Chapter 19 of 53

Bab 19 — Seleksi Pertama

1.1k words

Suara lonceng besar menggema di seluruh Akademi Orion. DONG—! Gelombang mana menyebar dari menara utama menuju arena ujian. Para peserta yang sebelumnya masih berbicara langsung terdiam. Lantai batu perlahan bergerak. Bagian-bagian halaman akademi terpisah dan membentuk medan yang luas—hutan buatan, reruntuhan bangunan, bukit kecil, jalur batu, dan beberapa lorong sempit yang saling terhubung. Gideon menatap arena dengan alis terangkat. “Ini arena ujian?” Lucian memperhatikan perubahan struktur di hadapan mereka. “Bukan.” “Lalu?” “Medan.” Sebuah kristal besar melayang di atas arena. Kemudian suara seorang pria terdengar melalui sihir pengeras suara. “Seleksi pertama Akademi Orion akan segera dimulai.” Di salah satu menara pengawas, beberapa orang berdiri mengamati para peserta. Seorang pria besar dengan rambut mulai memutih berdiri paling depan. Professor Magnus Arkwright, kepala instruktur tempur. Di sampingnya berdiri seorang wanita berkacamata dengan pakaian formal. Professor Celestine Virell, pengajar teori mana. Tidak jauh dari mereka terdapat seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan seragam militer lama. Professor Edmund Vale, instruktur taktik. Seorang wanita berambut pendek sibuk mengamati kristal-kristal kecil di tangannya. Professor Seraphine Mordane, pengajar rune dan artefak. Sementara seorang pria santai dengan mantel hijau berdiri sambil memperhatikan beberapa Magic Beast penjaga di sekitar arena. Professor Rowan Everhart, pengajar Magical Creatures. Di sisi lain berdiri seorang wanita dengan ekspresi sangat disiplin. Professor Eveline Ashcroft, instruktur Casting dan Control. Mereka semua memiliki tugas berbeda. Namun hari ini, perhatian mereka tertuju pada satu hal. Sepuluh ribu peserta yang akan memperebutkan tempat di Orion. Di balkon paling tinggi berdiri seseorang yang tidak banyak bicara. Jas hitam panjang. Rambut hitam dengan beberapa helai putih. Tongkat sederhana di tangan. Alaric Noctis. Kepala Akademi Orion. Tidak ada yang mengetahui Affinity miliknya. Yang diketahui publik hanyalah satu hal: Alaric adalah seorang Archmage. Ia hanya berdiri di sana. Mengamati. --- “Tujuan kalian sederhana.” Kristal di atas arena menyala. “Bertahan.” Suasana langsung berubah. “Gunakan kemampuan kalian. Gunakan lingkungan. Gunakan kecerdasan kalian.” Beberapa peserta mulai memasang ekspresi tegang. “Tidak ada batasan metode selama kalian tidak melanggar aturan dasar Akademi Orion.” Kemudian angka muncul di udara. 10% Suara pengawas kembali terdengar. “Dari seluruh peserta yang mengikuti seleksi ini, hanya sepuluh persen yang akan melanjutkan ke tahap berikutnya.” Kerumunan langsung riuh. “Sepuluh persen?!” “Berarti sembilan dari sepuluh orang akan gagal!” “Gila!” Lucian tetap diam. Matanya menyapu seluruh arena. Jadi mereka tidak hanya menguji kekuatan. Ia melihat medan yang telah disiapkan. Pergerakan. Pengambilan keputusan. Kemampuan membaca lawan. Dan kemampuan bertahan. Gideon mengencangkan Gauntlet di kedua tangannya. Pelat logamnya mengeluarkan bunyi kecil ketika ia mengepalkan tangan. “Lucian.” “Hm?” “Kalau kita tetap berdiri di sini, kita bakal jadi sasaran pertama.” Lucian mengangguk. “Benar.” Ia langsung bergerak. “Jangan berdiri di tengah.” Gideon tersenyum. “Akhirnya kau ngomong sesuatu yang masuk akal.” Mereka berdua berlari menuju bangunan kosong. DONG—! Lonceng berbunyi. “Seleksi dimulai.” Dalam sekejap— BOOM! Ledakan pertama mengguncang arena. Sihir api, angin, petir, dan berbagai jenis sihir lainnya langsung memenuhi medan. Para peserta menyerang satu sama lain. Sebagian membentuk kelompok. Sebagian berlari menuju hutan. Yang lain mencoba mencari tempat persembunyian. Gideon menatap kekacauan itu. “Baru mulai sudah seperti perang.” Lucian menjawab tenang. “Memang itu tujuannya.” --- Di menara pengawas, Magnus menyilangkan tangan. “Peserta langsung kehilangan kendali.” Edmund menggeleng. “Tidak semuanya.” Ia menunjuk beberapa peserta yang tidak ikut bertarung. “Sebagian memahami bahwa