Chapter 3 of 8

Chapter 3: Harga yang Harus Dibayar Setiap Hari

1.2k words

Udara dingin menusuk kulit, namun kehangatan luar biasa mengalir di dalam dada Rian.\n\nKelopak matanya terbuka perlahan, menyambut cahaya pagi yang menerobos celah gorden kamarnya yang tipis.\n\nPerlahan, ia bangkit dari tempat tidur tanpa merasakan pegal atau lelah sedikit pun pada persendiannya, melainkan rasa bugar yang sangat meluap-luap seakan ia baru saja mendapatkan transfusi kehidupan baru dari malam yang panjang.\n\nOtot-otot di tubuhnya terasa lebih padat, seolah dialiri energi murni yang tidak pernah ia miliki sebelumnya sepanjang hidupnya yang penuh dengan kelemahan fisik.\n\nCermin di sudut kamar merefleksikan sosok yang hampir tidak ia kenali sebagai dirinya yang lama yang selalu tampak lesu dan kurang percaya diri di hadapan orang lain.\n\nWajahnya tampak lebih segar, garis rahangnya lebih tegas, dan tatapan matanya memancarkan daya pikat yang sangat berbahaya yang sanggup meluluhkan hati wanita tercantik sekalipun.\n\n"Luar biasa," gumam Rian sambil meraba perutnya yang kini memiliki lekukan six-pack sempurna dan keras.\n\nDetak jantungnya berdegup kencang karena rasa tidak percaya yang bercampur dengan kepuasan instan yang meluap-luap.\n\nKulitnya tampak bersih tanpa cela, memancarkan aura sehat yang sangat memikat bagi siapa saja yang melihatnya.\n\nSesuatu yang hangat berpusat di bagian bawah perutnya, tempat senjata rahasia yang diberikan oleh sistem kini bersemayam dengan kekuatan penuh.\n\nNapas yang ia embuskan terasa lebih mantap, mencerminkan stamina prima yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.\n\nRasa dingin mencekam tiba-tiba menyerang tengkuknya saat sebuah kilatan cahaya merah menyala di udara kamar yang remang-remang.\n\n[00:23:59:59]\n\nAngka merah darah itu melayang tepat di depan wajahnya, berkedip pelan seiring detak jantungnya yang mendadak melambat.\n\nSuara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema langsung di dalam kepalanya, memutus segala fantasi indahnya.\n\n"Peringatan: Batas waktu pengisian energi gairah harian telah dimulai. Kegagalan memenuhi kuota harian akan mengakibatkan kematian instan."\n\nUmpatan kasar lolos begitu saja dari bibir Rian saat ia menatap angka yang terus berkurang detik demi detik tanpa henti.\n\nNapasnya memburu seketika, menghancurkan segala rasa percaya diri yang baru saja ia rasakan dari perubahan fisiknya yang menakjubkan.\n\nSebuah ilustrasi hologram organ jantung manusia muncul di bawah angka countdown tersebut, berdenyut dengan warna merah redup.\n\nAkar hitam berduri tampak melilit jantung virtual itu, perlahan-lahan meremasnya setiap kali waktu terus berjalan mundur.\n\nSensasi sesak yang sangat nyata langsung mencengkeram dada Rian, membuatnya terengah-engah dan terpaksa berlutut di lantai yang dingin.\n\nKetakutan akan kematian mendadak kembali mencengkeram jiwanya dengan sangat erat, meremukkan sisa-sisa kegembiraannya.\n\nHidupnya kini bukan lagi tentang kebebasan, melainkan sebuah perburuan tiada akhir demi mempertahankan napas dari hari ke hari.\n\nPikiran Rian langsung melayang pada kenyataan pahit bahwa ia harus mencari mangsa baru setiap kali matahari terbit.\n\nIngatan kelam masa lalu langsung menyergap pikirannya bagai hantaman palu godam yang sangat berat.\n\nClarissa, perempuan yang pernah ia puja dengan seluruh jiwa dan raganya, melintas di benaknya dengan senyum meremehkan yang khas.\n\n"Kamu tidak akan pernah cukup untukku, Rian. Kamu lemah, tidak berguna, dan bahkan tidak bisa membuatku merasakan apa-apa di atas ranjang," suara Clarissa terdengar begitu nyata di telinganya.\n\nBisikan penuh hinaan itu diucapkan di depan teman-teman kampusnya tiga tahun lalu, meremukkan harga diri Rian hingga tidak bersisa sama sekali.\n\nMalam badai itu, Rian berdiri di tengah pesta ulang tahun Clarissa dengan sebuah kotak cincin perak murah di tangannya yang gemetar.\n\nRencana lamaran sederhananya hancur berantakan saat ia mendapati Clarissa sedang bergelayut manja di pangkuan Bram, mahasiswa kaya raya yang terkenal angkuh.\n\nBukannya merasa bersalah atau malu, Clarissa justru tertawa keras bersama teman-temannya saat melihat kehadiran Rian yang menyedihkan.\n\nMereka menertawakan pakaian Rian yang basah kuyup karena hujan, pekerjaannya yang hanya sebagai pelayan toko paruh waktu, dan kemampuan seksualnya yang dianggap sampah.\n\nBram bahkan melemparkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke wajah Rian, menyuruhnya membeli obat kuat agar tidak memalukan sebagai pria.\n\nRasa malu, kemarahan, dan keputusasaan malam itu telah mengubah Rian menjadi sosok yang selalu menyembunyikan luka di balik topeng keceriaan.\n\nKepalan tangannya mengencang hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang membakar dada dan membuat napasnya terasa panas.