Chapter 17 of 53
Bab 17 — Kota di Bawah Menara Orion
863 words
Kereta sihir terus melaju melewati jalur utama.
Semakin dekat dengan Akademi Orion, semakin padat pula wilayah di sekitarnya.
Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan dengan gedung industri baru. Toko-toko memenuhi sisi jalan, sementara lampu mana tergantung di sepanjang trotoar meskipun matahari masih cukup tinggi.
Lucian memperhatikan semuanya dari balik jendela.
“Jadi ini kota Orion...”
Di kejauhan, menara akademi masih terlihat menjulang tinggi.
Namun ternyata, bangunan akademi bukan satu-satunya hal besar di wilayah itu.
Kota di bawahnya bahkan jauh lebih ramai daripada yang Lucian bayangkan.
Kereta barang bergerak menuju gudang-gudang besar. Pedagang menjajakan Mana Crystal, perlengkapan sihir, buku, pakaian akademi, hingga senjata.
Beberapa toko bahkan memasang papan bertuliskan:
PERLENGKAPAN KHUSUS CALON SISWA ORION
Lucian sedikit mengernyit.
“Sepertinya semua orang tahu kapan ujian dimulai.”
Cedric yang duduk di seberangnya menjawab tenang.
“Akademi Orion adalah salah satu pusat pendidikan sihir terbesar di kerajaan. Kedatangan ribuan calon peserta tentu memberikan keuntungan besar bagi kota.”
“Ribuan?”
“Kurang lebih.”
Lucian kembali melihat keluar.
Jadi sebanyak itu orang datang untuk mengikuti ujian...
Ia kemudian teringat sesuatu.
Surat dari Orion.
Sebuah tiket.
Bukan surat penerimaan.
Lucian tersenyum tipis.
“Berarti aku memang belum menjadi siswa.”
Fiona yang sedang merapikan pakaian perjalanan menoleh.
“Tuan Muda Lucian sudah tahu itu?”
“Kalau aku sudah diterima, mereka tidak akan menyebutnya ujian masuk.”
Fiona tertawa kecil.
“Benar juga.”
Astra tiba-tiba naik ke kursi dan menempelkan wajahnya ke jendela.
Lucian menatapnya.
“Kau jangan sampai melompat keluar.”
Astra menoleh.
Kemudian duduk kembali.
“Bagus.”
Lucian mengusap kepalanya.
“Setidaknya kau mengerti.”
---
Kereta akhirnya berhenti di stasiun Orion.
Suara rem mekanis terdengar.
Ssshhh—
Pintu terbuka.
Udara kota langsung masuk.
Lucian turun bersama Cedric, Fiona, dan Astra.
Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah jumlah orang.
Sangat banyak.
Anak-anak seusianya berjalan bersama keluarga masing-masing.
Ada yang mengenakan pakaian bangsawan dengan lambang keluarga.
Ada yang menggunakan pakaian sederhana.
Ada pula yang membawa senjata.
Seorang anak laki-laki berjalan sambil membawa pedang besar di punggung.
Di sisi lain, seorang gadis membawa tongkat yang dihiasi kristal.
Beberapa bahkan datang bersama Magic Beast.
Lucian memperhatikan semuanya.
Menarik.
Dunia sihir ternyata jauh lebih beragam daripada yang selama ini ia lihat dari buku.
“Apakah mereka semua calon peserta?” tanya Fiona.
Cedric mengangguk.
“Sebagian besar.”
Lucian berjalan perlahan.
Tiba-tiba seseorang berlari melewatinya.
“Cepat! Kita harus mendaftar sebelum antreannya panjang!”
“Jangan dorong!”
“Maaf!”
Keramaian membuat Lucian sedikit terdiam.
Ia terbiasa dengan perpustakaan.
Keheningan.
Buku.
Eksperimen.
Sekarang ia berada di tengah lautan manusia yang semuanya datang dengan tujuan yang sama.
Mereka ingin masuk Orion.
Astra berjalan di sampingnya.
Karena ukurannya masih kecil, beberapa orang menoleh penasaran.
“Lihat, Griffin.”
“Griffin muda?”
“Apakah itu Magic Beast miliknya?”
Bisikan-bisikan mulai terdengar.