bertarung sekarang justru membuang tenaga.” Celestine memperhatikan kristal pengukur. “Dan beberapa sudah mulai membaca sistem arena.” Seraphine tersenyum tipis. “Menarik.” Magnus menoleh. “Jangan gunakan kata itu sembarangan.” Seraphine tertawa kecil. “Baik, baik.” Di sisi lain, Eveline mengamati para peserta yang menggunakan sihir tanpa kontrol. “Banyak tenaga terbuang.” Rowan justru memperhatikan Magic Beast yang mulai gelisah. “Sepertinya hari ini akan panjang.” Alaric tidak ikut berkomentar. Tatapannya hanya mengikuti satu peserta. Lucian Eisenwald. --- Lucian dan Gideon baru berjalan beberapa meter ketika sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kaki Gideon. “Lucian!” Gideon melompat. BOOM! Tanah meledak. Gideon berhasil keluar dari jangkauan ledakan. Ia kemudian menghantam tanah dengan Gauntlet-nya. DUK! Gelombang gravitasi menyebar. Pecahan batu yang beterbangan langsung jatuh kembali ke tanah. “Jebakan?” Lucian berjongkok. Ia melihat pola sihir yang tersisa. “Bukan buatan peserta.” Ia menyentuh tanah. “Bagian dari arena.” Gideon mengerutkan dahi. “Akademi memasang jebakan juga?” “Ya.” Sebuah suara perempuan terdengar dari atas reruntuhan. “Bukan hanya itu.” Mereka menoleh. Seorang gadis berdiri dengan tenang. Ia membawa buku kecil yang dipenuhi simbol rune. Tatapannya tajam, tetapi tidak terlihat panik meskipun seluruh arena sedang kacau. “Jebakan itu tidak aktif secara acak.” Gideon mengangkat kedua tangannya, Gauntlet masih siap digunakan. “Siapa kau?” “Valerine de Courcey.” Ia menunjuk tanah. “Perhatikan pola retaknya.” Lucian memperhatikan. Retakan kecil membentuk garis yang hampir tidak terlihat. “Jalur pergerakan.” Valerine mengangguk. “Benar.” Ia membuka bukunya. “Medan ini berubah secara berkala. Beberapa jalur akan menjadi aman, sementara jalur lainnya akan dipenuhi jebakan.” Gideon menatap mereka bergantian. “Kalian berdua bisa melihat hal seperti itu?” Lucian menjawab, “Dia membaca runenya.” Valerine berkata, “Dia membaca polanya.” Keduanya saling memandang. Lucian tersenyum tipis. “Menarik.” --- DUARRR! Ledakan besar terdengar dari sisi lain arena. Valerine langsung menoleh. “Zona itu akan ditutup.” Gideon terkejut. “Dari mana kau tahu?” Valerine menunjuk menara. Rune di permukaannya berubah merah. “Dua menit.” Lucian melihat jalur lain. “Kalau begitu kita bergerak sekarang.” Mereka bertiga mulai berlari. Tidak ada perkenalan panjang. Tidak ada waktu untuk itu. Di tempat seperti ini, seseorang hanya bisa mengenal orang lain melalui tindakan. --- Di atas sebuah bangunan, Acheron berdiri dalam bayangan. Seekor gagak hinggap di bahunya. Matanya mengikuti pergerakan Lucian, Gideon, dan Valerine. Ia memperhatikan bagaimana Lucian tidak menyerang secara sembarangan. Bagaimana Gideon mengambil posisi paling depan. Bagaimana Valerine membaca arena. Acheron terdiam beberapa saat. Kemudian berkata pelan, “Begitu ya.” Ia berbalik. Ada bagian lain dari arena yang lebih menarik perhatiannya. --- Waktu terus berjalan. Jumlah peserta mulai berkurang. Beberapa telah dikeluarkan. Sebagian menyerah. Sebagian masih bertarung. Namun seleksi baru memasuki bagian yang lebih sulit. Kristal di atas arena kembali menyala. «Waktu tersisa: 30 menit.» Gideon menghela napas. “Masih tiga puluh menit?” Valerine menutup bukunya. “Medannya juga mulai mengecil.” Lucian melihat pusat arena. Benar. Beberapa bagian medan mulai menghilang. Para peserta perlahan dipaksa berkumpul. Semakin sedikit ruang. Semakin banyak pertemuan. Semakin sulit untuk bersembunyi. Gideon mengepalkan kedua tangannya. Gauntlet-nya mengeluarkan suara logam ringan. “Sekarang seleksinya benar-benar dimulai.” Lucian mengangguk. Jauh di atas mereka, Alaric masih berdiri di tempat yang sama. Diam. Mengamati. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di balik tatapan kepala Akademi Orion itu. Termasuk para peserta yang sedang bertarung di bawahnya. Dan seleksi pertama— baru saja memasuki babak yang sebenarnya.

End of Chapter 19

Chapter 19: Bab 19 — Seleksi Pertama - Takdir Kek 2 yang Ku Pilih | Novel AI Studio