Chapter 21 of 53

Bab 21 — Sesuatu di Balik Arena

626 words

Retakan muncul di tengah arena. Para peserta mundur. Sebagian mengira itu bagian dari ujian. Sebagian lainnya langsung bersiap menghadapi apa pun yang akan muncul. Lucian tidak bergerak. Ia hanya menatap retakan itu. “Ini bukan rune.” Valerine memeriksa pola di sekitarnya. “Benar.” Gideon menatap mereka. “Jadi apa?” Lucian menjawab pelan. “Sesuatu dari bawah.” Tanah kembali berguncang. Kali ini lebih keras. Beberapa peserta kehilangan keseimbangan. Kemudian terdengar suara. Bukan raungan biasa. Suara itu terdengar panjang dan berat, seperti panggilan yang dipaksa keluar dari tenggorokan makhluk yang sudah terlalu lama menahan sesuatu. Para peserta terdiam. Kemudian— DUUM! Permukaan arena pecah. Sesuatu menerobos keluar. Debu dan pecahan batu beterbangan. Dari balik kepulan debu, sebuah kaki besar menghantam lantai. Kemudian kaki kedua. Makhluk itu akhirnya keluar sepenuhnya. Seekor Magic Monster yang menyerupai beruang raksasa. Tubuhnya besar dan berat, dengan bahu tinggi dan lengan depan yang tebal. Bulu gelap menutupi hampir seluruh tubuhnya, tetapi di beberapa bagian terlihat lapisan keras seperti batu hitam yang tumbuh mengikuti bentuk tubuhnya. Kepalanya masih jelas menyerupai beruang. Namun kedua taringnya jauh lebih panjang dari beruang biasa dan melengkung sedikit ke bawah. Di sekitar matanya terdapat garis-garis mana berwarna kelam yang berdenyut mengikuti napasnya. Dan yang paling mencolok— kedua matanya. Merah tua. Bukan karena kebencian. Melainkan seperti bara yang hampir padam. Monster itu berdiri. Tingginya membuat sebagian peserta terlihat kecil di hadapannya. Ia membuka mulut. RAAAAGH! Gelombang mana menyapu arena. Beberapa peserta terlempar. Magnus langsung mengangkat penghalang. “SEMUA PESERTA, MUNDUR!” Monster itu bergerak. Cepat. Terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu. Satu langkahnya membuat lantai retak. Namun anehnya, ia tidak mengejar peserta yang terlempar. Ia berhenti. Mengangkat kepalanya. Mengendus udara. Kemudian melihat ke kiri. Ke kanan. Seolah mencari sesuatu. Lucian memperhatikan. “Dia tidak menyerang secara acak.” Valerine menatap monster itu. “Benar.” Monster itu berlari menuju sisi lain arena. Seorang peserta yang kebetulan berada di jalurnya langsung panik dan menyerang. Serangan itu mengenai tubuh monster. Makhluk tersebut berbalik. Mata merahnya menyala lebih terang. Satu hantaman membuat peserta itu terpental. Namun monster itu tidak mengejarnya. Ia kembali berlari. Mencari. Gideon mengerutkan kening. “Dia seperti tidak peduli pada kita.” “Karena kita bukan tujuannya,” jawab Lucian. Dari menara pengawas, Rowan Everhart berdiri kaku. “Tidak mungkin...” Celestine menoleh. “Apa?” Rowan menatap monster tersebut. “Aku mengenali spesies itu.” Magnus menatapnya. “Jelaskan.” Rowan menarik napas. “Ini salah satu Magic Monster dengan tingkat kecerdasan tinggi.” Ia menunjuk monster itu. “Spesies seperti ini memiliki struktur sosial. Mereka dapat hidup berkelompok dan membentuk ikatan yang kuat.” Celestine mulai memahami. “Termasuk ikatan antara induk dan anak.” Rowan mengangguk. “Ya.” Alaric tetap diam. Rowan kemudian melanjutkan. “Dan kalau aku tidak salah... makhluk ini adalah induk.” Lucian menatap monster itu. Induk. Kata itu membuat sesuatu terasa berbeda. Monster tersebut kembali mengeluarkan suara. Kali ini lebih rendah. Seperti panggilan. Namun tidak ada jawaban. Rowan menunduk. “Ada fenomena langka yang mungkin menjelaskan kondisinya.” “Distraction.” Lucian mendengarkan. “Pada Magic Monster dengan kecerdasan dan tingkat sosial tinggi, kehilangan anggota keluarga yang memiliki ikatan kuat dapat menyebabkan tekanan emosional ekstrem.” “Jika kondisi itu diperparah oleh penangkapan, penyiksaan, atau tekanan berkepanjangan...” Rowan berhenti sejenak. “Tubuhnya dapat masuk ke kondisi Distraction.” Valerine bertanya, “Efeknya?” “Power dan speed meningkat secara drastis. Insting bertarung ikut meningkat. Semakin kuat emosinya, semakin besar kemampuan fisiknya.” Gideon menatap monster itu. “Lalu kenapa dia bisa sampai ke sini?” Rowan melihat bekas luka dan bekas jerat pada tubuh monster. “Karena seseorang menangkapnya.” Lucian terdiam. Monster itu kembali mengendus udara. Masih mencari. Masih berharap. Lucian perlahan memahami. “Dia kehilangan anaknya.” Valerine menatapnya. “Dan sekarang dia mencarinya.” Lucian mengangguk. “Ya.” Di seluruh arena, seleksi berhenti. Tidak ada lagi duel. Tidak ada lagi perhitungan poin. Tidak ada lagi perebutan posisi. Layar pengawas berubah. SELEKSI DITANGGUHKAN. 10.000 peserta yang datang untuk membuktikan diri kini berdiri menghadapi sesuatu yang tidak pernah menjadi bagian dari ujian. Seekor induk yang kehilangan anaknya.

End of Chapter 21

Chapter 21: Bab 21 — Sesuatu di Balik Arena - Takdir Kek 2 yang Ku Pilih | Novel AI Studio