\n\nAir mata tidak akan pernah jatuh lagi untuk wanita mana pun yang memandangnya rendah atau mencoba menginjak-injak harga dirinya.\n\nKini semuanya telah berubah, dan ia memiliki senjata pemikat mutlak yang diberikan oleh Sistem Eksibionis untuk menaklukkan dunia.\n\n"Aku tidak akan pernah membiarkan diriku menjadi lemah lagi. Aku tidak akan pernah merangkak di bawah kaki siapa pun," bisik Rian dengan nada dingin yang sarat akan dendam.\n\nSorot matanya memancarkan tekad yang gelap, dipicu oleh ketakutan akan kematian dan ambisi untuk membalas dendam pada dunia yang pernah menghancurkannya.\n\nBerdiri tegak di tengah kamar, ia mengembuskan napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang sempat tidak beraturan akibat kepanikan.\n\nKeheningan kamar apartemennya terasa begitu pekat, menyadarkannya bahwa ia benar-benar harus bergerak cepat hari ini demi bertahan hidup.\n\nRanjang yang berantakan di sudut ruangan menjadi saksi bisu atas pertempuran gairah tadi malam bersama Sarah, sekretaris bosnya yang angkuh itu.\n\nTanda cambuk hitam misterius yang mengikat pergelangan tangan Sarah kemarin malam masih membekas di ingatannya dengan sangat jelas dan nyata.\n\nUkiran kata 'Budak Energi Tingkat 1' yang terpatri di kulit sekretaris cantik itu membuktikan bahwa sistem ini memiliki kendali mutlak atas korbannya yang telah ditaklukkan.\n\nApakah Sarah sudah pergi sejak subuh? Rian melangkah mendekati tempat tidur dan menemukan selembar kertas kecil di atas bantal yang masih acak-acakan.\n\nSambil memegang kertas itu, ia membaca tulisan tangan Sarah yang rapi: 'Aku harus segera kembali ke kantor untuk merapikan berkas pertemuan kemarin. Hubungi aku nanti'.\n\nAroma parfum vanila dan kulit yang mahal milik Sarah masih tertinggal di bantal, memicu sedikit gairah yang menggelitik di dalam diri Rian.\n\nLayar hologram biru tiba-tiba muncul di samping kertas itu, menampilkan detail informasi baru yang langsung menarik perhatiannya.\n\n"Catatan Sistem: Menyerap energi dari target yang sama secara berturut-turut akan mengurangi perolehan energi sebesar 50%. Pengguna disarankan untuk mencari target baru demi efisiensi maksimal."\n\nPemberitahuan itu membuat Rian mendengus kasar karena menyadari bahwa ia tidak bisa hanya mengandalkan Sarah untuk bertahan hidup selamanya.\n\nDunia luar kini menjadi medan perburuannya, dan setiap wanita cantik yang ia temui adalah mangsa potensial yang harus ia taklukkan dengan pesonanya.\n\nRian segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mempersiapkan strateginya hari ini dengan sangat matang.\n\nKucuran air hangat membasahi tubuh barunya, membantu meredakan ketegangan saraf-sarafnya yang menegang akibat ancaman kematian yang terus mengintai.\n\nSambil membasuh wajahnya, ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berembun, meyakinkan diri bahwa ia adalah pemegang kendali sekarang.\n\nAliran air hangat mengalir lambat di sepanjang rahang tegasnya, menetes ke dada bidang yang kini dipenuhi kekuatan fisik yang luar biasa.\n\nSetelah selesai berpakaian dengan kaos hitam ketat yang menonjolkan dada bidangnya dan celana jins gelap, ia memeriksa sisa waktunya di udara.\n\nDetik demi detik terus berkurang tanpa henti: [00:22:15:34].\n\nLangkah kakinya membawa Rian kembali ke ruang tengah, memikirkan ke mana ia harus pergi hari ini untuk mencari target berikutnya.\n\nBeberapa nama rekan kerja dan kenalan wanita di kampusnya mulai bermunculan di kepalanya, namun ia membutuhkan seseorang yang memiliki energi gairah tinggi agar sistemnya cepat terisi.\n\nPikiran Rian melayang pada sosok dosen mudanya yang cantik dan terkenal dingin, atau mungkin barista seksi di kafe seberang jalan yang sering meliriknya.\n\nSetiap detik sangat berharga, dan ia tidak boleh membuang-buang waktu dengan keraguan yang hanya akan membawanya menuju liang kubur.\n\nDetak jam dinding seolah berpacu dengan kepalanya yang terus berputar menyusun rencana.\n\nSuara ketukan keras tiba-tiba membuyarkan lamunan Rian tentang rencana perburuannya yang baru saja ia susun di dalam kepala.\n\nHantaman keras pada pintu kayu apartemennya terdengar begitu tidak sabar, kasar, dan menuntut untuk segera dibuka tanpa penundaan sedikit pun.\n\nLangkah kakinya terhenti sejenak, sementara dadanya kembali berdegup kencang oleh firasat buruk yang mendadak muncul dari lubuk hatinya.\n\nGagang pintu logam yang dingin ia genggam erat sebelum memutarnya perlahan untuk melihat siapa yang berani mengganggunya sepagi ini.\n\nPintu apartemen Rian diketuk dengan kasar, dan saat ia membukanya, sesosok polisi wanita menatapnya dengan tatapan penuh selidik dan memegang foto Sarah.

End of Chapter 3

Chapter 3: Chapter 3: Harga yang Harus Dibayar Setiap Hari - Sistem Eksibionis | Novel AI Studio