Chapter 2 of 5
Api Pertama
242 words
Raka tak pernah menolak tantangan. Esoknya, ia datang. Apartemen penthouse di lantai 42 itu seperti istana. Valeria membuka pintu hanya memakai robe sutra tipis yang hampir tak menutupi apa pun. “Aku sudah lama tak bertemu pria seperti kamu,” katanya sambil menarik Raka masuk. “Sederhana. Tenang. Tapi aku tahu di balik mata itu ada api.”
Tak ada basa-basi. Valeria mendorong Raka ke sofa kulit hitam, naik ke pangkuannya, dan menciumnya dengan lapar. Tangan wanita itu lincah membuka kemeja Raka. “Aku janda sibuk, Raka. Aku tak punya waktu untuk pacaran. Tapi aku butuh ini. Setiap hari.” Ia berbisik di telinga Raka sambil menggigit pelan.
Malam pertama itu berlangsung berjam-jam. Raka, dengan stamina pemuda dua puluh tahun dan fantasi liarnya selama ini, memuaskan Valeria berkali-kali. Di sofa, di lantai marmer, bahkan di balkon menghadap lampu Jakarta yang berkelap-kelip. Valeria menjerit nama Raka berkali-kali, tubuhnya gemetar hebat. “Kamu… beda dari yang lain,” desahnya setelah ronde ketiga. “Kamu milikku sekarang.”
Dua minggu kemudian, setelah Raka memuaskan Valeria di mobil mewahnya di parkiran basement sekolah, di kamar hotel bintang lima, dan bahkan di ruang kerjanya di gedung perkantoran Sudirman, Valeria mengambil keputusan.
“Aku punya apartemen khusus di Kemang,” katanya sambil merokok setelah sesi panas di ranjang king-size-nya. “Hanya untuk brondong pemuas nafsuku. Kamu pindah ke sana besok. Kuliah, kerja, dan… melayaniku kapan pun aku mau. Bayarannya lebih dari cukup untuk hidupmu.”
Raka tersenyum tipis, percaya diri seperti biasa. “dengan santai dia menolaknya, maaf Bu saya bukan gigolo. ....