Lucian tidak terlalu memperdulikannya.
Namun seorang anak laki-laki yang lewat tiba-tiba berhenti.
Ia menatap Astra cukup lama.
“Apakah kau seorang Tamer?”
Lucian menoleh.
“Bukan.”
Anak itu terlihat bingung.
“Lalu dia...?”
“Partner.”
Jawaban Lucian membuat anak itu semakin bingung.
“Bukankah sama saja?”
Lucian menatap Astra.
“Tidak.”
Astra mengeluarkan suara kecil.
Lucian tersenyum.
“Dia bukan barang milikku.”
Anak itu terdiam sebentar.
Kemudian mengangguk.
“...Oh.”
Ia lalu pergi.
Lucian kembali berjalan.
Namun tanpa disadari, kalimat sederhana itu membuatnya berpikir.
Hubungan antara manusia dan Magic Beast ternyata tidak selalu sesederhana kontrak.
---
Setelah meninggalkan stasiun, mereka menuju penginapan yang sudah dipesan House Eisenwald.
Bangunannya cukup besar, dengan gaya arsitektur klasik yang dipadukan dengan teknologi mana.
Pintu terbuka otomatis ketika mereka mendekat.
Lampu kristal menyala di dalam.
Fiona tampak kagum.
“Teknologinya lebih maju daripada Eldermere.”
Lucian mengangguk.
“Wilayah sekitar Orion pasti mendapatkan banyak investasi.”
Cedric menyerahkan dokumen kepada penjaga penginapan.
“Kamar sudah disiapkan.”
Setelah barang-barang dibawa masuk, Lucian tidak langsung beristirahat.
Ia berdiri di balkon.
Dari sana, sebagian besar kota terlihat.
Dan di kejauhan...
Akademi Orion.
Menara-menara besar menjulang di balik bangunan kota.
Beberapa jalur mana mengarah langsung ke kompleks akademi.
Lucian memperhatikan gerbangnya.
Banyak calon peserta berkumpul di sana.
Ada yang terlihat percaya diri.
Ada yang gugup.
Ada yang berlatih.
Ada yang bahkan membawa buku dan membaca sambil berjalan.
Lucian tersenyum kecil.
“Jadi semuanya datang dengan alasan masing-masing.”
Ia memegang tiket Orion yang tersimpan di sakunya.
Aku juga.
Namun alasan Lucian berbeda.
Ia tidak datang hanya untuk mendapatkan gelar.
Tidak hanya untuk menjadi penyihir yang hebat.
Ia ingin melihat dunia.
Mempelajari sihir.
Menemukan jawaban.
Dan mungkin...
menemukan sesuatu tentang dirinya sendiri.
Angin sore bertiup melewati balkon.
Astra berdiri di sampingnya.
Lucian menatap langit.
“Besok kita mulai.”
Astra mengepakkan sayap kecilnya.
“Graaa!”
Lucian tertawa pelan.
“Jangan terlalu bersemangat.”
Di bawah sana, lonceng besar kota berbunyi.
Dong—
Sekali.
Kemudian sekali lagi.
Para calon peserta mulai bergerak menuju penginapan masing-masing.
Besok adalah hari pendaftaran dan pemeriksaan awal.
Setelah itu, semuanya akan bergantung pada kemampuan mereka sendiri.
Lucian menatap menara Orion sekali lagi.
Untuk pertama kalinya sejak kehidupan keduanya dimulai, ia berdiri di depan sesuatu yang tidak bisa ia selesaikan hanya dengan pengetahuan kehidupan sebelumnya.
Dan justru karena itulah...
Lucian merasa sedikit bersemangat.
> “Mari kita lihat... seberapa jauh dunia ini telah berkembang.”
Di tempat lain, jauh dari balkon itu, sebuah lambang lama berwarna biru tua tersimpan di dalam sebuah kotak.
Simbol yang sama dengan lencana yang ditemukan di Eldermere.
Kotak itu tertutup rapat.
Belum waktunya dibuka.
Namun perjalanan Lucian menuju Orion telah membuat roda pertama dari sebuah misteri lama mulai bergerak.
Dan kali ini, Lucian tidak tahu apa yang menunggunya di balik pintu berikutnya.