon tersenyum.
“Kalau begitu, kenalan resmi?”
Ia mengulurkan tangan.
“Gideon Cross.”
Valerine melihat tangan itu sebentar sebelum menjabatnya.
“Valerine de Courcey.”
Lucian mengangguk.
“Lucian Eisenwald.”
Valerine menatapnya sedikit lebih lama.
“Eisenwald.”
Nada suaranya tidak menunjukkan keterkejutan.
Lebih seperti seseorang yang sedang menyimpan sebuah informasi.
“Keluarga Permata Biru.”
Gideon tertawa.
“Sepertinya semua orang tahu keluarga Lucian.”
Lucian hanya menghela napas.
“Sayangnya.”
Sebuah bunyi lonceng terdengar.
Semua peserta terdiam.
Di depan halaman, salah satu gerbang besar perlahan terbuka.
Di baliknya terbentang jalan menuju wilayah hutan yang luas.
Tidak terlihat seperti medan perang.
Tidak ada monster yang menunggu.
Hanya pepohonan.
Kabut tipis.
Dan suara burung yang terdengar dari kejauhan.
Seorang instruktur berdiri di depan mereka.
“Seleksi kedua dimulai hari ini.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalian akan berada di habitat alami Binatang Sihir selama tujuh hari.”
Beberapa peserta mulai berbisik.
“Binatang Sihir?”
“Bukan Magic Monster?”
“Benar.”
Instruktur itu mengangguk.
“Binatang Sihir.”
Tatapannya menyapu seluruh peserta.
“Tugas kalian bukan memburu mereka.”
Beberapa peserta terlihat sedikit bingung.
“Kalian harus mengamati mereka.”
Ia menunjuk ke arah hutan.
“Cara mereka mencari makanan.”
“Cara mereka menjaga wilayah.”
“Cara mereka berinteraksi.”
“Cara mereka bertahan hidup.”
“Dan bagaimana mereka memperlakukan sesamanya.”
Lucian perlahan tersenyum.
Akhirnya ia mengerti.
Ini bukan sekadar ujian bertahan hidup.
Ini adalah ujian tentang seberapa baik mereka mampu memahami dunia di sekitar mereka.
Instruktur itu mengakhiri penjelasannya.
“Semua keputusan kalian selama tujuh hari akan menjadi bagian dari evaluasi.”
“Dan ingat.”
Tatapannya menjadi lebih serius.
“Tidak semua hal di hutan itu harus kalian sentuh.”
Gerbang terbuka sepenuhnya.
Angin dari dalam hutan berembus melewati halaman.
Lucian menatap jauh ke depan.
Tidak ada pedang.
Tidak ada arena.
Tidak ada lawan yang harus dikalahkan.
Hanya hutan yang belum mereka kenal.
Gideon mengangkat tasnya.
“Jadi…”
Ia melihat Lucian.
“Siap camping?”
Lucian menatap hutan sekali lagi.
Kemudian tersenyum tipis.
“Sepertinya kita akan belajar sesuatu yang tidak bisa ditemukan di perpustakaan.”
Mereka melangkah maju bersama.
Dan di balik gerbang Akademi Orion—
seleksi kedua dimulai.