Chapter 11 of 53
Bab 11—Dunia di Bawah Langit yang Tinggi
898 words
Dunia di Luar Kediaman
Kereta sihir terus melaju meninggalkan wilayah Eisenwald.
Suara roda yang bergesekan dengan jalur batu terdengar teratur.
Tak... tak... tak...
Sesekali terdengar suara halus dari kristal mana di bagian bawah kereta.
Wuuum...
Tidak ada kuda yang menarik kereta tersebut.
Sebagai gantinya, kristal mana menghasilkan tenaga yang dialirkan menuju mekanisme penggerak di bawah badan kereta. Sistem itu merupakan salah satu teknologi yang mulai berkembang di berbagai wilayah kerajaan.
Lucian duduk di dekat jendela.
Tangannya menopang dagu sementara matanya memperhatikan pemandangan di luar.
Selama sepuluh tahun hidupnya di kediaman Eisenwald, sebagian besar waktunya dihabiskan di perpustakaan, ruang latihan, atau taman.
Ia mengetahui dunia melalui buku.
Namun melihatnya secara langsung terasa berbeda.
Ladang-ladang luas terbentang di kedua sisi jalur.
Beberapa petani sedang bekerja.
Ada pula kereta biasa yang membawa hasil panen menuju kota.
Di kejauhan, Lucian bisa melihat beberapa bangunan dengan cerobong tinggi.
Asap tipis keluar dari atasnya.
Pabrik.
Lucian memperhatikan cukup lama.
“Jadi perkembangan industri sudah sejauh ini...”
Fiona yang duduk di seberangnya mengangkat kepala.
“Tuan Muda?”
“Tidak apa-apa.”
Lucian kembali melihat keluar.
Dalam kehidupan pertamanya, perkembangan seperti ini belum pernah ia lihat dalam bentuk yang sama.
Teknologi memang berkembang.
Tetapi dunia yang sekarang terasa berbeda.
Mana bukan hanya sesuatu yang digunakan penyihir dalam pertempuran.
Mana telah masuk ke kehidupan sehari-hari.
Lampu jalan.
Kereta.
Mesin pabrik.
Sistem komunikasi.
Bahkan beberapa alat rumah tangga.
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Fiona memiringkan kepala.
“Apa yang menarik?”
“Dunia.”
Fiona berkedip.
“Dunia?”
“Ya.”
Lucian kembali menatap pemandangan.
“Dulu aku hanya membaca tentang perkembangan teknologi.”
Fiona tersenyum.
“Sekarang Tuan Muda bisa melihatnya sendiri.”
“Benar.”
Di sebelah Lucian, Astra tiba-tiba mengeluarkan suara kecil.
“Kriiik.”
Lucian menoleh.
Griffin muda itu berdiri di atas kursi.
Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, memperhatikan segala sesuatu dari jendela.
“Sepertinya kau juga baru pertama kali melihat dunia luar.”
Astra mendekat ke jendela.
Lucian mengangkat tubuhnya sedikit agar Astra bisa melihat lebih jelas.
Griffin itu langsung menempelkan kepalanya ke kaca.
Fiona tertawa.
“Dia penasaran.”
“Sepertinya begitu.”
Astra melihat sebuah kawanan burung yang terbang melewati kereta.
Matanya mengikuti mereka.
Kemudian—
Tap!
Ia mengangkat satu kaki ke arah kaca.
Fiona langsung menutup mulut menahan tawa.
Lucian menghela napas.
“Jangan coba mengejar mereka.”
Astra menoleh.
Seolah-olah mengerti.
Ia kemudian duduk kembali.
Fiona tertawa kecil.
“Dia pintar.”
“Semoga.”
Dari bagian depan kereta terdengar suara Cedric.
“Tuan Muda.”
Lucian menoleh ke arah pintu.
“Ya?”
“Sebentar lagi kita melewati wilayah perdagangan.”
“Berapa lama?”
“Sekitar dua puluh menit.”
Lucian berdiri.
“Boleh aku melihat dari depan?”
Cedric terdiam sesaat.
“Jika Anda tetap berada di dalam kereta.”
“Aku tidak akan keluar.”
“Baik.”
Lucian berjalan mendekati bagian depan.
Fiona ikut berdiri.
“Aku juga ikut.”
Cedric meliriknya.
“Jangan mengganggu.”
Fiona tersenyum.
“Aku hanya ingin melihat.”
Cedric menghela napas.
“Baik.”
