Chapter 1 of 5

Pertemuan di Balik Lampu Kota

352 words

Jakarta malam itu basah oleh hujan deras yang baru reda. Lampu-lampu neon di Sudirman berkilauan seperti permata murahan, mencerminkan wajah-wajah lelah yang berlalu lalang di trotoar. Raka menarik jaket jeans usangnya lebih rapat, tas ransel hitamnya bergoyang pelan di punggung saat ia berjalan keluar dari gedung sekolah elite di kawasan Kuningan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kelas tambahan tadi molor lagi, tapi beasiswa tak pernah memberi pilihan. Ia harus bertahan. Di coffee shop kecil di pinggir Thamrin, tempat ia bekerja shift malam, Raka menyeka meja dengan gerakan santai. Rambutnya yang agak gondrong dan wajah tampan tanpa cela membuat beberapa pelanggan wanita selalu memesan ekstra senyum. Tapi Raka cuek. Ia tak pernah terobsesi dengan harta atau status. Baginya, hidup cukup sederhana: beasiswa, kopi, dan fantasi liar yang ia simpan rapat-rapat di kepala. Fantasi tentang wanita lebih tua—wanita yang tahu persis apa yang mereka inginkan, yang tak malu meminta, yang bisa membuatnya merasa seperti raja di ranjang meski dompetnya kosong. Malam itu, acara tahunan “Donatur dan Penerima Beasiswa” digelar di ballroom hotel bintang lima di Senayan. Raka datang karena wajahnya terpampang di slide presentasi sebagai salah satu cerita sukses. Ia berdiri di sudut, mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah agak kusut, sambil memegang gelas air putih. Ia tak suka keramaian orang kaya. Lalu ia melihatnya. Valeria. Wanita itu berdiri di panggung sebagai donatur utama, berusia awal empat puluh, tubuhnya ramping tapi berisi di tempat yang tepat. Gaun hitam ketat membalut pinggulnya yang sempurna, rambut panjang cokelat bergelombang jatuh di punggungnya. Matanya tajam, bibirnya merah menyala. Ia berbicara dengan suara lembut tapi penuh kuasa tentang “memberi kesempatan pada anak-anak berbakat”. Tapi saat matanya menyapu ruangan dan bertemu dengan Raka, sesuatu berubah. Senyumnya melengkung tipis. Bukan senyum donatur. Senyum predator. Setelah acara, Valeria mendekat. “Kamu Raka, kan? Yang dari beasiswa penuh.” Suaranya seperti madu yang dicampur whiskey. “Aku Valeria. Senang bertemu penerima beasiswa terbaik tahun ini.” Mereka berbincang singkat. Raka tetap santai, cuek, tapi ada getar aneh di dadanya saat Valeria menyentuh lengannya sekilas. Malam itu berakhir dengan pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal: “Besok sore, aku tunggu di apartemenku di Sudirman. Jangan telat. –

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter