Pagi mulai menyingsing.
Matahari perlahan muncul dari balik pegunungan.
Arka berjalan menyusuri jalan batu menuju utara.
Sudah hampir dua hari sejak ia meninggalkan Hutan Kelam.
Di punggungnya terdapat tas kain besar.
Di dalam tas itu...
Fenrir sedang tidur.
[Fenrir: Master...]
Arka melirik tasnya.
"Apa?"
[Fenrir: Aku lapar.]
Arka menghela napas.
"Kita hampir sampai."
[Fenrir: Kau mengatakan itu tiga jam lalu.]
"Karena kau banyak mengeluh."
[Fenrir: Aku Raja Monster.]
"Raja Monster yang sekarang masuk tas."
Fenrir terdiam.
Beberapa detik kemudian...
[Fenrir: Aku membencimu.]
Arka tertawa.
"Tenang. Nanti kita cari makanan."
Mereka terus berjalan.
Setelah beberapa jam...
Arka akhirnya melihat sesuatu di kejauhan.
Sebuah tembok raksasa.
Tingginya mungkin lebih dari dua puluh meter.
Menara penjaga berdiri di sepanjang dinding.
Bendera berwarna biru tua berkibar tertiup angin.
Dan di atas gerbang utama tertulis:
VALDRIS
Arka berhenti.
Matanya berbinar.
"Jadi ini Kota Valdris..."
Fenrir keluar sedikit dari tas.
[Fenrir: Jangan lihat terlalu lama.]
"Kenapa?"
[Fenrir: Terlalu banyak aura monster.]
Arka memperhatikan sekeliling.
Benar.
Di jalan menuju gerbang, banyak orang berjalan bersama monster.
Ada pria yang ditemani serigala api.
Seorang wanita bersama burung petir.
Anak muda membawa kadal batu.
Bahkan beberapa penjinak menggunakan monster raksasa sebagai kendaraan.
Arka tersenyum.
"Tempat ini luar biasa."
Fenrir mendengus.
[Fenrir: Tempat penuh manusia sombong.]
Arka tertawa.
"Jangan bilang begitu."
Mereka mendekati gerbang.
Namun dua penjaga langsung menghadang.
"Berhenti."
Arka berhenti.
Salah satu penjaga menatapnya.
"Identitas."
Arka mengeluarkan kartu penduduk desanya.
"Arka dari Desa Arvendell."
Penjaga memeriksa kartu tersebut.
"Tujuan?"
"Masuk kota untuk mencari pekerjaan."
Penjaga menatap tas besar di punggung Arka.
"Apa isinya?"
Arka tersenyum kaku.
"Barang."
Fenrir dari dalam tas berbisik.
[Fenrir: Aku bukan barang.]
Arka batuk.
"Barang... pribadi."
Penjaga menyipitkan mata.
"Periksa tasnya."
Arka langsung panik.
"Tunggu!"
Penjaga mengangkat alis.
"Kenapa?"
Arka berpikir cepat.
Kemudian tersenyum.
"Di dalamnya ada makanan busuk."
Penjaga mundur sedikit.
"Makanan busuk?"
Arka mengangguk serius.
"Sudah dua hari."
Penjaga langsung menutup hidung.
"Pergi!"
Arka segera masuk.
[Fenrir: Makanan busuk?]
Arka berbisik.
"Diam."
[Fenrir: Aku akan mengingat penghinaan ini.]
Arka tersenyum.
"Silakan."
Begitu masuk kota...
Arka langsung terpukau.
Kota Valdris jauh lebih besar daripada Desa Arvendell.
Bangunan batu berdiri tinggi.
Toko senjata berjajar.
Arena pertarungan monster terlihat di kejauhan.
Para penjinak berjalan dengan monster mereka.
Di tengah kota bahkan terdapat patung besar berbentuk seorang ksatria yang berdiri di atas naga.
Arka mendekat.
"Siapa itu?"
Fenrir melihat patung tersebut.
[Fenrir: Penjinak monster terkenal.]
"Namanya?"
Fenrir diam.
[Fenrir: Aku tidak suka dia.]
Arka mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Fenrir tidak menjawab.
Tiba-tiba—
DING!
[DING!]
[Lokasi tujuan terdeteksi.]
[Segel Pertama berada di bawah Kota Valdris.]
Arka membeku.
"Di bawah kota?"
Fenrir langsung serius.
[Fenrir: Aku merasakannya.]
Arka membuka peta sistem.
Titik merah muncul tepat di bawah pusat kota.
[SEGEL PERTAMA]
Jarak: 4,7 km
Kedalaman: ???
