Chapter 12 of 53

Bab 12 — Kota di Tengah Perjalanan

857 words

Sudah beberapa jam sejak kereta sihir meninggalkan wilayah perdagangan. Pemandangan di luar jendela kembali berubah. Ladang-ladang luas perlahan menghilang, digantikan oleh jalan berbatu yang dikelilingi pepohonan tinggi. Matahari mulai bergerak ke arah barat. Cahaya keemasan menyinari sisi kereta. Di dalam kabin, suasana jauh lebih tenang. Astra telah tertidur di samping Lucian. Griffin kecil itu meringkuk di atas selimut yang disediakan Fiona. Lucian sendiri sedang membaca sebuah buku. Bukan buku sihir. Melainkan buku mengenai wilayah-wilayah yang berada di sekitar Akademi Orion. Fiona memperhatikannya dari seberang. “Tuan Muda.” “Hm?” “Bukankah Anda sudah membaca buku itu tadi pagi?” Lucian membalik halaman. “Sudah.” “Lalu kenapa dibaca lagi?” “Karena aku menemukan beberapa bagian yang belum kupahami.” Fiona tersenyum. “Bukannya lebih mudah bertanya kepada Cedric?” Lucian berhenti membaca. Ia menatap ke arah depan. Cedric masih duduk dengan posisi tegak, mengendalikan kereta. “Cedric?” “Ya, Tuan Muda.” “Berapa lama lagi sampai kota berikutnya?” “Sekitar satu jam.” Lucian kembali melihat bukunya. “Namanya apa?” “Eldermere.” Lucian mengangkat alis. “Eldermere?” “Benar.” Cedric menjawab dengan tenang. “Kota perdagangan terbesar sebelum jalur menuju wilayah Orion.” Lucian menutup bukunya. “Kalau begitu kita akan berhenti di sana?” “Ya.” Fiona langsung tersenyum. “Bagus! Aku ingin membeli makanan.” Cedric meliriknya. “Kita masih memiliki persediaan.” “Persediaan makanan tidak sama dengan makanan kota.” “Itu tetap makanan.” Fiona memasang wajah tidak puas. “Tapi bukan makanan yang enak.” Lucian tertawa kecil. Cedric kembali menghadap jalan. “...Saya sudah menduga percakapan ini akan terjadi.” Beberapa saat kemudian, kereta mulai memperlambat lajunya. Dari kejauhan terlihat tembok besar. Di balik tembok itu berdiri sebuah kota yang jauh lebih besar dibandingkan wilayah yang mereka lewati sebelumnya. Menara-menara batu berdiri di antara bangunan. Asap tipis keluar dari beberapa cerobong pabrik. Jalur kereta mana terlihat membelah bagian kota. Dan di antara bangunan-bangunan tua, terdapat lampu mana yang mulai menyala satu demi satu. Lucian berdiri. Matanya memperhatikan kota tersebut. “Eldermere...” Untuk sesaat, ia merasa seperti melihat sesuatu yang pernah ia kenal. Bukan kota itu. Melainkan suasananya. Perpaduan antara bangunan tua, teknologi baru, dan aliran mana yang memenuhi udara. Dunia ini sedang berubah. Dan perubahan itu terjadi jauh lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Kereta melewati gerbang kota. Seorang penjaga mendekat. Cedric menunjukkan lambang Eisenwald. Penjaga itu langsung memberi hormat. “Silakan lewat.” Kereta masuk. Lucian melihat keluar jendela. Orang-orang berjalan memenuhi jalan. Pedagang menawarkan barang. Anak-anak berlari di antara toko. Kereta kecil bertenaga mana bergerak perlahan. Seorang penyihir menggunakan sihir angin untuk membantu mengangkat beberapa peti. Di sudut jalan, seorang pria menggunakan sihir api untuk menyalakan tungku. Sihir benar-benar telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lucian tersenyum. “Dunia ini menarik.” Fiona menatapnya. “Bukankah Anda