Beberapa saat kemudian, Lucian berdiri di bagian dalam dekat jendela depan.
Pemandangan di hadapannya berubah.
Lahan pertanian mulai berkurang.
Jalan menjadi lebih ramai.
Bangunan semakin banyak.
Kereta perdagangan berlalu-lalang.
Beberapa membawa barang menggunakan kristal mana.
Yang lain masih menggunakan kuda.
Lucian memperhatikan semuanya dengan saksama.
“Perkembangan teknologi tidak merata.”
Cedric menjawab tanpa menoleh.
“Benar.”
“Wilayah dekat kota menggunakan teknologi mana lebih banyak.”
“Karena biaya pembangunannya lebih tinggi.”
Lucian menatapnya.
Cedric tetap fokus mengendalikan kereta.
“Teknologi membutuhkan kristal, fasilitas pemrosesan, dan tenaga ahli. Tidak semua daerah mampu memilikinya.”
Lucian tersenyum.
“Kau cukup memahami hal seperti ini.”
“Saya adalah pengawal keluarga Eisenwald.”
Cedric menjawab datar.
“Memahami keadaan wilayah adalah bagian dari pekerjaan saya.”
Fiona menyela.
“Cedric memang tahu banyak hal.”
Cedric meliriknya.
“Tidak perlu memuji saya.”
“Aku tidak memuji.”
“...”
Fiona tertawa.
Lucian hanya tersenyum.
Percakapan sederhana seperti itu terasa asing baginya.
Di kehidupan sebelumnya, ia lebih sering berbicara dengan penyihir, bangsawan, atau orang-orang yang datang membawa masalah.
Tidak banyak percakapan ringan.
Tidak banyak orang yang berbicara dengannya hanya karena ingin berbicara.
Ia menatap Cedric dan Fiona.
Keduanya tidak memperlakukannya seperti seorang Archmage.
Mereka melihatnya sebagai Tuan Muda Lucian.
Dan anehnya...
Ia menyukainya.
Kereta kemudian memasuki wilayah perdagangan.
Bangunan-bangunan mulai memenuhi kedua sisi jalan.
Toko-toko berdiri bersebelahan.
Lampu mana tergantung di depan beberapa toko meskipun matahari masih bersinar.
Di salah satu sisi jalan, Lucian melihat sebuah papan besar.
Tulisan di atasnya berbunyi:
“Bengkel Mesin Mana Eisenwald.”
Lucian berhenti.
“Eisenwald?”
Cedric mengangguk.
“Perusahaan yang bekerja sama dengan keluarga.”
Lucian memperhatikan bangunan itu.
“Menarik.”
Ia tidak pernah tahu keluarganya memiliki hubungan sejauh itu dengan perkembangan teknologi.
Kemudian matanya menangkap sesuatu yang lain.
Sebuah kereta besar sedang membawa beberapa peti.
Di bagian belakangnya terdapat kristal mana berukuran besar.
Lucian langsung menyadari bahwa kristal tersebut berbeda dari kristal biasa.
“Kristal energi tingkat tinggi.”
Cedric mengangguk.
“Benar.”
“Untuk apa?”
“Biasanya untuk mesin industri atau kendaraan besar.”
Lucian kembali duduk.
Pikirannya mulai bekerja.
Jika teknologi mana terus berkembang...
Maka suatu hari nanti sihir dan teknologi mungkin tidak lagi bisa dipisahkan.
Sebuah dunia baru sedang terbentuk.
Dan Lucian baru saja mulai melihat permukaannya.
Astra kembali naik ke kursinya.
Ia menguap kecil.
Lucian melihatnya.
“Tidur saja.”
Astra perlahan berbaring.
Fiona tersenyum.
“Dia cepat sekali merasa nyaman.”
Lucian mengusap kepala Griffin muda itu.
“Mungkin karena dia tahu kami bersamanya.”
Kereta terus melaju.
Meninggalkan wilayah perdagangan.
Menuju jalan panjang yang mengarah ke pusat kerajaan.
Lucian kembali menatap langit dari jendela.
Langit biru terbentang tanpa batas.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu sebuah senyum kecil muncul.
“Sudah lama aku tidak melihat dunia seperti ini.”
Perjalanan menuju Orion baru saja dimulai.
Dan tanpa Lucian sadari...
dunia yang selama ini hanya ia kenal melalui buku perlahan akan menunjukkan kepadanya bahwa tidak semua jawaban bisa ditemukan di dalam perpustakaan.