Chapter 5 of 5

Belajar Melepaskan

342 words

Perubahan sikap Valeria tidak luput dari perhatian Raka. Beberapa minggu terakhir, wanita itu masih sering datang ke sekolah sebagai donatur tetap. Para guru, pengurus yayasan, bahkan kepala sekolah tampak akrab berbincang dengannya. Namun setiap kali mata mereka bertemu, Valeria hanya memberikan senyum sopan, lalu melanjutkan langkahnya. Tidak lebih. Tidak kurang. Awalnya Raka mencoba menganggapnya kebetulan. Lalu muncul berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. "Apa semua ini karena aku menolak tawarannya?" "Apa dia tersinggung karena aku tidak mau tinggal di apartemen yang ingin ia sediakan?" "Atau memang sejak awal aku hanya salah paham tentang permainan nya?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikirannya selama beberapa hari. Hingga suatu malam, ketika sedang menutup coffee shop tempatnya bekerja, Raka memandang pantulan wajahnya di kaca. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri. "Untuk apa dipikirkan terus?" gumamnya. "Aku punya tujuan yang lebih penting." Kalimat itu seolah membangunkannya. Esok paginya, Raka kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Ia datang paling pagi ke sekolah, fokus mengikuti pelajaran, lalu berangkat bekerja tanpa memikirkan siapa yang datang atau pergi. Jika kebetulan berpapasan dengan Valeria, ia tetap menyapa dengan sopan. "Selamat pagi, Bu." "Pagi, Raka." Hanya itu. Tidak ada lagi harapan akan percakapan panjang. Tidak ada lagi rasa ingin tahu yang berlebihan. Perlahan, Raka menyadari bahwa hidupnya tidak boleh bergantung pada perhatian seseorang. Yang dapat ia kendalikan hanyalah usahanya sendiri. Sikap tenang itu justru menarik perhatian banyak orang. "Raka kelihatan beda ya," bisik salah seorang guru kepada rekannya. "Dulu saya kira dia akan terus mencari kesempatan bertemu Bu Valeria." "Ternyata tidak." "Dia tetap fokus belajar." Di sisi lain, Valeria memperhatikan semua itu dari kejauhan. Ia melihat Raka tetap bekerja keras, tetap tersenyum kepada semua orang, dan tidak pernah sekalipun berusaha mencari perhatiannya. Sikap itu membuat Valeria semakin terkesan Karena melihat karakter pria muda yang langka, yang tidak silau dengan harta, walau sebenarnya dia miskin dan sebatang kara... Ia memilih berjalan dengan kakinya sendiri, meski jalannya jauh lebih berat. Dan tanpa disadari keduanya, sebuah rahasia besar yang menghubungkan masa lalu keluarga Raka dengan masa lalu Valeria perlahan mulai mendekat, menunggu saat yang tepat untuk terungkap.

End of Chapter 5