Chapter 15 of 53

Bab 15 — Nama yang Tertinggal

744 words

Pria bermantel itu dibawa pergi oleh penjaga kota. Namun kalimat terakhirnya masih tertinggal di kepala Lucian. “Seharusnya kau bertanya kepada keluargamu.” Lucian berdiri di tengah jalan yang mulai kembali tenang. Ia menatap lambang kecil di kerah kanannya. Eisenwald. Selama sepuluh tahun hidupnya, nama itu tidak pernah terasa aneh. Itu adalah nama keluarganya. Nama ayahnya. Nama ibunya. Nama Clara. Nama yang memberinya rumah. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, seseorang mengucapkannya dengan nada yang berbeda. Seolah-olah nama itu menyimpan sesuatu yang tidak ia ketahui. “Tuan Muda.” Suara Cedric membuat Lucian menoleh. Pria paruh baya itu berdiri beberapa langkah darinya. Rapier sihirnya telah kembali ke sarung. “Cedric.” “Kita sebaiknya kembali ke penginapan.” Lucian mengangguk. “Baik.” Mereka berjalan bersama. Fiona mengikuti di belakang sambil membawa Astra. Griffin kecil itu tampak bingung melihat keadaan sekitar. Sesampainya di penginapan, Lucian langsung duduk. Ia mengambil gelas air. Baru setelah meneguk beberapa kali, ia menyadari tenggorokannya terasa kering. Fiona duduk di seberangnya. “Tuan Muda Lucian.” “Ya?” “Anda benar-benar tidak apa-apa?” Lucian melihat tangannya. Sedikit gemetar. “Mana-ku terkuras cukup banyak.” Fiona langsung berdiri. “Saya ambilkan sesuatu.” “Tidak perlu.” “Tuan Muda.” Nada Fiona terdengar sedikit tegas. Lucian terdiam. “Baik.” Fiona pergi mengambil makanan dan minuman. Cedric berdiri di dekat pintu. Seperti biasa. Tegak. Diam. Lucian memperhatikannya. “Cedric.” “Ya, Tuan Muda.” “Pria tadi.” “Hmm?” “Apakah kau mengenalnya?” Cedric tidak langsung menjawab. “Tidak.” “Benarkah?” “Benar.” Lucian menyipitkan mata. Cedric akhirnya menoleh. “Saya mengenal reputasi kelompok seperti itu.” “Bukan itu yang kutanyakan.” Hening. Cedric tetap tenang. “Saya tidak memiliki informasi lain.” Lucian menyandarkan tubuhnya. “Baik.” Ia tidak memaksa. Namun pikirannya belum berhenti. Kalimat pria tadi terlalu spesifik. Dia bukan sekadar ingin menakut-nakuti. Dia tahu nama Eisenwald. Dan mungkin mengetahui sesuatu tentang keluarganya. Fiona kembali membawa nampan. “Silakan.” Lucian melihat makanan di atas meja. “Terima kasih.” Fiona tersenyum. “Saya sudah bilang, Tuan Muda harus menjaga tubuh.” Lucian mengambil makanan. “Aku akan mengingatnya.” Astra tiba-tiba mendekat. Ia melihat makanan Lucian. Kemudian melihat Lucian. Lucian menatapnya. “Ini bukan makananmu.” Astra tetap menatap. “Jangan.” Astra menunduk. Fiona tertawa kecil. “Dia benar-benar mirip anak kecil.” Lucian mengusap kepala Astra. “Dia memang masih kecil.” Setelah beberapa menit, kondisi Lucian mulai membaik. Ia kemudian membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya. Ia menulis beberapa hal. Solar Genesis. Konsumsi mana tinggi. Kompresi berhasil. Kelemahan: tubuh tidak mampu mempertahankan penggunaan mana dalam waktu lama. Ia berhenti. Kemudian menulis satu kalimat lagi. Pertarungan nyata berbeda dari latihan. Lucian menatap tulisan tersebut. Di taman, ia bisa berhenti kapan saja. Bisa mencoba kembali. Bisa tidur setelah latihan. Tetapi dalam pertarungan tadi— satu kesalahan saja bisa berakibat berbeda. Pengalaman Aurelius masih ada. Namun tubuh Lucian bukan tubuh Aurelius. Dan kekuatan Solar Genesis bukan sesuatu yang pernah ia gunakan sebelumnya. Lucian menutup buku. “Aku harus beradaptasi.” Cedric mendengar perkataannya. “Tuan Muda.” “Hm?” “Pertarungan tadi...” Cedric berjalan mendekat. “Anda bertindak cukup berani.” Lucian mengangkat alis. “Itu pujian?” “Bukan.” Lucian hampir tertawa. “Tentu saja.” Cedric berdiri di depannya. “Namun ada satu hal yang harus Anda pahami.” “Apa?” “Keberanian dan kecerobohan memiliki batas yang tipis.” Lucian diam. Cedric melanjutkan. “Anda memiliki kekuatan yang besar untuk usia Anda.” “Tapi?” “Tubuh Anda belum mampu mengikuti kekuatan tersebut.” Lucian menatapnya. Cedric benar. “Karena itu,” lanjut Cedric, “jangan bertarung hanya karena Anda mampu menyerang.” Lucian mengangguk. “Bertarunglah karena ada alasan.” Cedric terdiam sebentar. “Benar.” Lucian tersenyum tipis. “Kalimat itu terdengar seperti nasihat seorang guru.” “Saya hanya menjalankan tugas.” Fiona yang mendengar dari samping langsung menyela. “Cedric sebenarnya memang suka memberi nasihat.” Cedric menoleh. “Saya tidak.” “Anda baru saja melakukannya.” “Itu berbeda.” “Bedanya apa?” Cedric terdiam. Lucian akhirnya tertawa kecil. Suasana yang sempat tegang perlahan mencair. Malam pun tiba. Lampu mana di jalanan Eldermere mulai menyala. Cahaya kebiruan memenuhi kota. Lucian berdiri di depan jendela penginapan. Ia melihat langit malam. Bintang-bintang terlihat jelas di antara celah bangunan. Astra duduk di samping kakinya. Lucian mengusap kepalanya. “Besok kita lanjut perjalanan.” Astra mengeluarkan suara kecil. “Kriiik.” Lucian tersenyum. Namun kemudian ia kembali teringat perkataan pria tadi. Bertanya kepada keluargamu. Ia tidak tahu apa yang dimaksud. Dan ia tidak akan menuduh keluarganya hanya berdasarkan perkataan seorang bandit. Tetapi satu hal pasti— rasa penasarannya telah muncul. Dan Lucian Eisenwald tidak pernah pandai mengabaikan sesuatu yang membuatnya penasaran. Ia menatap bintang-bintang. “Kalau memang ada sesuatu tentang Eisenwald...” Matanya menyipit. “Aku akan mencari tahu sendiri.” Di luar jendela, kereta sihir mereka telah dipersiapkan untuk perjalanan berikutnya. Besok pagi mereka akan meninggalkan Eldermere. Menuju Orion. Namun Lucian belum mengetahui bahwa perjalanan panjang itu akan mempertemukannya dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ujian masuk akademi.

End of Chapter 15