Chapter 18 of 53

Bab 18 — Hari Pertama Ujian Orion

1.1k words

Pagi di Kota Orion terasa lebih ramai daripada hari sebelumnya. Jalan-jalan utama dipenuhi calon peserta yang datang dari berbagai wilayah. Kereta sihir berhenti silih berganti di stasiun, sementara para pedagang memenuhi sisi jalan dengan berbagai makanan dan perlengkapan untuk para peserta ujian. Di depan penginapan, Lucian berdiri dengan pakaian formal House Eisenwald. Warna biru tua mendominasi pakaiannya, dengan aksen emas dan putih yang sederhana. Lambang elang Eisenwald terpasang kecil di kerah kanannya. Astra berdiri di sampingnya. Griffin muda itu terus memperhatikan kerumunan dengan rasa ingin tahu. “Jangan pergi terlalu jauh,” kata Lucian. Astra menatapnya. Kemudian mengeluarkan suara pendek. Lucian mengangguk. “Bagus.” Cedric berdiri beberapa langkah di belakangnya. “Hari ini saya hanya dapat mengantar Tuan Muda sampai area luar akademi.” “Aku mengerti.” “Dan saya ulangi sekali lagi. Jangan memaksakan penggunaan mana.” Lucian menghela napas kecil. “Aku tahu kondisi tubuhku.” “Mengetahuinya berbeda dengan mengingatnya ketika bertarung.” Lucian menatap Cedric. Untuk beberapa detik mereka saling diam. “...Benar juga.” Fiona tertawa kecil sambil merapikan bagian bahu pakaian Lucian. “Semoga ujian Tuan Muda Lucian berjalan lancar.” “Terima kasih, Fiona.” Astra kemudian menarik ujung pakaian Lucian dengan paruhnya. Lucian menunduk. “Kau ingin ikut?” Astra mengangguk. “Kau tidak bisa.” Griffin muda itu langsung menundukkan kepala. Fiona menahan tawa. Lucian tersenyum tipis. “Nanti setelah aku selesai.” Astra mengangkat kepalanya kembali. Lucian kemudian berbalik dan mulai berjalan menuju Akademi Orion. Gerbang akademi telah dipenuhi calon peserta. Petugas memeriksa tiket satu per satu. Ketika Lucian menyerahkan tiketnya, petugas membaca nama yang tertera. “Lucian Eisenwald.” Tatapan petugas berhenti sejenak. “House Eisenwald?” “Ya.” Petugas mengembalikan tiket. “Silakan masuk.” Lucian melewati gerbang. Beberapa langkah kemudian, sebuah suara terdengar dari belakang. “Eisenwald!” Lucian menoleh. Seorang pemuda berjalan mendekatinya. Rambut gelap, pakaian bangsawan yang sedikit berantakan, dan ekspresi santai yang tidak terlalu cocok dengan suasana tegang di sekitar mereka. “Gideon Cross.” Lucian mengingatnya dari hari sebelumnya. “Selamat pagi.” “Selamat pagi.” Gideon melirik kerumunan. “Kau kelihatan tenang.” “Haruskah aku panik?” Gideon tertawa. “Tidak juga.” Mereka berjalan bersama menuju halaman utama. “Aku masih tidak mengerti bagaimana kau bisa membaca buku sampai sehari sebelum ujian.” “Buku tetap buku.” “Dan ujian tetap ujian.” “Benar.” Gideon menghela napas. “Kau memang susah diajak bercanda.” Lucian menoleh. “Aku sedang bercanda.” Gideon terdiam. “...Serius?” Lucian tersenyum tipis. Untuk sesaat, Gideon hanya menatapnya. Kemudian tertawa. “Baiklah. Aku mulai mengerti.” Di halaman utama, ribuan peserta mulai berkumpul. Lucian mengamati sekeliling. Banyak keluarga bangsawan. Banyak pengguna senjata. Penyihir muda dengan tongkat, cincin, dan berbagai artefak. Namun ada satu kelompok yang membuat suasana di sekitar mereka terasa sedikit berbeda. Beberapa peserta berbicara dengan suara rendah. “Itu Acheron Ravenhart?” “Yang dari House Ravenhart?” “Jangan terlalu keras.” Lucian menoleh. Seorang pemuda berdiri tidak jauh dari kerumunan. Rambut gelap. Pakaian hitam. Tatapan tenang yang sulit dibaca. Beberapa ekor gagak terbang di atas bangunan akademi. Acheron Caelum Ravenhart. Lucian memperhatikan beberapa saat. Gideon ikut melihat ke arah yang sama. “Itu Ravenhart.” “Kau mengenalnya?” “Tidak secara pribadi.” Gideon menurunkan suaranya. “House Ravenhart itu... berbeda.” “Bagaimana?” Gideon melirik sekeliling sebelum menjawab. “Mereka keluarga bangsawan kekaisaran. Tapi sangat tertutup.” Lucian diam. “Di medan perang mereka punya julukan yang cukup terkenal.” “Apa?” Gideon menjawab pelan. “Pembunuh dengan Mahkota.” Lucian kembali melihat Acheron. “Julukan yang cukup