Chapter 1 of 53
Bab 1 — Langit yang Berbeda
1.3k words
Langit malam di atas kota telah berubah menjadi lautan cahaya.
Ledakan sihir terus menerangi bangunan-bangunan di sekitar sebuah menara putih yang menjulang tinggi di tengah kota. Menara itu merupakan salah satu bangunan paling terkenal di kerajaan—tempat para penyihir berkumpul, belajar, dan melakukan penelitian.
Namun malam itu, Menara Putih bukan lagi tempat ilmu pengetahuan.
Ia telah menjadi medan perang.
Di hadapannya berdiri seekor makhluk raksasa.
Bentuk tubuhnya sekilas menyerupai naga, tetapi ukurannya jauh lebih besar dan bentuknya terlalu asing untuk disebut sebagai naga biasa. Enam sayap transparan terbentang dari punggungnya, sementara cahaya biru mengalir di antara sisik-sisik hitam yang menutupi tubuhnya.
Udara di sekitarnya terus berputar.
Setiap kepakan sayapnya saja mampu menghasilkan gelombang sihir yang mengguncang bangunan-bangunan di sekitarnya.
Makhluk itu adalah salah satu Magic Monster terkuat yang pernah diketahui manusia.
Rank: Peak.
Tingkatan tertinggi yang dikenal dalam klasifikasi Magic Monster.
Namun di hadapan makhluk tersebut, berdiri seorang pria yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur.
Rambut putih panjangnya berkibar diterpa angin.
Jubah putih yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian, sementara darah mengalir tipis dari sudut bibirnya.
Akan tetapi, tatapannya masih setenang sebelumnya.
Namanya adalah Aurelius Vance.
Bagi para penyihir, ia dikenal dengan satu gelar yang membuat namanya tercatat dalam sejarah.
The Sovereign of Aether.
Aurelius mengangkat tangannya.
Di belakangnya, ribuan warga telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Para penyihir yang terluka juga berlindung di sana, sementara beberapa penyihir lain berusaha mempertahankan penghalang yang melindungi mereka.
Aurelius berdiri seorang diri di antara mereka dan monster tersebut.
Monster itu meraung.
Tanah bergetar.
Aurelius menarik napas panjang.
“Kalau kau ingin menghancurkan Menara Putih…”
Sebuah lingkaran sihir perlahan terbentuk di belakangnya.
“…kau harus melewatiku terlebih dahulu.”
Monster itu menerjang.
Aurelius menyambutnya.
Pertarungan kembali pecah.
---
Waktu seolah kehilangan maknanya.
Ledakan demi ledakan memenuhi langit.
Aurelius terus berpindah di antara reruntuhan, menghindari serangan monster sekaligus menjaga agar pertarungan tidak mendekati para warga.
Setiap kali monster itu mencoba melewati pertahanannya, Aurelius selalu memaksanya kembali.
Beberapa kali tubuhnya terpental.
Beberapa kali penghalangnya hampir hancur.
Namun setiap kali ia melihat kota di belakangnya, ia kembali berdiri.
Bukan demi Menara Putih.
Bukan demi gelarnya.
Bahkan bukan demi pujian.
Ia hanya tidak ingin orang-orang di belakangnya menjadi korban.
Pada akhirnya, tubuh monster itu mulai dipenuhi luka.
Aurelius sendiri tidak jauh berbeda.
Ia berdiri dengan napas berat, menatap makhluk yang masih berusaha bangkit di hadapannya.
“Sekali lagi…”
Aurelius mengangkat tangan.
Mana di sekelilingnya mulai bergerak.
Udara, cahaya, tanah, bahkan sisa-sisa sihir yang memenuhi medan pertempuran perlahan tertarik menuju satu titik.
Langit di atas kota mulai dipenuhi cahaya putih.
Aurelius menatap monster tersebut.
“Ini yang terakhir.”
Sebuah lingkaran sihir raksasa terbentuk di langit.
“Aether Sovereign.”
Cahaya putih jatuh.
