Chapter 22 of 53
Bab 22 — Tangisan Sang Induk
867 words
Arena berubah menjadi tempat yang sunyi.
Para peserta diperintahkan mundur.
Para profesor mulai membangun penghalang di antara monster dan kerumunan.
Namun monster itu tidak berhenti.
Ia terus bergerak.
Mencari.
Setiap beberapa detik, ia mengangkat kepala dan mengendus udara.
Kemudian bergerak ke arah lain.
Seolah masih berharap mencium aroma yang dikenalnya.
Lucian memperhatikan setiap gerakannya.
Ada pola.
Monster itu tidak sedang berburu.
Ia sedang mencari seseorang.
Tiba-tiba—
monster itu berhenti.
Tatapannya tertuju pada sebuah benda kecil di antara puing arena.
Ia berjalan mendekat.
Langkahnya yang sebelumnya berat kini berubah perlahan.
Hampir hati-hati.
Ia menundukkan kepala.
Dengan salah satu cakarnya, ia menyentuh benda tersebut.
Sebuah benda kecil berbentuk seperti tulang yang telah diukir.
Monster itu diam.
Tubuh besarnya tidak bergerak.
Kemudian ia mengeluarkan suara.
Bukan raungan.
Bukan ancaman.
Suara rendah yang bergetar.
Seperti panggilan kepada seseorang yang tidak akan menjawab.
Lucian terdiam.
Valerine menatap benda itu.
“Itu mungkin milik anaknya.”
Gideon tidak mengatakan apa-apa.
Bahkan beberapa peserta yang sebelumnya ketakutan mulai menurunkan senjata mereka.
Mereka akhirnya mengerti.
Makhluk di hadapan mereka bukan sekadar monster yang sedang mengamuk.
Ia adalah induk yang kehilangan anaknya.
Namun tragedinya belum selesai.
Rowan berbicara dari menara.
“Distraction tidak bisa berlangsung selamanya.”
Lucian menoleh.
“Apa yang terjadi ketika berakhir?”
Rowan terdiam beberapa saat.
“Tubuhnya sudah dipaksa melewati batas normal.”
“Ketika amarah dan emosinya kembali normal, kondisi itu akan berhenti.”
Gideon menatap monster.
“Dan?”
“Tubuhnya mungkin tidak mampu bertahan setelahnya.”
Keheningan kembali memenuhi arena.
Lucian mengepalkan tangannya.
Monster itu masih memegang benda kecil tersebut.
Tubuhnya gemetar.
Namun bukan karena lelah.
Karena emosinya mulai berubah.
Amarah yang sebelumnya memenuhi matanya mulai bercampur dengan kesedihan.
Lucian melangkah maju.
Gideon langsung menghalanginya.
“Lucian.”
“Aku tidak akan menyerangnya.”
“Itu bukan masalahnya.”
Gideon menatap monster.
“Kalau kau terlalu dekat, dia bisa kehilangan kendali.”
“Aku tahu.”
Lucian tetap berjalan.
Valerine memperhatikan monster dan Lucian bergantian.
“Kalau begitu jangan membuatnya merasa terancam.”
Lucian mengangguk.
Ia berhenti cukup jauh.
Tidak mengangkat tangan.
Tidak membentuk mantra.
Tidak menunjukkan niat menyerang.
Monster itu menatapnya.
Mata merahnya berkilat.
Lucian berbicara dengan suara tenang.
“Aku tahu kau sedang mencari seseorang.”
Monster itu menggeram pelan.
“Aku tidak tahu di mana anakmu.”
Makhluk itu tidak bergerak.
“Tapi aku tahu kau sudah mencarinya cukup lama.”
Monster itu menundukkan kepala.
Lucian melihat benda kecil di tangannya.
“Dan benda itu mungkin satu-satunya hal yang tersisa.”
Monster itu menggenggam benda tersebut lebih erat.
Kemudian—
ia mengeluarkan suara yang membuat seluruh arena diam.
Suara seperti tangisan.
Lucian menatapnya.
Untuk sesaat, ia teringat sesuatu.
Bukan kenangan Aurelius.
Melainkan kehidupan yang sedang ia jalani sekarang.
