Sejak pertemuan di apartemen itu, ponsel Raka kembali sunyi.
Tidak ada lagi pesan singkat.
Tidak ada lagi panggilan dari Valeria.
Seolah-olah wanita itu benar-benar menerima penolakannya dan memilih menghilang.
Hari-hari Raka kembali dipenuhi rutinitas. Pagi mengikuti pelajaran, sore bekerja di coffee shop, malam belajar hingga larut. Sesekali ia membuka daftar percakapan di ponselnya. Nama Valeria masih ada di sana, tetapi tidak pernah bertambah dengan pesan baru.
Aneh.
Di sisi lain, Valeria justru semakin sering terlihat di sekolah.
Sebagai donatur tetap, kehadirannya sama sekali tidak mengundang kecurigaan. Kadang ia datang menghadiri rapat yayasan, kadang meninjau laboratorium baru, kadang sekadar berbincang dengan kepala sekolah mengenai program beasiswa.
Setiap kali berkunjung, para guru menyambutnya dengan hormat.
Namun kepada Raka, sikapnya berubah.
Ia hanya mengangguk singkat jika kebetulan berpapasan di koridor. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada undangan khusus, bahkan tidak ada sapaan yang melebihi batas kesopanan.
Perubahan itu justru membuat Raka bertanya-tanya.
"Aneh," gumamnya suatu siang.
"Apa yang aneh?" tanya sahabatnya, Dimas.
"Bu Valeria."
"Donatur itu?"
"Iya. Dulu beliau ingin bicara banyak. Sekarang seperti orang yang tidak mengenalku."
Dimas tertawa kecil.
"Mungkin memang sibuk."
"Mungkin."
Namun jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan.
Beberapa hari kemudian, Raka melihat Valeria sedang berbincang dengan kepala sekolah di taman kampus. Saat mereka saling berpandangan, Valeria hanya memberikan senyum singkat lalu melanjutkan pembicaraannya tanpa menghampiri.
Sikap itu meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Malam harinya, Raka kembali membuka percakapan lama di ponselnya.
Jarinya sempat berhenti di tombol untuk mengirim pesan.
Ia ingin bertanya mengapa Valeria berubah.
Namun setelah beberapa detik, ia mengunci layar ponselnya.
"Kalau memang ada hal penting," katanya pada diri sendiri, "beliau pasti akan menghubungiku."
Di sisi lain kota, Valeria berdiri di depan jendela kantornya, memandangi gemerlap lampu Jakarta.
Asistennya, Maya, meletakkan beberapa berkas di meja.
"Ibu, apakah perlu saya menjadwalkan pertemuan lagi dengan Raka?"
Valeria menggeleng pelan.
"Tidak."
"Padahal dulu Ibu sangat ingin bertemu dengannya."
"Aku masih ingin."
"Lalu kenapa menunggu?"
Valeria tersenyum tipis.
Sambil berujar sebentar lagi dia akan berlari mencari ku.......