Cedric berdiri di tengah jalan.
Rapier sihirnya terangkat.
Di hadapannya, pria bermantel gelap itu tidak bergerak sedikit pun.
Angin berembus di antara mereka.
Fiona berdiri di dekat jendela penginapan.
“Tuan Muda... siapa orang itu?”
Lucian tidak menjawab.
Tatapannya tertuju pada pria tersebut.
Ada sesuatu yang berbeda.
Pria itu tidak memiliki sikap seperti bandit biasa.
Ia tenang.
Terlalu tenang.
Kemudian pria itu mengangkat tangannya.
Sebuah lingkaran sihir muncul.
Cedric langsung bergerak.
WUSSH!
Tubuhnya melesat ke depan.
Rapier menusuk.
Pria itu menghindar.
CLANG!
Senjata mereka bertabrakan.
Angin berputar di sekitar rapier Cedric.
Pria itu mundur beberapa langkah.
“Penyihir keluarga Eisenwald?”
Cedric tidak menjawab.
Ia kembali menyerang.
Satu tusukan.
Dua.
Tiga.
Gerakannya semakin cepat.
Namun pria itu mampu menghindarinya.
Lucian memperhatikan beberapa detik.
Lalu ia mengerutkan kening.
“Cedric tidak akan menang kalau terus begini.”
Fiona menoleh.
“Kenapa?”
“Lawan itu sedang membaca pola gerakannya.”
Lucian berdiri.
Fiona terkejut.
“Tuan Muda?”
Lucian mengambil tongkat sihirnya.
Astra langsung ikut berdiri.
“Tunggu di sini.”
Astra mengeluarkan suara kecil.
“Kriiik!”
Lucian menatapnya.
“Aku akan kembali.”
Ia kemudian berjalan menuju pintu.
Fiona segera mengikuti.
“Tuan Muda Lucian, Cedric meminta Anda tetap di sini.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa—”
Lucian membuka pintu.
“Karena sekarang dia membutuhkan bantuan.”
Fiona terdiam.
Lucian melangkah keluar.
Udara kota langsung menyambutnya.
Ia mengangkat tongkat sihirnya.
Mana mulai bergerak.
Tidak seperti sebelumnya ketika ia hanya menguji kekuatannya di taman.
Kali ini berbeda.
Ada lawan nyata.
Ada orang yang harus dilindungi.
Dan ada sesuatu yang ingin ia uji.
Solar Genesis.
Cedric yang sedang bertarung tiba-tiba melihat Lucian.
“Tuan Muda!”
“Jangan berhenti.”
Cedric sedikit terkejut.
Lucian mengangkat satu tangan.
Cahaya mulai berkumpul di ujung jarinya.
☀️
Solar Genesis terbentuk.
Namun ukurannya sangat kecil.
Hanya sebesar ujung jari.
Lucian mengarahkan tangannya.
👉🏻
FWOOSH!
Sebuah proyektil energi melesat.
Pria bermantel itu langsung menghindar.
BOOM!
Ledakan kecil menghantam tanah di belakangnya.
Debu beterbangan.
Cedric menatap Lucian.
“Tuan Muda, teknik itu—”
“Teknik baru.”
Lucian tersenyum tipis.
“Masih belum sempurna.”
Pria bermantel itu keluar dari balik asap.
“Anak kecil...”
Lucian menatapnya.
“Jangan meremehkan lawan hanya karena usianya.”
Pria itu mengangkat tangannya.
Beberapa lingkaran sihir muncul di udara.
FWOOSH!
Serangkaian proyektil melesat ke arah Lucian.
Cedric langsung bergerak.
Namun Lucian mengangkat tangannya.
Solar Genesis muncul.
BOOM!
Satu ledakan menghancurkan proyektil pertama.
BOOM!
Yang kedua.
Yang ketiga.
Lucian mundur satu langkah.
Napasnya sedikit berat.
Ia langsung menyadarinya.
Mana-ku terkuras terlalu cepat.
Kondisi tubuh ini masih sama.
Mana Lektatik Syndrome.
Penggunaan mana dua kali lebih besar dari normal.
Namun Lucian tidak mundur.
Ia menggenggam tongkatnya lebih erat.
“Kalau begitu... aku harus lebih efisien.”
Ia memejamkan mata sesaat.
Solar dan Star mulai bergerak bersamaan.
Energi dari jantung dan lower dantian mengalir melalui tubuhnya.
Solar Genesis.
Lucian membuka mata.
“Cedric.”
“Ya, Tuan Muda.”
“Beri aku tiga detik.”
Cedric langsung memahami maksudnya.
Ia maju.
Rapiernya bergerak seperti kilatan angin.
Pria bermantel itu terpaksa mundur.
Satu detik.
Dua.
Tiga.
Lucian mengangkat tangan.
👉🏻
Energi yang sebelumnya besar kini dipadatkan jauh lebih rapat.
Sebuah proyektil kecil terbentuk.
Namun tekanannya berbeda.
Cedric melompat ke samping.
Lucian menembakkan serangannya.
FWOOM!
Proyektil itu menghantam tanah tepat di depan pria tersebut.
Ledakan memaksanya terpental.
Cedric langsung mengejar.
Rapier berhenti tepat di depan leher lawannya.
Pria itu membeku.
Pertarungan selesai.
Lucian menurunkan tangannya.
Napasnya terdengar sedikit berat.
Fiona berlari mendekat.
“Tuan Muda Lucian!”
“Aku baik-baik saja.”
Fiona melihat wajah Lucian.
“Anda tidak terlihat baik-baik saja.”
Lucian diam.
“...Sedikit lelah.”
Cedric menyarungkan rapiernya.
“Tuan Muda seharusnya tidak ikut bertarung.”
Lucian menatapnya.
“Kalau aku tidak ikut, kau mungkin akan terus bertarung sampai mana-mu habis.”
Cedric terdiam.
Lucian kemudian tersenyum.
“Lagipula... aku ingin mencoba sesuatu.”
Cedric menatap tangan Lucian.
“Teknik tadi?”
“Ya.”
“Efektif.”
Lucian mengangguk.
“Tapi konsumsi mananya masih terlalu besar.”
Cedric menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia berkata,
“Kalau begitu, teruslah berlatih.”
Lucian tersenyum.
“Itu memang rencanaku.”
Dari kejauhan, suara penjaga kota mulai terdengar.
Situasi di jalan perlahan terkendali.
Namun Lucian tidak langsung pergi.
Ia menatap pria bermantel yang telah ditangkap.
Ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
“Siapa kau?”
Pria itu tersenyum.
“Kalau kau benar-benar ingin tahu...”
Tatapannya berpindah kepada lambang Eisenwald di pakaian Lucian.
“...seharusnya kau bertanya kepada keluargamu.”
Lucian terdiam.
Senyumnya menghilang.
Untuk pertama kalinya dalam perjalanan menuju Orion—
nama Eisenwald muncul bukan sebagai rumah.
Melainkan sebagai sesuatu yang mungkin memiliki rahasia sendiri.