Chapter 16 of 53

Bab 16 — Jejak yang Tidak Seharusnya Ada

1.5k words

Pagi datang perlahan di kota Eldermere. Cahaya matahari menembus sela-sela tirai kamar penginapan, jatuh tepat di atas meja tempat sebuah buku catatan terbuka. Di sampingnya terdapat pena, beberapa lembar kertas, dan secangkir teh yang sudah tidak lagi mengepulkan uap. Lucian duduk di depan meja. Tatapannya tertuju pada catatan yang ia tulis semalam. > Solar Genesis — konsumsi mana tinggi. Kompresi berhasil. Efektivitas meningkat dalam pertarungan jarak dekat. Tubuh masih belum mampu mengikuti output. Ia berhenti menulis. Jarinya bergerak perlahan ke bagian bawah halaman. Ada satu kalimat yang belum selesai. > Pria bermantel menyebut nama Eisenwald. Kemungkinan... Lucian tidak melanjutkannya. Ia menutup buku. "Masih terlalu sedikit informasi." Di lantai, Astra sedang tidur dengan posisi yang tidak masuk akal. Tubuh griffin muda itu meringkuk seperti anak kecil, kedua sayapnya menutupi sebagian wajahnya. Lucian memandangnya beberapa saat. "Bagaimana kau bisa tidur setelah kemarin?" Astra hanya mengeluarkan suara kecil. "Kurasa kau memang tidak peduli." Tiba-tiba terdengar ketukan. Tok. Tok. "Tuan Muda Lucian?" Suara Fiona terdengar dari balik pintu. "Masuk." Pintu terbuka. Fiona muncul membawa nampan sarapan. "Selamat pagi, Tuan Muda Lucian. Saya membawa sarapan." "Terima kasih." Fiona meletakkan nampan di atas meja. Matanya kemudian berpindah kepada Astra. "Dan sepertinya ada seseorang yang masih tidur." Astra membuka satu mata. Kemudian menutupnya kembali. Fiona tertawa kecil. "Sepertinya dia tidak tertarik dengan sarapan." "Dia hanya malas." Lucian mengambil roti. "Atau mungkin masih kelelahan." Fiona tersenyum. "Kalau begitu, kita harus membiarkannya beristirahat." Lucian mengangguk. Pagi itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. --- Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki dari luar. Kali ini langkahnya berat dan teratur. Lucian langsung mengenalinya. Cedric. Pintu kembali terbuka. Pria itu masuk dengan pakaian yang masih sama rapinya seperti kemarin. Jas hitamnya tidak memiliki banyak kerutan meskipun ia baru saja melewati pertarungan. Rapier tetap tergantung di pinggangnya. "Tuan Muda." "Ada apa?" "Kereta sudah dipersiapkan." Cedric berhenti sejenak. "Kita dapat melanjutkan perjalanan dalam waktu kurang dari satu jam." Lucian mengangguk. "Baik." Namun sebelum Cedric pergi, seorang penjaga kota muncul di belakangnya. "Tuan Muda Lucian." Lucian menoleh. "Ya?" Penjaga itu tampak sedikit ragu. "Ketua penjaga kota ingin berbicara dengan Anda sebelum rombongan berangkat." Lucian mengangkat alis. "Apakah mengenai pria bermantel kemarin?" "Benar." Lucian terdiam sesaat. Kemudian ia berdiri. "Antarkan aku." --- Mereka bertemu di sebuah ruangan kecil di kantor penjaga kota. Tidak ada kemewahan. Hanya meja kayu, beberapa dokumen, peta Eldermere, dan sebuah lemari besi di sudut ruangan. Ketua penjaga berdiri ketika Lucian masuk. "Tuan Muda Eisenwald." Lucian membalas dengan anggukan. "Apa yang Anda temukan?" Ketua penjaga tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah benda kecil dari atas meja. Sebuah lencana. Ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Warnanya hitam keperakan dengan bagian tengah berwarna biru tua. Lucian memperhatikannya. Awalnya ia tidak melihat sesuatu yang aneh. Namun ketika ketua penjaga membalik lencana itu— mata Lucian menyipit. Ada sebuah simbol di belakangnya. Lingkaran tipis. Dua garis yang menyerupai sayap. Dan sebuah bentuk kecil seperti mata di tengah. Lucian mengambil lencana tersebut. Jarinya berhenti. "Di mana kalian menemukannya?" "Di dalam pakaian pria bermantel." Lucian membaliknya lagi. "Apakah Anda tahu lambang ini?" Ketua penjaga menggeleng. "Kami belum menemukan catatan mengenai organisasi yang menggunakannya." Lucian tidak menjawab. Ia mengenal bentuk itu. Bukan karena pernah melihatnya baru-baru ini. Melainkan karena ia pernah melihatnya berkali-kali ketika mempelajari sejarah keluarganya. Bentuknya memiliki kemiripan dengan simbol lama House Eisenwald. Bukan lambang keluarga yang digunakan sekarang. Versi lama. Versi yang bahkan jarang digunakan dalam dokumen resmi. Lucian mengangkat pandangan. "Apakah ada hal lain?" Ketua penjaga mengeluarkan selembar kertas. "Ini ditemukan bersama lencana tersebut." Sebuah gambar sederhana. Tidak lebih dari beberapa garis. Namun ada satu kata yang ditulis dengan tinta hitam di bawahnya. Eisenwald. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Lucian menatap tulisan itu. Kemudian menatap lencana di tangannya. Jadi memang bukan kebetulan. Pria itu sengaja menyebut keluarganya. Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting. Mengapa? "Apakah pria itu mengatakan sesuatu setelah ditangkap?" Ketua penjaga menggeleng. "Dia tidak banyak bicara." "Dan?" "Dia hanya mengatakan satu hal." "Apa?" Ketua penjaga menarik napas. > "Katanya, 'Kalian belum mengerti apa yang sedang kalian hadapi.'" Lucian terdiam. Kalimat itu tidak menjawab apa pun. Justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Cedric yang berdiri di belakang Lucian akhirnya berbicara. "Tuan Muda, sebaiknya masalah ini kita serahkan kepada Lord Arthur." Lucian melihatnya. Cedric melanjutkan. "Jika simbol tersebut benar berkaitan dengan House Eisenwald, keluarga Anda memiliki orang yang jauh lebih memahami sejarahnya." Lucian mengangguk perlahan. "Benar." Ia menyerahkan kembali lencana itu. Namun sebelum melepaskannya, ia memperhatikan bentuk simbol tersebut sekali lagi. Ia mengingat setiap garisnya. Setiap sudutnya. Kemudian ia berkata: "Berikan salinannya." Ketua penjaga menyerahkan gambar tersebut. Lucian menerimanya. "Terima kasih." Setelah keluar dari kantor penjaga, Lucian berjalan menuju penginapan. Cedric berjalan di sampingnya. "Tuan Muda." "Ya?" "Jangan menyelidikinya sendiri." Lucian menoleh. "Aku hanya ingin tahu." "Rasa ingin tahu bukan masalah." Cedric menatap lurus ke depan. "Yang menjadi masalah adalah ketika rasa ingin tahu membuat seseorang masuk terlalu jauh." Lucian terdiam. Kalimat itu mengingatkannya pada sesuatu. Sesuatu dari kehidupan yang jauh berbeda. Dulu, ia juga memiliki rasa ingin tahu yang sama. Tentang sihir. Tentang dunia. Tentang hal-hal yang tidak diketahui manusia. Dan rasa ingin tahu itu pernah membawanya ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Lucian menghela napas. "Baik." Cedric mengangguk. Namun Lucian tidak mengatakan satu hal. Ia sudah menghafal simbol itu. --- Satu jam kemudian, rombongan meninggalkan Eldermere. Kereta sihir kembali bergerak di atas jalur rel. Suara roda besi beradu dengan rel terdengar teratur. Tak... tak... tak... tak... Lucian duduk di dekat jendela. Astra berada di sampingnya. Griffin muda itu sesekali mengangkat kepala untuk melihat pemandangan di luar. Fiona duduk di seberang. Sementara Cedric berada di dekat pintu, membaca beberapa laporan perjalanan. Pemandangan di luar perlahan berubah. Rumah-rumah sederhana mulai jarang terlihat. Sebaliknya, bangunan besar mulai bermunculan. Pabrik. Gudang. Menara mana. Jalur rel bercabang. Kereta barang. Kendaraan dengan mesin mana. Lucian memperhatikan semuanya. "Semakin dekat ke pusat kerajaan..." Cedric