Status: Aktif
Penjaga: ???
Arka mengerutkan kening.
"Jadi kita harus masuk ke bawah kota."
[Fenrir: Ya.]
Arka mengangguk.
"Kalau begitu kita cari tempat tinggal dulu."
Mereka berjalan menyusuri jalan utama.
Namun tiba-tiba—
BRUUUK!
Seseorang menabrak Arka.
Tasnya hampir terjatuh.
"Hei!"
Arka berbalik.
Seorang gadis berdiri di depannya.
Usianya sekitar tujuh belas tahun.
Rambut panjang berwarna cokelat muda.
Mengenakan mantel biru dan sarung tangan kulit.
Di sampingnya berdiri seekor monster berbentuk rubah kecil dengan tiga ekor.
Gadis itu terlihat kesal.
"Jangan menghalangi jalan."
Arka mengerutkan kening.
"Justru kau yang menabrakku."
Gadis itu terdiam.
Kemudian melihat Arka dari atas sampai bawah.
"Pakaian desa?"
Arka mengangguk.
"Ya."
Dia tertawa kecil.
"Kau pendatang."
"Memangnya kenapa?"
Gadis itu tidak menjawab.
Monster rubah di sampingnya tiba-tiba mendekati tas Arka.
Fenrir langsung terbangun.
[Fenrir: Master.]
"Apa?"
[Fenrir: Dia bisa menciumku.]
Arka langsung tegang.
Monster rubah tersebut mengendus tas.
Kemudian—
GRAAA!
Rubah itu tiba-tiba menggeram.
Gadis tersebut terkejut.
"Fen?"
Arka langsung memeluk tasnya.
"Dia cuma lapar."
Gadis itu mengerutkan kening.
"Monster milikmu?"
Arka membeku.
"Aku..."
Sistem langsung berbunyi.
[Misi Sampingan Tersedia.]
[Sembunyikan Identitas Fenrir.]
Hadiah: 200 EXP
Arka tersenyum.
"Ya."
Gadis itu memperhatikan tas Arka.
"Kalau begitu keluarkan."
"Apa?"
"Monster-mu."
Arka langsung berkeringat.
"Dia sedang tidur."
Gadis itu mendekat.
"Aku penasaran monster apa yang bisa membuat rubahku gelisah."
Arka mundur.
"Jangan."
Gadis itu semakin mendekat.
"Kenapa?"
Arka tidak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba—
WUSSSHH!
Angin kencang menerpa jalan.
Seekor naga kecil terbang melintasi langit.
Semua orang menoleh.
Gadis itu ikut melihat ke atas.
Arka menggunakan kesempatan tersebut.
Dia langsung berlari.
"Permisi!"
Gadis itu terkejut.
"Hei!"
Arka berlari secepat mungkin.
[Fenrir: Master.]
"Apa?"
[Fenrir: Kau kabur.]
"Tentu saja!"
[Fenrir: Memalukan.]
"Daripada identitasmu terbongkar!"
Arka terus berlari sampai masuk ke sebuah gang.
Ia berhenti.
Napasnya tersengal.
"Untung..."
Namun—
DING!
[Misi Sampingan selesai.]
[Hadiah: 200 EXP]
[EXP: 200/100]
Arka terkejut.
"Eh?"
Layar berubah.
[Level Up!]
LEVEL 2
HP meningkat.
Energi Jiwa meningkat.
Statistik meningkat.
Arka mengepalkan tangan.
"Level dua!"
Kemudian sistem menampilkan status barunya.
[STATUS ARKA]
Level: 2
HP: 120
Energi Jiwa: 25
Kekuatan: 8
Kelincahan: 8
Pertahanan: 7
Keberuntungan: 4
Skill:
[Penjinakan Monster Lv.1]
[Analisis Monster Lv.1]
[Ruang Kontrak Lv.1]
[Komunikasi Jiwa Lv.1]
Skill Baru:
[Aura Penjinak Lv.1]
Arka tersenyum.
"Akhirnya."
Ia membuka deskripsi skill.
[Aura Penjinak Lv.1]
Meningkatkan kemampuan komunikasi dan stabilitas kontrak dengan monster.
Efek tambahan: Monster liar dengan level rendah memiliki kemungkinan menghindari pengguna.
Arka mengangguk.
"Lumayan."
Fenrir keluar dari tas.
[Fenrir: Aku ingin keluar dari tas selamanya.]
Arka menatapnya.
"Kita belum aman."
Fenrir menguap.
[Fenrir: Aku lapar.]
"Kau memang cuma bisa makan."
