Chapter 13 of 53
Bab 13 — Keributan di Jalan Timur
741 words
Suasana penginapan yang sebelumnya ramai perlahan berubah.
Kabar mengenai kereta perdagangan yang diserang membuat beberapa pengunjung mulai berbicara dengan suara pelan.
Ada yang penasaran.
Ada yang khawatir.
Ada pula yang langsung memilih meninggalkan tempat tersebut.
Lucian tetap duduk di tempatnya.
Astra berada di sampingnya, masih setengah mengantuk.
Di depan Lucian, makanan yang baru saja datang bahkan belum disentuh.
Tatapannya tertuju pada Cedric.
“Berapa orang?”
Cedric berhenti sejenak sebelum menjawab.
“Belum diketahui.”
“Dan jumlah bandit?”
“Juga belum diketahui.”
Lucian mengangguk pelan.
Fiona berdiri di samping meja.
“Tuan Muda Lucian, apakah kita benar-benar akan tetap di sini?”
Cedric menjawab lebih dahulu.
“Kita akan menunggu sampai situasinya jelas.”
Lucian tidak membantah.
Ia kembali melihat ke arah jendela.
Jalanan di luar masih ramai, tetapi beberapa penjaga kota mulai bergerak menuju bagian timur.
Kemudian—
DUAR!
Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Beberapa orang di dalam penginapan langsung terkejut.
Astra berdiri.
Sayap kecilnya terbuka.
Lucian langsung mengusap kepalanya.
“Tenang.”
Griffin muda itu kembali menunduk.
Cedric berdiri dengan satu tangan di dekat rapiernya.
“Itu terlalu dekat.”
Fiona menatap ke arah jendela.
“Bukankah katanya dua puluh menit?”
Cedric mengangguk.
“Jika suara itu berasal dari lokasi yang sama, berarti situasinya berkembang.”
Lucian memperhatikan wajah Cedric.
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Eldermere, ekspresi pengawal itu berubah sedikit.
Bukan panik.
Namun waspada.
Cedric kemudian menatap Lucian.
“Tuan Muda, tetap di sini.”
Lucian mengangguk.
“Aku mengerti.”
Cedric berjalan menuju pintu.
Namun sebelum ia keluar, Lucian memanggilnya.
“Cedric.”
Pria paruh baya itu berhenti.
“Ya?”
“Jangan mengambil risiko yang tidak perlu.”
Cedric menoleh.
“Saya memahami tugas saya.”
Kemudian ia keluar.
Fiona berdiri di dekat Lucian.
“Cedric memang seperti itu.”
Lucian menatap pintu.
“Dia serius.”
“Sejak pertama kali bekerja untuk keluarga Eisenwald.”
Fiona duduk kembali.
“Kadang-kadang aku bahkan tidak tahu apakah dia pernah bercanda.”
Lucian tersenyum kecil.
“Mungkin dia pernah.”
“Kapan?”
“Entahlah.”
Fiona tertawa.
Namun tawa itu berhenti ketika suara teriakan terdengar dari luar.
Beberapa orang berlari melewati jalan.
Penjaga kota mulai memenuhi kawasan sekitar penginapan.
Lucian berdiri.
“Ada yang terjadi.”
Fiona ikut berdiri.
“Tuan Muda Lucian, Cedric sudah meminta kita tetap di sini.”
“Aku tahu.”
Lucian berjalan mendekati jendela.
“Tapi kita masih bisa melihat dari sini.”
Ia membuka tirai sedikit.
Di kejauhan terlihat kepulan asap.
Bukan satu.
Ada beberapa.
Lucian mengamati.
“Ada lebih dari satu titik.”
Fiona menatapnya.
“Bagaimana Tuan Muda tahu?”
“Asapnya berbeda arah.”
Lucian menunjuk.
“Yang satu berasal dari jalan timur.”
Kemudian ia menunjuk ke arah lain.
“Yang lainnya dari dekat gerbang.”
Fiona terdiam.
“Jadi...”
“Serangan mereka mungkin tidak hanya di satu tempat.”
Lucian menutup tirai.
Ia tidak memiliki alasan untuk ikut campur.
Cedric telah melarangnya.
Dan untuk saat ini, tidak ada alasan untuk mempertaruhkan perjalanan menuju Orion.
Namun—
BRAK!
Pintu penginapan kembali terbuka.
Seorang penjaga kota masuk.
“Semua orang tetap di dalam!”
Pemilik penginapan mendekat.
“Apa yang terjadi?”
Penjaga itu menarik napas.
“Kelompok bandit menyerang jalur perdagangan dan memblokade jalan timur.”
“Berapa banyak?”
“Kami belum tahu.”
Penjaga itu melihat ke seluruh ruangan.
“Namun mereka bukan kelompok kecil.”
Suasana semakin tegang.
Lucian kembali duduk.
Astra mendekat dan menyentuhkan kepalanya ke kaki Lucian.
Lucian menunduk.
“Kau takut?”
Astra menggeleng kecil.
Lucian tersenyum.
“Bagus.”
Kemudian—
Dari luar terdengar suara yang sangat familiar.
Ting!
Lucian menoleh.
Suara logam.
Rapier.
Beberapa detik kemudian terdengar hembusan angin yang sangat kuat.
WUUUSH!
Lucian langsung mengenalinya.
“Cedric.”
Fiona berdiri.
“Tuan Muda...”
Lucian tidak menjawab.
Ia berjalan menuju jendela.
Di kejauhan, di antara bangunan kota, terlihat pusaran angin kecil.
Kemudian sebuah bayangan bergerak sangat cepat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Beberapa sosok jatuh ke tanah.
Lucian menyipitkan mata.
Cedric tidak bertarung dengan kekuatan besar.
Ia hanya menggunakan rapiernya.
Gerakannya sangat cepat.
Setiap tusukan diikuti oleh aliran angin yang membuat tubuh lawan kehilangan keseimbangan.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Tidak ada teriakan.
Hanya ketepatan.
Lucian mengamati dalam diam.
“Menarik.”
Fiona menatapnya.
“Tuan Muda?”
“Cedric.”
“Apa?”
“Dia tidak menggunakan sihir Angin untuk menyerang secara langsung.”
Fiona mengerutkan kening.
“Lalu?”
Lucian menjawab,
“Dia menggunakannya untuk meningkatkan gerakan tubuh dan rapiernya.”
Fiona tersenyum.
“Bukankah itu memang gaya Magic Weapon User?”
“Benar.”
Lucian kembali memperhatikan.
Cedric bergerak seperti angin.
Ringan.
Cepat.
Sulit diprediksi.
Namun tiba-tiba—
Cedric berhenti.
Ia menoleh ke arah sebuah gang.
Seseorang berdiri di sana.
Berbeda dari bandit lainnya.
Pria itu mengenakan mantel gelap dan membawa senjata sihir.
Cedric mengangkat rapiernya.
Keduanya saling berhadapan.
Lucian langsung menyadari sesuatu.
Yang itu berbeda.
Bukan karena pakaiannya.
Bukan karena senjatanya.
Tetapi karena cara pria itu berdiri.
Dia tidak terlihat seperti bandit biasa.
Lucian menyipitkan mata.
“Sepertinya...”
Ia melihat Astra.
Kemudian kembali melihat ke arah luar.
“Masalah sebenarnya baru dimulai.”