mengangkat pandangan dari dokumennya. "Benar." "Teknologinya semakin berkembang." "Wilayah pusat memang memiliki akses mana crystal dan sumber daya yang lebih besar." Lucian kembali melihat keluar. Sebuah kendaraan besar melewati kereta mereka. Bentuknya seperti mobil tua dengan bodi logam hitam dan roda besar. Di bagian depannya terdapat kristal biru yang menyala. Tidak ada kuda. Hanya mesin. Lucian tersenyum tipis. "Dunia ini benar-benar berubah." Fiona tersenyum. "Tuan Muda baru menyadarinya?" "Aku tahu perubahan itu ada." Lucian menyandarkan kepala ke kursi. "Tapi melihatnya secara langsung berbeda." Astra tiba-tiba berdiri. Ia mendekat ke jendela. Kepalanya mengikuti kendaraan tadi sampai menghilang dari pandangan. Lucian menatapnya. "Kau tertarik?" Astra mengeluarkan suara kecil. "Kalau suatu hari nanti kau bisa terbang, jangan mengejar kendaraan." Astra memiringkan kepalanya. Fiona tertawa. "Sepertinya dia tidak mengerti." "Memang." Lucian mengusap kepala Astra. "Dan itu mungkin lebih baik." --- Beberapa jam berlalu. Kereta mulai memasuki wilayah yang jauh lebih ramai. Jalur rel menjadi lebih banyak. Kereta dari berbagai arah melintas. Ada kereta penumpang, kereta barang, bahkan kereta yang membawa peti-peti kristal mana. Lucian melihat pekerja memindahkan kristal menggunakan alat mekanis. Di kejauhan, sebuah menara besar mengeluarkan cahaya biru ke langit. Mana dipompa ke dalam jaringan kota. Lampu-lampu jalan menyala meskipun hari belum sepenuhnya gelap. Lucian terdiam. Ia kemudian mengambil buku catatannya. Membuka halaman baru. Menulis: > Magitek bukan sekadar alat bantu sihir. Ia sedang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ia berhenti. Kemudian menambahkan: > Jika perkembangan ini terus berlanjut, struktur kerajaan akan berubah jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan. Lucian menutup bukunya. Untuk pertama kalinya sejak kehidupan keduanya dimulai, ia merasa bahwa pengetahuan masa lalunya tidak cukup. Dunia ini telah berjalan tanpa dirinya. Seribu— Lucian berhenti sebelum pikirannya menyelesaikan kalimat. Ia sendiri tidak tahu kenapa angka itu muncul dalam benaknya. Ia menggeleng. Tidak penting. Yang penting adalah sekarang. Di luar jendela, sebuah papan besar terlihat. Tulisan emas terpampang di atasnya. SELAMAT DATANG DI WILAYAH ORION Lucian mengangkat kepalanya. Matanya sedikit melebar. Astra ikut melihat keluar. Fiona berdiri dari tempat duduknya. "Apakah itu..." Cedric melipat dokumennya. "Ya." Ia melihat ke luar jendela. "Kita sudah memasuki wilayah akademi." Lucian kembali memandang ke depan. Di kejauhan, di balik bukit yang perlahan dilewati kereta, tampak sebuah menara tinggi menjulang ke langit. Bukan satu. Ada beberapa. Bangunan-bangunan besar berdiri mengelilingi sebuah kompleks luas. Di tengahnya, sebuah lambang berbentuk bintang terpampang di atas gerbang utama. Akademi Orion. Lucian tersenyum kecil. Bukan senyum seorang Archmage. Bukan senyum seseorang yang telah mengetahui terlalu banyak hal. Melainkan senyum seorang anak berusia sepuluh tahun yang akhirnya melihat tempat baru. Ia mengepalkan tangan. "Jadi..." Matanya tertuju pada menara di kejauhan. "Di sinilah perjalanan berikutnya dimulai." Astra mengeluarkan suara keras. "Graaa!" Lucian menoleh. "Kenapa kau yang lebih bersemangat?" Fiona tertawa. Cedric hanya menghela napas. Kereta terus melaju. Semakin dekat menuju Orion. Dan tanpa diketahui Lucian, jauh di balik sejarah keluarganya, sebuah jejak lama yang seharusnya telah terkubur perlahan mulai bergerak kembali. Perjalanan menuju Orion baru saja dimulai.

End of Chapter 16