[Fenrir: Aku sedang tumbuh.]
Arka tertawa.
"Baiklah."
Mereka keluar dari gang.
Namun Arka tidak menyadari...
gadis tadi sedang berdiri di atas bangunan.
Dia menatap ke arah gang.
Monster rubah tiga ekor di sampingnya terus menggeram.
Gadis itu menyipitkan mata.
"Monster di tas pemuda itu..."
Rubah tersebut mengeluarkan suara rendah.
Grrrr...
Gadis itu tersenyum.
"Menarik."
GUILD PENJINAK MONSTER
Satu jam kemudian, Arka tiba di sebuah bangunan besar.
Di atas pintunya terdapat lambang kepala naga.
VALDRIS TAMER GUILD.
Arka masuk.
Suasana di dalam sangat ramai.
Para penjinak duduk sambil membicarakan monster.
Beberapa membawa senjata.
Beberapa lainnya memeriksa misi di papan besar.
Arka berjalan menuju meja pendaftaran.
Seorang wanita berambut pirang menyambutnya.
"Selamat datang."
Arka mengangguk.
"Aku ingin mendaftar sebagai Penjinak Monster."
Wanita itu tersenyum.
"Baik. Tunjukkan lambang Jiwa Penjinakmu."
Arka terdiam.
"Aku..."
Wanita itu menunggu.
Arka mengeluarkan kartu status lamanya.
"Aku belum pernah membangkitkan Jiwa Penjinak."
Wanita itu terkejut.
"Kalau begitu kau bukan penjinak."
Arka mengepalkan tangan.
"Belum."
Wanita itu tersenyum tipis.
"Kalau begitu kau harus mengikuti ujian."
"Ujian?"
"Ya."
Dia menunjuk sebuah ruangan.
"Tes pertama adalah mengukur energi jiwa."
Arka masuk.
Sebuah kristal besar berada di tengah ruangan.
Dia meletakkan tangannya di atas kristal.
BZZZT!
Kristal menyala.
Angka muncul.
25
Beberapa orang yang melihat langsung tertawa.
"25?"
"Rendah sekali."
"Dia mau jadi penjinak?"
Arka menahan emosi.
Petugas guild tetap profesional.
"Tes kedua."
Pintu terbuka.
Seekor monster kecil dibawa masuk.
Monster itu seperti kadal bertanduk.
[Horn Lizard]
Level: 3
Petugas berkata,
"Sentuh monster itu."
Arka mengangguk.
Ia mendekat.
Horn Lizard menggeram.
Namun ketika Arka mengaktifkan—
[Aura Penjinak]
Monster itu langsung tenang.
Semua orang terdiam.
Horn Lizard bahkan mendekati Arka.
Petugas guild membelalakkan mata.
"Ini..."
Arka tersenyum.
"Apakah itu berarti aku lulus?"
Petugas belum menjawab.
Tiba-tiba—
BOOM!
Pintu guild terbuka.
Suara gaduh terdengar dari luar.
Seseorang berteriak.
"Monster mengamuk!"
Semua penjinak berdiri.
"Apa?"
"Di pasar!"
"Monster kelas C lepas!"
Orang-orang langsung berlari keluar.
Arka ikut keluar.
Di jalan utama, seekor monster berbentuk banteng raksasa sedang mengamuk.
[ANALISIS]
Nama: Iron Horn Bull
Level: 15
Status: Mengamuk
Penyebab: ???
Monster itu menghantam kereta.
BRAK!
Orang-orang berteriak.
Para penjinak mencoba menghentikannya.
Namun monster tersebut terlalu kuat.
Arka melihat seorang anak kecil terjatuh di tengah jalan.
Iron Horn Bull berlari ke arahnya.
"Bahaya!"
Arka langsung berlari.
"Fenrir!"
Fenrir melompat keluar dari tas.
Tubuhnya masih kecil.
Namun matanya berubah merah.
GRAAAAH!
Aura Raja Monster meledak.
Iron Horn Bull berhenti.
Tubuhnya gemetar.
Arka berlari mengambil anak tersebut.
"Jangan takut!"
Ia membawa anak itu ke tempat aman.
Namun Iron Horn Bull tiba-tiba kembali mengamuk.
Fenrir berdiri di depan Arka.
[Fenrir: Master.]
"Aku tahu."
Arka mengangkat tangan.
[Analisis Monster]
Informasi muncul.
[Status Mental: Panik]
[Kontrol eksternal terdeteksi.]
Arka terkejut.
"Kontrol eksternal?"
Dia melihat leher Iron Horn Bull.