Arthur.
Eleanor.
Clara.
Keluarga yang ia miliki di kehidupan kedua.
Ia memahami satu hal.
Ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kekuatan.
Ikatan.
Lucian menarik napas.
“Kalau kau masih bisa mendengarku...”
Ia menunjuk jalan keluar arena.
“Pergilah.”
Monster itu menatapnya.
“Kau tidak akan menemukan anakmu di sini.”
Tubuh monster bergetar.
Lucian melanjutkan.
“Aku tidak bisa mengembalikannya.”
Ia menundukkan kepala.
“Tapi kau tidak harus mati sendirian.”
Monster itu perlahan menurunkan tubuhnya.
Namun tiba-tiba—
seorang peserta yang panik melepaskan serangan.
“Jangan!”
Serangan itu menghantam penghalang.
Monster langsung mengamuk.
Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi.
Satu hantaman menghancurkan sebagian lantai.
Magnus turun ke arena dan menghentikan peserta tersebut.
“CUKUP!”
Suaranya menggema.
“Tidak ada seorang pun yang menyerang!”
Monster itu berdiri dengan napas berat.
Mata merahnya kembali menyala.
Distraction mencapai puncaknya.
Power dan speed-nya meningkat lagi.
Namun kemudian—
perlahan—
cahaya di matanya mulai meredup.
Amarahnya kehilangan tenaga.
Tubuhnya mulai gemetar.
Ia melihat benda kecil di tangannya.
Lalu menundukkan kepala.
Tidak ada lagi raungan.
Hanya suara napas yang berat.
Lucian tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian—
monster itu jatuh berlutut.
Lalu tubuh besarnya roboh ke tanah.
Arena menjadi sunyi.
Distraction telah berakhir.
Dan tubuhnya tidak mampu bertahan.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada kemenangan.
Hanya keheningan.
Lucian menatap monster itu lama.
Gideon berdiri di sampingnya.
“...Kita tidak benar-benar menang.”
Lucian menggeleng.
“Memang bukan pertandingan.”
Valerine berdiri di sisi lainnya.
“Ujiannya juga sudah selesai.”
Lucian melihat arena yang hancur.
Layar pengawas kembali menyala.
SELEKSI PERTAMA SELESAI.
JUMLAH PESERTA TERSISA: 1.000.
Sepuluh persen.
Dari 10.000 peserta.
Hanya 1.000 yang tersisa.
Namun hari itu, para peserta membawa pulang sesuatu yang tidak tercatat dalam hasil ujian.
Mereka melihat sendiri bahwa dunia tidak sesederhana manusia dan monster.
Ada Magic Monster yang mampu membentuk ikatan.
Ada induk yang mampu kehilangan.
Dan ada emosi yang bahkan dapat mengubah tubuh makhluk hidup menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat daripada batas alaminya.
Di kejauhan, Acheron berdiri sendirian.
Ia memandang monster yang telah mati.
Kemudian menatap Lucian.
“Begitu ya.”
Lucian menoleh.
Pandangan mereka bertemu.
Tidak ada percakapan.
Namun sesuatu telah berubah.
Acheron tidak lagi hanya melihat Lucian sebagai peserta yang menarik.
Ia melihat seseorang yang, ketika diberi kesempatan untuk memilih antara kemenangan dan pemahaman—
memilih untuk memahami.
Sementara itu, di ruang arsip Akademi Orion, sebuah dokumen tua dikeluarkan dari lemari.
Professor Rowan membacanya dengan wajah serius.
Di bagian atas dokumen tertulis:
DISTRACTION
Fenomena langka pada Magic Monster dengan kecerdasan dan struktur sosial tinggi.
Kemampuan meningkat secara ekstrem.
Durasi tidak dapat dipastikan.
Dan di bagian paling bawah terdapat satu catatan:
“Ketika emosi kembali stabil, tubuh akan membayar harga dari kekuatan yang dipaksakan.”
Rowan menutup dokumen itu.
Di luar ruangan, lonceng akademi berbunyi.
Seleksi pertama telah berakhir.
Namun bagi Lucian—
ujian sebenarnya baru saja membuka sebuah pertanyaan baru.