sudah mengatakan itu tadi?” “Aku serius kali ini.” Fiona tertawa. Mereka akhirnya berhenti di sebuah penginapan besar. Cedric turun lebih dulu. “Silakan turun, Tuan Muda.” Lucian menggendong Astra. Griffin kecil itu masih mengantuk. Begitu mereka masuk ke dalam penginapan, aroma makanan langsung memenuhi ruangan. Fiona berhenti. Matanya berbinar. “...Aku suka kota ini.” Lucian menatapnya. “Kita baru masuk.” “Itu sudah cukup.” Cedric menghela napas. “Fiona.” “Ya?” “Kita hanya berhenti untuk makan dan beristirahat.” Fiona mengangguk. “Tentu.” Kemudian ia melihat papan menu. “Setelah itu aku ingin membeli—” “Tidak.” “Cedric!” Lucian tertawa kecil. Mereka mengambil meja di sudut ruangan. Astra diletakkan di kursi kosong di samping Lucian. Beberapa orang di penginapan mulai memperhatikannya. Seorang anak kecil bahkan menunjuk. “Itu Griffin!” Lucian menoleh. Anak itu mendekat bersama ibunya. “Boleh aku lihat?” Lucian melihat Astra. Griffin muda itu membuka satu mata. “Dia masih kecil,” kata Lucian. Anak itu tersenyum. “Namanya siapa?” Lucian hendak menjawab. Namun Clara terlintas dalam pikirannya. Astralion. Nama yang diberikan adiknya. “Astralion.” Anak itu tampak kagum. “Namanya keren!” Astra mengangkat kepala. Kemudian— “...Kriiik.” Anak itu tertawa. “Dia lucu!” Lucian tersenyum. “Dia memang begitu.” Untuk beberapa saat, semuanya terasa damai. Namun kemudian— BRAK! Pintu penginapan terbuka keras. Semua orang menoleh. Seorang pria masuk dengan napas terburu-buru. Pakaiannya kotor. Wajahnya penuh kepanikan. “Penjaga!” Ia berteriak. “Penjaga kota!” Beberapa orang langsung berdiri. Cedric spontan menyentuh gagang rapiernya. Lucian memperhatikan pria itu. “Ada apa?” tanya pemilik penginapan. Pria tersebut menarik napas. “Di jalan timur...” Ia menelan ludah. “Kereta perdagangan diserang.” Suasana langsung berubah. “Diserang?” “Monster?” Pria itu menggeleng. “Bukan.” Ia melihat ke arah pintu. “Bandit.” Cedric berdiri. Lucian menatapnya. Cedric berbicara dengan suara tenang. “Tuan Muda, tetap di sini.” Lucian tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah luar. Lalu melihat Astra. Kemudian kembali menatap Cedric. “Seberapa jauh?” Cedric terdiam. “Sekitar dua puluh menit dari sini.” Lucian perlahan berdiri. “Aku ikut.” Cedric langsung menatapnya. “Tidak.” “Cedric—” “Tuan Muda.” Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini jauh lebih tegas. “Tujuan kita adalah Orion.” Lucian terdiam. Cedric melanjutkan. “Dan tugas saya adalah memastikan Anda tiba di sana dengan selamat.” Lucian menatap pengawal paruh baya itu. Kemudian ia tersenyum tipis. “Baik.” Cedric sedikit terkejut. Lucian duduk kembali. “Aku tidak akan ikut.” Fiona menatap Lucian. “Tuan Muda...?” Lucian melihat ke arah jendela. Namun tatapannya berubah serius. Karena sejak mendengar kata bandit, ada sesuatu yang muncul dalam pikirannya. Sebuah pertanyaan. Bukan tentang pertarungan. Bukan tentang kekuatan. Melainkan tentang dunia yang selama ini hanya ia baca melalui buku. Seperti apa dunia sebenarnya ketika seseorang tidak memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri? Lucian menatap jalanan Eldermere. Perjalanan menuju Orion baru dimulai. Tetapi dunia telah memberikan pertanyaan pertamanya.

End of Chapter 12