Raungan monster menggema untuk terakhir kalinya sebelum ledakan besar menelan seluruh medan pertempuran.
Untuk beberapa saat, kota menjadi putih.
Kemudian—
sunyi.
Aurelius berdiri di tengah kawah.
Monster itu telah jatuh.
Ia menarik napas panjang sebelum menghela napas lega.
“...Selesai.”
Ia berbalik.
Di kejauhan, para warga mulai keluar dari tempat perlindungan. Para penyihir yang masih mampu berdiri ikut menyusul.
Aurelius berjalan mendekati mereka.
Dalam pikirannya, mungkin seseorang akan berterima kasih.
Mungkin akan ada senyuman.
Mungkin—
“Monster!”
Langkahnya berhenti.
Aurelius menatap kerumunan.
“Jangan biarkan dia mendekat!”
“Lihat apa yang terjadi pada kota kita!”
“Dia juga monster!”
“Kalau bukan karena dia, semua ini tidak akan terjadi!”
Satu demi satu suara terdengar.
Aurelius tidak menjawab.
Ia hanya menatap wajah-wajah di hadapannya.
Wajah yang baru saja ia lindungi.
Wajah yang seharusnya menyambutnya dengan rasa lega.
Namun yang ia temukan hanyalah ketakutan.
Dan kebencian.
Aurelius menundukkan kepalanya sedikit.
“...Begitu rupanya.”
Lalu terdengar suara langkah kaki dari tengah kerumunan.
Seorang pria berjalan keluar.
Pakainya masih rapi. Tidak ada luka berarti di tubuhnya, seolah ia sama sekali tidak ikut berada di tengah pertempuran.
Aurelius mengenalnya.
Albert.
Orang yang telah berdiri di sisinya selama bertahun-tahun.
Orang yang paling ia percaya.
Aurelius menatapnya.
“Albert.”
Pria itu berhenti beberapa langkah di depannya.
Aurelius tersenyum tipis.
“Setidaknya kau datang.”
Albert tidak menjawab.
Tatapannya membuat senyum Aurelius perlahan menghilang.
Ada sesuatu yang berbeda.
Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang kawan.
“...Kau juga menganggapku monster?”
Albert akhirnya membuka mulut.
“Bukan.”
Aurelius mengerutkan kening.
Albert mengangkat tangan.
Sebuah bilah sihir muncul di telapak tangannya.
“Menurutku…”
Ia melangkah maju.
“…kau jauh lebih berbahaya daripada monster.”
Aurelius terdiam.
Dalam sekejap, semuanya terasa masuk akal.
Tatapan para warga.
Serangan monster.
Kemunculan Albert.
Semuanya.
Aurelius tersenyum pahit.
“Jadi sejak awal…”
Kalimatnya terputus.
Bilah sihir Albert menembus tubuhnya.
Aurelius mencoba mengangkat tangan, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah.
Kakinya kehilangan kekuatan.
Ia jatuh perlahan.
Suara-suara di sekitarnya mulai menjauh.
Anehnya, Aurelius tidak merasa marah.
Ia hanya merasa lelah.
Tatapannya terangkat menuju langit.
Langit yang selama hidupnya selalu ia kagumi.
Bintang-bintang perlahan menjadi kabur.
“...Lucu.”
Tawa kecil keluar dari bibirnya.
“Aku sudah mempelajari begitu banyak hal…”
Napasnya semakin berat.
“…tetapi satu hal ini bahkan tidak pernah bisa kujawab.”
Apa yang ada setelah kematian?
Aurelius memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memiliki jawaban.
“Kalau memang ada kesempatan kedua…”
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“…aku ingin melihatnya.”
Hening.
Lalu—
sebuah suara terdengar.
Suara seorang wanita.
Jauh.
Samar.
Namun entah bagaimana, suara itu terdengar begitu jelas di dalam pikirannya.
“Jadi… itu harapanmu?”
Aurelius tidak mampu menjawab.
Kesadarannya semakin tenggelam.
Kemudian suara itu terdengar sekali lagi.
“Baiklah.”
Semuanya menjadi gelap.
---
Cahaya.
Hangat.
Terang.
Aurelius perlahan membuka mata.
Tidak ada tanah.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada Menara Putih.
Hanya cahaya putih yang memenuhi pandangannya.
“...Apa?”
Suara yang keluar dari mulutnya terdengar asing.
Lebih kecil.
Lebih lembut.
Aurelius mencoba bergerak.
Tubuhnya terasa begitu ringan.
Kemudian sebuah suara terdengar.
“Dia membuka matanya!”
Seorang wanita muncul di hadapannya.
Wajah itu sama sekali tidak dikenalnya.
Rambutnya berwarna cokelat gelap. Matanya terlihat lelah, tetapi senyum di wajahnya begitu hangat.
Di sampingnya berdiri seorang pria berambut hitam.
Wajah pria itu terlihat lega.
“Eleanor…”
Wanita itu menatapnya.
“Dia benar-benar bangun.”
Pria itu tersenyum.
“Lihat, Eleanor. Dia sehat.”
Aurelius membeku.
Eleanor?
Siapa Eleanor?
Ia mencoba berbicara.
“...Siapa…”
Namun yang keluar hanyalah suara kecil.
Suara seorang bayi.
Aurelius terdiam.
Matanya membesar.
Ia perlahan mengangkat tangannya.
Yang terlihat hanyalah tangan kecil.
Sangat kecil.
Untuk beberapa saat, pikirannya seolah berhenti bekerja.
Wanita itu mengusap kepalanya dengan lembut.
“Selamat datang di dunia, Lucian.”
Lucian?
Aurelius tidak mengenal nama itu.
Namun sekarang…
nama itu adalah miliknya.
Ia menatap kedua orang asing tersebut.
Tidak ada ketakutan dalam tatapan mereka.
Tidak ada kebencian.
Hanya kehangatan.
Pria itu tersenyum.
“Anak kita akhirnya lahir.”
Aurelius tidak mengerti apa yang terjadi.
Ia tidak tahu siapa mereka.
Tidak tahu di mana dirinya berada.
Dan terlebih lagi…
ia tidak tahu dunia macam apa yang telah ia masuki.
---
Hari-hari berlalu.
Lucian mulai mengamati dunia di sekitarnya.
Ia segera menyadari bahwa dirinya bukan sekadar terlahir kembali dalam tubuh baru.
Dunia ini sendiri telah berubah.
Dari jendela kamarnya, ia melihat sebuah kendaraan melintas di jalan.
Bentuknya menyerupai kereta tanpa kuda.
Tidak ada hewan yang menariknya.
Namun kendaraan itu bergerak dengan sendirinya.
Sebuah kristal menyala samar di bagian depannya.
Lucian menatapnya lama.
Di kejauhan, lampu-lampu kota menyala tanpa api.
Kereta bergerak di atas jalur besi.
Asap mengepul dari cerobong-cerobong pabrik.
Dan di antara semua itu, sihir hidup berdampingan dengan teknologi.
Lucian terdiam.
Pengetahuan Aurelius mulai bekerja.
Kristal sebagai sumber energi.
Mesin yang memanfaatkan mana.
Transportasi yang menggabungkan teknologi dengan sihir.
Perkembangan seperti ini tidak pernah ia lihat di kehidupan sebelumnya.
Dunia ini telah berjalan jauh melewati zamannya.
Lucian perlahan tersenyum.
Bukan karena ia memahami semuanya.
Justru karena ia tidak memahami apa-apa.
Untuk pertama kalinya sejak kematiannya, rasa penasaran yang pernah memenuhi hidup Aurelius kembali menyala.
Ia menatap langit dari balik jendela.
Langit itu masih luas.
Masih biru.
Namun dunia di bawahnya telah berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Lucian terdiam cukup lama.
Kemudian sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.
“Dunia macam apa ini…?”
Ia belum mengetahui jawabannya.
Namun satu hal telah ia pahami.
Ia tidak lagi berada di dunia yang dahulu ia kenal.