keras.” “Katanya mereka ahli dalam operasi rahasia, pembunuhan, bahkan interogasi untuk mendapatkan informasi.” Gideon berhenti sejenak. “Kalau kau bertanya kepada masyarakat, mereka punya julukan lain.” “Mahkota Malam.” Lucian mengingat nama itu. Sementara itu, Acheron berjalan melewati kerumunan tanpa memperhatikan siapa pun. Tidak ada pengawal yang berlebihan. Tidak ada rombongan besar. Hanya dirinya dan beberapa gagak yang mengikuti dari kejauhan. Lucian memperhatikan langkahnya. Cara Acheron melihat sekitar. Tidak banyak. Namun setiap tatapannya berhenti tepat pada tempat yang diperlukan. Dia juga mengamati. Lucian memperhatikan lebih lama. Acheron kemudian berhenti. Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik. Tidak ada permusuhan. Tidak ada tantangan. Hanya dua orang yang sama-sama sedang menilai situasi. Acheron kemudian berkata pelan, “Begitu ya.” Ia kembali berjalan. Lucian sedikit mengernyit. Gideon bertanya, “Apa?” “Tidak ada.” Lucian kembali melihat arena. “Menarik.” Tak lama kemudian, seorang pengawas senior naik ke panggung. “Selamat datang di Akademi Orion.” Seluruh halaman perlahan menjadi sunyi. “Kalian datang dari berbagai wilayah dengan latar belakang yang berbeda.” Ia mengangkat tongkat sihir. “Sebagian berasal dari keluarga bangsawan.” Cahaya muncul di ujung tongkat. “Sebagian berasal dari keluarga biasa.” Lingkaran sihir besar mulai terbentuk di tengah arena. “Dan sebagian lainnya mungkin datang dengan nama keluarga yang bahkan tidak dikenal siapa pun.” Lingkaran itu semakin terang. “Namun di sini, nama keluarga kalian tidak akan menentukan hasil ujian.” Lucian memperhatikan lingkaran tersebut. Matanya bergerak dari satu simbol ke simbol lainnya. Struktur pengukuran mana. Kemudian ia melihat lapisan berikutnya. Kontrol. Lapisan berikutnya. Respons. Dan satu bagian lain yang membuatnya sedikit berhenti. Efisiensi penggunaan mana. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Menarik.” Gideon melirik. “Kau sudah menemukan sesuatu lagi?” “Ujian ini lebih rumit daripada kelihatannya.” “Bukankah semua ujian memang begitu?” “Tidak semuanya.” Gideon menghela napas. “Baiklah. Aku akan berhenti bertanya.” Di sisi lain arena, Acheron berdiri diam. Tatapannya kembali tertuju pada Lucian. Ia memperhatikan cara pemuda itu melihat lingkaran sihir. Tidak seperti peserta lain. Sebagian besar melihatnya sebagai alat untuk menguji kemampuan. Lucian justru mencoba memahami bagaimana alat itu bekerja. Acheron menyipitkan mata. Dia tidak hanya ingin melewati ujian. Dia ingin memahami sistemnya. Seorang peserta di dekat Acheron bertanya, “Kau mengenal Eisenwald?” “Tidak.” “Lalu kenapa kau memperhatikannya?” Acheron diam beberapa saat. Kemudian menjawab, “Belum tahu.” Gagak di atasnya mengepakkan sayap. Acheron kembali melihat arena. “Begitu ya.” Pengawas mengangkat tongkatnya. “Peserta, bersiap!” Suasana berubah. Beberapa peserta mulai mengaktifkan mana. Senjata ditarik. Lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka. Lucian menarik napas perlahan. Tangannya mengepal. Ia teringat rumah. Arthur. Eleanor. Clara. Astra. Kemudian pikirannya kembali pada dirinya sendiri. Ia bukan Aurelius Vance. Ia tidak datang ke sini sebagai Archmage dari masa lalu. Hari ini, ia adalah Lucian Eisenwald. Dan ia akan menghadapi ujian dengan kemampuan yang ia miliki sekarang. Pengawas mengangkat tongkat tinggi-tinggi. “UJIAN PERTAMA DIMULAI!” Lingkaran sihir di tengah arena menyala terang. Gelombang mana menyebar ke seluruh halaman. Para peserta mulai bergerak. Lucian melangkah maju. Di kejauhan, Acheron juga berjalan menuju area ujiannya. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan sederhana di hari itu kelak akan menjadi awal dari persaingan yang jauh lebih besar. Satu berasal dari keluarga yang dikenal sebagai Permata Biru. Yang lain berasal dari keluarga yang dikenal sebagai Mahkota Malam. Dan di antara keduanya... sebuah hubungan yang tidak akan mudah disebut sebagai persahabatan maupun permusuhan mulai terbentuk.

End of Chapter 18