Suara lonceng kembali menggema di seluruh arena.
Tiga puluh menit.
Itulah waktu yang tersisa.
Dari ribuan peserta yang memasuki arena beberapa waktu lalu, jumlah mereka telah berkurang drastis. Sebagian telah keluar melalui gerbang eliminasi, sebagian lainnya memilih bersembunyi sambil menunggu waktu, dan sisanya masih bertarung untuk mempertahankan posisi.
Namun sekarang, arena mulai berubah.
Dinding-dinding sihir perlahan bergerak mendekat.
Wilayah yang dapat digunakan peserta semakin kecil.
“Jadi mereka benar-benar memaksa kita bergerak,” kata Gideon sambil melihat perubahan arena.
Lucian mengangguk.
“Kalau wilayah terus menyempit, peserta yang bersembunyi akan dipaksa keluar.”
Valerine memperhatikan pola cahaya di lantai.
“Bukan cuma itu.”
Lucian menoleh.
“Rune di bawah kita ikut berubah.”
Gideon mengerutkan kening.
“Artinya?”
“Beberapa jalur aman yang tadi terbuka sekarang ditutup. Sebaliknya, beberapa wilayah yang sebelumnya berbahaya justru menjadi aman.”
Lucian terdiam sejenak.
Ia melihat arena.
Lalu melihat para peserta.
Kemudian kembali melihat pola rune.
“Seleksi ini bukan hanya tentang kekuatan.”
Valerine mengangguk.
“Informasi.”
“Dan kemampuan mengambil keputusan.”
Gideon tersenyum.
“Kalau begitu kita sudah punya tiga orang yang cukup cocok.”
Lucian menatapnya.
“Kenapa tiga?”
“Karena aku punya otot.”
Valerine menghela napas.
Lucian hanya tersenyum kecil.
Mereka bergerak.
Tidak jauh dari sana, seorang peserta mencoba menyerang kelompok lain. Namun sebelum pertarungan berkembang, Lucian menunjuk sebuah area di belakang mereka.
“Jangan ke sana.”
Gideon berhenti.
“Kenapa?”
“Rune.”
Sesaat kemudian, permukaan arena di wilayah tersebut berubah. Pilar-pilar sihir muncul dari tanah dan memisahkan area itu.
Gideon menatap Lucian.
“Kalau tadi kita masuk—”
“Kita akan terjebak.”
Valerine memperhatikan Lucian beberapa detik.
“Pengamatanmu bagus.”
Lucian tidak menjawab.
Ia justru melihat ke sisi lain arena.
Ada seseorang berdiri sendirian.
Acheron.
Beberapa peserta mendekatinya dari tiga arah.
Suara burung gagak terdengar samar.
Acheron hanya berdiri diam.
Kemudian—
mereka semua bergerak.
Beberapa detik kemudian, para peserta yang tadi mengepung Acheron mundur dengan wajah terkejut.
Acheron bahkan tidak mengejar.
Ia hanya melihat mereka pergi.
“Dia tidak membuang tenaga,” kata Valerine.
Lucian mengangguk.
“Dia hanya melakukan apa yang diperlukan.”
Di bagian arena yang lain, kilatan petir dan kobaran api sesekali terlihat.
Rosalind masih bertahan.
Namun tidak ada peserta yang benar-benar tahu siapa yang akan bertahan sampai akhir.
Karena itulah Orion menyebut tahap ini sebagai seleksi.
Bukan pertandingan.
Bukan duel.
Yang dinilai bukan hanya siapa yang paling kuat.
Tetapi siapa yang mampu bertahan ketika semua hal mulai tidak sesuai rencana.
Waktu terus berjalan.
Dua puluh menit.
Lima belas menit.
Sepuluh menit.
Jumlah peserta kembali berkurang.
Namun semakin sedikit peserta yang tersisa, semakin keras tekanan di arena.
Lucian mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan dari peserta.
Bukan dari rune.
Dari bawah.
Ia berhenti.
Gideon menoleh.
“Kenapa?”
Lucian menempelkan telapak tangannya ke tanah.
Ada getaran.
Sangat kecil.
Hampir tidak terasa.
Valerine berjongkok di dekatnya.
“Gempa?”
“Tidak.”
Lucian memejamkan mata.
Getaran itu muncul lagi.
Kali ini lebih kuat.
Arena bergetar.
Semua peserta berhenti.
Bahkan Acheron mengangkat kepalanya.
Dari menara pengawas, para profesor berdiri hampir bersamaan.
Magnus menatap lantai.
“Getaran dari bawah arena?”
Celestine memeriksa kristal pengawas.
“Tidak mungkin. Sistem pengaman tidak menunjukkan gangguan.”
Edmund menatap arena dengan wajah serius.
“Kalau begitu... apa yang bergerak?”
Tidak ada yang menjawab.
Kemudian—
DUUM!
Seluruh arena berguncang.
Pola rune di lantai berkedip.
Satu demi satu.
Kemudian beberapa rune padam.
Alaric Noctis yang sejak awal berdiri tenang akhirnya membuka matanya sedikit lebih lebar.
“...Itu bukan bagian dari ujian.”
Semua profesor menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai, suara Alaric terdengar serius.
Di bawah arena—
sesuatu bergerak.