Sebuah gelang hitam terpasang di sana.
Arka menyadari sesuatu.
"Seseorang mengendalikan monster ini."
Fenrir menggeram.
[Fenrir: Ya.]
Arka menunjuk gelang itu.
"Kalau begitu hancurkan!"
Fenrir melesat.
BOOM!
Iron Horn Bull menyerang.
Fenrir menghindar.
Kemudian—
CRAAACK!
Gelang hitam hancur.
Iron Horn Bull langsung tenang.
Monster itu menatap Arka.
Kemudian berbalik dan melarikan diri.
Semua orang terdiam.
Seorang pria dari guild berkata,
"Siapa pemuda itu?"
Yang lain menjawab,
"Dia pendatang."
Di antara kerumunan...
gadis yang tadi ditemui Arka berdiri diam.
Matanya tertuju pada Fenrir.
"Jadi..."
Ia tersenyum.
"Monster di tasnya ternyata seperti itu."
Fenrir menoleh.
Mata merahnya bertemu dengan mata gadis tersebut.
Untuk beberapa detik...
keduanya saling menatap.
Gadis itu berbisik.
"Monster Legendaris..."
Fenrir langsung menggeram.
Arka membeku.
"Dia tahu?"
Gadis itu berjalan mendekat.
Arka bersiap.
Namun gadis itu justru mengulurkan tangannya.
"Namaku Liora."
Arka menatap tangannya.
"Liora?"
Liora tersenyum.
"Dan aku tahu apa yang kau sembunyikan."
Suasana seolah berhenti.
Arka mengepalkan tangan.
"Apa maksudmu?"
Liora menatap tasnya.
"Aku tahu monster di dalam tasmu bukan monster biasa."
Fenrir keluar perlahan.
Mata merahnya menatap Liora.
Liora tidak mundur.
Justru monster rubah tiga ekor miliknya maju.
Keduanya saling menatap.
Kemudian—
DING!
Sistem Arka berbunyi.
[Monster langka terdeteksi.]
[ANALISIS]
Nama: Liora
Monster: Kitsune Tiga Ekor
Level: 12
Kualitas: EPIC
Potensi Evolusi: ???
Arka terkejut.
Namun sebelum dia berkata apa-apa...
Liora mendekat dan berbisik.
"Aku tidak akan membocorkan rahasiamu."
Arka menatapnya curiga.
"Kenapa?"
Liora tersenyum.
"Karena aku juga sedang mencari sesuatu."
"Apa?"
Liora mengeluarkan sebuah pecahan kristal merah dari sakunya.
Begitu kristal itu muncul...
Fenrir langsung berdiri.
Aura merah keluar dari tubuhnya.
Arka terkejut.
"Fenrir?"
Liora menatap kristal tersebut.
"Ini alasan aku datang ke Valdris."
Sistem tiba-tiba berbunyi keras.
[DING! DING! DING!]
[Fragmen Segel Kuno terdeteksi.]
[Kecocokan dengan Segel Pertama: 31%.]
Arka membelalakkan mata.
Liora menatapnya.
"Kau juga mencarinya, bukan?"
Arka tidak menjawab.
Fenrir menatap pecahan kristal tersebut.
[Fenrir: Itu bagian dari segel.]
Arka akhirnya mengangguk.
"Ya."
Liora tersenyum.
"Kalau begitu..."
Ia mengulurkan tangan.
"Sepertinya tujuan kita sama."
Arka menatap tangannya.
Di belakang mereka, lonceng kota tiba-tiba berbunyi.
DONG!
DONG!
DONG!
Semua orang di jalan berhenti.
Kemudian suara penjaga kota terdengar dari menara.
"PERHATIAN!"
"MONSTER BESAR TERDETEKSI DI BAWAH KOTA!"
Arka dan Liora saling menatap.
Fenrir langsung menggeram.
Sistem muncul.
[PERINGATAN!]
[Segel Pertama mengalami kerusakan.]
[Stabilitas Segel: 78% → 62%]
[Monster Penjaga Segel telah terbangun.]
Arka mengepalkan tangan.
"Sepertinya..."
Liora tersenyum tegang.
"...kita terlambat."
Dari bawah tanah Kota Valdris...
terdengar suara raungan yang mengguncang seluruh kota.
GRAAAAAAAAAAAAAAAAH!
Tanah mulai retak.
Bangunan berguncang.
Dan jauh di bawah mereka...
sebuah mata raksasa perlahan terbuka.
BERSAMBUNG — BAB 5: MONSTER DI BAWAH KOTA VALDRIS